Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
39. Ungkapan


__ADS_3

"Chagiya." (Sayang)


Dahi Beeya mengkerut mendengar ucapan dari Iyan. Sedangkan pemuda itu sudah tersenyum ke arah Beeya dan menggenggam erat tangan wanita yang sedang berbaring di ranjang pesakitan.


"Aku sangat khawatir." Begitulah katanya.


Namun, wajah Beeya nampak datar. Tak merespon apapun.


"Hei, kenapa?" Tangan Iyan sudah mengusap lembut rambut Beeya.


"Kenapa ke sini? Bukankah ada wanita yang lebih membutuhkanmu?"


Tiga perempuan dewasa di belakang dua insan manusia itu mengulum senyum. Ada sinyal bagus di antara Iyan dan Beeya.


"Siapa?" Beeya hanya menggedikkan bahu. Wajahnya pun dia palingkan.


"Cemburu?" goda Iyan.


"Enggak," ketusnya.


Iyan malah terbahak dan dia mencubit gemas pipi tirus Beeya.


"Aku udah bebas loh. Apa kamu gak kangen sama aku?"


Rindu, tidak dipungkiri Beeya merindukan sosok pria yang tengah berada di sampingnya. Dia merindukan kehangatan pelukan Iyan. Merindukan perkataan Iyan yang selalu menenangkan hatinya. Ya, dia merindukan pria itu.


Beeya menatap nanar ke arah Iyan. Begitu juga Iyan yang menatap penuh rindu ke arah Beeya. Mata mereka saling beradu. Nektra mereka seakan tengah melepas rindu.


"I miss you." Iyan memeluk tubuh Beeya dan tak terasa bulir bening membasahi pipi Beeya.


"Jangan pernah masuk ke dalam tempat itu lagi. Aku gak mau kamu jadi tahanan."


Iyan hanya mengangguk. "Aku janji, aku gak akan buat kamu sedih lagi."


Tangan Beeya membalas pelukan Iyan dengan sangat erat. Terlihat betapa mereka saling menyayangi dan tak bisa dipisahkan oleh apapun.


"Iyan, makan dulu gih. Tadi Mamah pesan makanan cukup banyak."


Iyan mengurai pelukannya dan tersenyum ke arah Beby. "Makasih, Mah, tapi Iyan belum lapar." Tangannya masih menggenggam erat tangan Beeya.


Tak ada obrolan dari dua manusia itu. Iyan hanya menatap Beeya dengan tangannya yang mengusap lembut rambut Beeya. Sedangkan wanita itu hanya menatap wajah Iyan dengan intens.

__ADS_1


"Tadi kamu bilang apa?" Beeya membuka suara.


"Bilang apa?" ulangnya. Beeya pun mengangguk. Iyan malah sedang berpikir keras, apa yang sudah dia katakan. Dia benar-benar lupa.


Lama Iyan berpikir, akhirnya dia ingat sesuatu. "Oh, chagiya." Beeya pun mengangguk.


"Bukankah kamu tahu artinya?" Tangan Iyan masih mengusap lembut rambut Beeya.


"Sayang."


"Jadi?" tanya Iyan.


Beeya hanya menggeleng. Tangannya sudah menggenggam tangan Iyan yang ada di atas kepalanya.


"Aku masih trauma." Beeya terlihat mengatakan apa yang dia rasakan sesungguhnya.


"Aku tidak akan memaksa. Aku akan menunggu sampai kamu siap jadi pacar aku."


Ungkapan yang tidak bertele-tele. Semuanya Iyan ungkapkan dengan begitu lantang.


"Aku juga akan terus berada di samping kamu. Menemani kamu hingga kamu benar-benar sembuh."


Selama dirawat di rumah sakit, Iyan terus mendampingi Beeya. Dia memilih tinggal di sana dan menyuruh kedua orang tua Beeya untuk pulang. Seperti malam ini, kondisi Beeya sudah mulai membaik dan besok sudah diperbolehkan pulang. Jarum infus pun sudah dilepas.


"Mau makan apa?" Iyan menghampiri Beeya yang tengah terduduk di samping ranjang pesakitan. Namun, Beeya hanya menggeleng.


"Kenapa sih?" tanya Iyan.


"Apa orang-orang yang bekerja sama dengan Raffa ikut diciduk juga?" Masih ada ketakutan di dalam diri Beeya.


"Kenapa harus memikirkan itu? Fokus pada kesembuhan kamu," omel Iyan. Dia sangat tidak suka mendengar nama Raffa disebut oleh Beeya.


