
Ketika pagi hari Beeya tersenyum melihat sang suami. Bibirnya masih menempel di gunung Putri miliknya. Iyan sama sekali tidak melepaskannya. Beeya mulai menarik gunung putrinya dari mulut Iyan. Namun, Iyan malah menariknya lagi dan membuat Beeya mengaduh kesakitan. Iyan pun mulai membuka matanya dan terlihat sang istri menatap tajam ke arahnya.
"Sakit!"
"Jangan ditarik. Lagi enak, Chagiya." Iyan malah memeluk tubuh Beeya dan semakin menenggelamkan wajahnya di dada putih milik sang istri.
"Ayang gak capek apa? Itu 'kan gak keluar apa-apa."
Iyan pun menoleh ke arah sang istri. Matanya sayu dan terlihat masih mengangtuk.
"Tapi, enak, Chagiya."
Sekarang, Beeya merasakan hiesapan yang berbeda. Desiran darah mengalir hangat di tubuhnya ketika Iyan mulai menyentuh gunung putri dengan begituu lembut. Mengecupnya hingga meninggalakan bekas.
"Sshh!!"
Suara seksi itu terdengar lagi. Iyan terus mempermainkan Beeya. Mengecup kulit yang berwarna putih. Sesekali dia menjielatie kulit yang terasa seperti susu.
Beeya seperti tersengat aliran listrik. Tubuhnya meliuk-liuk seperti ular cobra. Dia pun tidak tahan.
"Aduh, Yang." Iyan menatap wajah istrinya ya g terlihat lebih cantik jika seperti ini.
"Mau yang di mana lagi?" tanya Iyan.
__ADS_1
"Coecoe. Syedot, Yang. Syedot!!"
Sungguh istrinya begitu liar. Iyan pun sudah tidak tahan. Ada yang mengganjal di bawah sana meminta untuk keluar kandang.
"Minin lidahnya, Yang. Mainin."
Disentoeh di bagian ini saja Beeya sudah kelojotan. Bagaimana jika di sentuh di tempat yang lain..Napasnya terengah-engah menandakan ada yang sudah mengalir dari bawah.
"Enak?" Beeya pun mengangguk.
Iyan mengecup bibir Beeya dengan singkat. Kemudian merebahkan kepalanya kembali di samping Beeya.
"Kok bisa sih Yang cuma begitu doang malah enak banget." Beeya menatap ke arah sang suami.
"Itu namanya liebiydoo kamu lagi naik." Beeya mengangguk.
"Boleh gak aku kenakan sama--"
Dahi Iyan mengkerut. Dia sudah menatap tajam ke arah istrinya.
"Bukan cowok," balas Beeya.
"Lalu?" tanya Iyan.
__ADS_1
Tangan Beeya sudah menyentuh sesuatu yang ada di balik celana. Mengusap lembut ular berkepala jamur itu. Kini Iyan mendesis.
"Buka aja." Beeya pun bangkit dari duduknya. Dia sudah berada di depan Iyan, dengan teramat pelan dia membuka celana Iyan dan terpampang nyata sesuatu yang sudah mengeras dan hangat.
"Duhh!!" Beeya pun tertawa.
"Aku buka, ya." Iyan pun mengangguk. Sangkar yang berada di dalam pun dibuka dan kini menjulanh bagai antena.
"Ya ampun, Yang. Gede banget. Mana mengkilap lagi." Mata Beeya berbinar. Tangannya tanpa jijik sudah memegang adik dari Iyan tersebut.
"Sshh!! Chagiya!!"
Beeya malah sudah menjulurkam lidahnya dan mencoba menikmatinya. Mata Beeya melebar. Ternyata enak juga. Dia semakin bersemangat dan semakin memainkannya denba. begitu lembut. Iyan terlihat seksi ketika mendesis bagai ular.
"Gimana, Yang?"
"Enak banget."
Beeya pun tersenyum. Dia mulai memainkan buah khuldi dan membuat Iyan semakin mengerang tak karuhan.
"Koocoook, Chagiya." Namun, Beeya enggan. malah dia senang bermaian dengan ular berkepala tumpul.
"Jangan Ayang. Nanti kamu encroot." Beeya pun sangat senang melakukannya. Sepertinya ini akan menjadi kesenangan untuknya.
__ADS_1
"Ayang, kepala jamurnya enak banget?" Beeya terus memainkannya.
Dia bagai tengah memakan es krim yang begitu nikmat. Sedangkan Iyan sudah merasakan kegelian yang memabukkan.