Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
131. Belum Usai


__ADS_3

Aleesa langsung menggeplak kepala si kerdil hingga dia tersungkur.


"Parah nih!" omel Aleesa. "Setan mah tetap aja ya menjerumuskan," lanjutnya lagi. Iyan malah tertawa melihat reaksi Aleesa.


"Aku cuma ngasih ide cemerlang." Si kerdil masih berani menimpali.


"Cemerlang menurut otak pencuri kaya kamu sama si bedul." Aleesa terus mengoceh. "Mending kamu sama si bedul kerja sama deh. Curi uang para koruptor atau mafia penggelapan dana masyarakat."


Si kerdil menggaruk kepalanya yang botak. Dia tidak mengerti dengan apa yang Aleesa katakan. Koruptor? Sejenis makhluk apa?


"Percuma kamu ngomong begitu," sanggah Iyan yang sudah mulai berdiri. "Otaknya cuma sebesar biji jagung."


Aleesa tertawa puas mendengar ucapan sang paman. Sedangkan si kerdil sudah menekuk wajahnya. Terlihat amat menjijikan dan sangat jelek sekali.


Aleesa masih berdiam di kamar Iyan dan sekarang sudah naik ke atas tempat tidur. Dia menunggu Iyan selesai mandi.


Aroma mint tercium di hidungnya. Aleesa terpana melihat Iyan berambut basah. Sungguh sangat tampan sekali. Pantas saja si lebah resek tergila-gila padanya.


"Kenapa?" Iyan melempar handuknya ke arah wajah Aleesa hingga keponakannya itu mendngkus kesal. Dia ikut naik ke tempat tidur dan meraih ponselnya. Aleesa malah merangkul lengan Iyan.


"Belajar dulu yang benar," ucap Iyan. Dia tahu apa yang dipikirkan oleh Aleesa.


"Kalau si Sensen pindah agama, Baba dan Bubu akan ngerestuin gak?"

__ADS_1


Iyan memicingkan matanya dan menatap tajam ke arah Aleesa. Gadis itupun terlihat takut.


"Jangan pernah memaksa seseorang untuk mengikuti imanmu." Perkataan yang sangat ketus. "Nyaman, tapi lain iman apa masih bisa disatukan?"


.


Dua Minggu sudah Iyan dan Beeya menjalani long distance relationship. Mereka berdua hanya bisa bertemu lewat sambungan video. Tanpa bisa menyentuh satu sama lain.


"I Miss you so much," erangnya.


Beeya meletakkan dagunya di meja kerja sang bu'de. Padahal ada Arina, tapi dia tidak sungkan atau malu megucapkan kalimat itu.


🎶


Yang sering memisahkan kita


Hingga aku hanya bisa


Berbincang denganmu di whatsap


"Bu'de, ganti lagunya," rengek Beeya. Arina malah tertawa. Dia sengaja mengejek Beeya dengan lagu Fiersa Besari yang berjudul Celengan Rindu.


"Baru juga dua Minggu," ucap Arina.

__ADS_1


"Berasa dua tahun, Bu'de," sahutnga lemas. "Iyan itu semakin hari semakin tampan, apalagi pakai pakaian kantoran. Bee 'kan jadinya takut," keluhnya.


Arina tersenyum mendengarnya. Ternyata keponakannya ini sangatlah serius kepada Iyan. Dia juga sudah tidak menggubris Kenzo yang semakin hari semakin gencar mendekatinya. Sudah berani pula datang ke rumahnya.


Sebenarnya Beeya risih, tapi Kenzo pintar. Selalu beralasan jika ingin bertemu sang Tante dan membahas pekerjaan dengannya. Seperti malam ini, bel rumah terdengar dan hanya ada Beeya juga sang Tante di rumah. Langkah malasnya membawanya menuju pintu depan rumah. Ketika dia membuka pintu rumah, seorang pria dengan senyum menawan ada di depannya. Dia juga membawa martabak manis kesukaan Beeya.


"Saya panggilkan Bu'de dulu." Cara bicara Beeya sangatlah ketus.


Baru saja Beeya membalikkan tubuhnya, tangannya Kenzo raih dan sontak Beeya menghentikan langkahnya.


"Aku mau bertemu dengan kamu, Bee."


Dada Beeya pun berdegup sangat cepat. Apalagi tangan Kenzo ymcukup erat memegang tangannya.


"Saya sibuk," elak Beeya. Dia mencoba untuk melepaskan genggaman tangan Kenzo. Namun, Kenzo semakin erat menahannya.


"Masa lalu kita belum usai, Bee." Mata Beeya melebar. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Pada akhirnya dia membalikkan tubuhnya.


"Aku masih mencintai kamu, Bee." Bertepatan dengan perkataan itu seseorang sudah mematung di depan pagar dan membuat mata Beeya melebar.


...****************...


Boleh minta komennya gak?

__ADS_1


Sepi bener ...


__ADS_2