"Aku hanya ingin tahu," lirih Beeya.


Iyan beranjak dari sana tanpa satu katapun. Beeya tersentak ketika Iyan terlihat dingin.


"Yan," panggil Beeya. Namun, Iyan terus melangkah. Beeya sungguh sangat merasa bersalah dan dia ingin mengejar Iyan. Naasnya, ketika dia hendak turun dari pinggir tempat tidur dia terpeleset dan tersungkur hingga menimbulkan suara.


Iyan yang hendak membuka pintu pun segera menoleh ke arah belakang. Dia segera berlari menghampiri Beeya. Dia menyentuh kaki Beeya dan jeritan lah yang Iyan terima.


Iyan segera membawa Beeya ke atas ranjang pesakitan. Mencoba memijat kaki Beeya, tetapi Beeya mengerang kesakitan.

__ADS_1


"Tahan, ya." Tangan Iyan seperti tukang pijat. Awalnya sakit lama kelamaan sakitnya sedikit mereda.


Hanya keheningan yang tercipta. Iyan terus memijat kaki Beeya tanpa sepatah katapun. Beeya pun hanya diam dan memandangi wajah Iyan yang sangat serius.


"Udah." Iyan beranjak dari duduknya dan akan mencuci tangan. Dia tidak berbicara apa-apa lagi. Wajahnya pun terlihat datar.


Beeya terus memandangi pintu kamar mandi yang masih tertutup. Iyan benar-benar merajuk karena mendengar Beeya menanyakan perihal Raffa.


Pintu kamar mandi pun terbuka. Iyan sama sekali tidak menoleh kepada Beeya. Dia seolah acuh dan duduk di sofa dengan gadget di tangannya. Beginilah jika Iyan marah. Dia tidak akan peduli dengan orang di sekelilingnya.


"Yan," panggil Beeya.


Tidak ada jawaban dari Iyan. Beeya yang ingin turun dari tempat tidur pun tak berani. Takut kakinya yang terkilir malah semakin parah.


"Kamu marah?" Iyan pun masih diam dan masih setia memandangi layar ponselnya dengan tangan yang terus bergerak lincah.


Beeya menghembuskan napas kasar. Marahnya Iyan menyeramkan. Beeya memilih untuk merebahkan tubuhnya dengan terus menatap ke arah Iyan. Walaupun pemuda itu tidak membalas tatapannya. Mata Beeya pun terpejam dengan badan yang menghadap ke arah Iyan.


Mendengar dengkuran halus, Iyan mencoba menatap ke arah Beeya. Helaan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia beranjak dari duduknya dan menghampiri wanita yang tengah terbaring di atas kasur rumah sakit. Dia tarik selimut untuk menutupi tubuh Beeya. Dia pandangi wajah Beeya, dan Iyan pun mengecup kening Beeya dengan sangat lembut.


"Aku gak suka dengar kamu menyebut nama pria berengsek itu," gumamnya.


Keesokan harinya, Beeya tak menyangka bahwa semuanya sudah rapi. Mereka hanya tinggal menunggu dijemput oleh orang tua Beeya.


"Yan, aku-"


Iyan memberikan satu boks makanan kepada Beeya. Tanpa ada perkataan sama sekali. Beeya pun tercengang. Dia baru melihat Iyan semarah ini.


"Aku gak lapar."


Iyan hanya diam, tak menjawab apapun yang dikatakan oleh Beeya. Merasa sangat kesal dengan tingkah Iyan, Beeya pun mendekat ke arah Iyan. Sudah melipat kedua tangannya di atas dada. Namun, tetap saja Iyan masih bergeming.


Tanpa Iyan duga Beeya malah duduk di pangkuannya. Menatap lekat wajah Iyan. Tangannya merangkul manja leher Iyan. Nektra mata mereka bertemu. Namun, Beeya malah fokus pada bibir merah Iyan yang terlihat seksi di matanya. Seperti ada dorongan setan, Beeya menyatukan bibirnya dengan bibir Iyan. Mata sang empunya bibir melebar, tetapi kelembutan yang Beeya berikan mampu membuat Iyan membalasnya. Bibir mereka terus beradu. Seperti tengah melepas rindu yang menggebu. Tangan Iyan pun sudah mengusap lembut punggung Beeya.


Ketika udara semakin menipis, wajah mereka mulai menjauh. Pandangan masih saling beradu. Iyan mendekatkan wajahnya ke arah Beeya. Sontak Beeya memejamkan matanya. Namun, dia salah sangka. Iyan malah berbisik di telinga Beeya.


"I love you."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2