
🎶
Jatuh cinta, berjuta rasanya
Biar siang biar malam
Amboi rasanya
Inilah yang tengah Iyan rasakan. Sudah jam satu malam dia masih melakukan sambungan video dengan sang pujaan hati. Mereka tidak banyak bicara, hanya saling memandangi melalui sambungan video. Konyol sekali, bukan.
"Kamu tidur, ya. Aku sudahi sambungan videonya."
Beeya mengangguk lemah dan perempuan itu pun terpejam dengan lelapnya. Sedangkan Iyan masih menatap langit kamar. Bibirnya tersenyum begitu lebar.
"Seperti mimpi."
.
Pagi hari Iyan dikejutkan dengan kehadiran seseorang yang sudah ada di meja makan. Berbincang akrab dan tercipta gelak tawa di sana. Apalagi tengah bersenda gurau dengan keponakan nomor tiga.
"Kenapa bengong?" sergah Beeya ketika melihat Iyan yang mematung di pintu penghubung ruang makan.
"Syok dia."
Beeya tertawa mendengar jawaban dari Radit. Dia segera menghampiri Iyan dan menarik tangan Iyan untuk ikut gabung di meja makan.
"Mau makan apa?" tanya Beeya yang sudah ingin mengambilkan makanan untuk pemuda di sampingnya.
"Roti aja."
"Bubu, sepertinya sebentar lagi kami akan punya Tante centil," kelakar Aleeya.
Mata Echa melebar sedangkan Beeya sudah tertawa. "Bagus panggilannya, Tante centil."
Ketiga keponakan Iyan terperangah melihat respon Beeya. Mereka kira Beeya akan marah. Nyatanya Beeya malah tertawa.
"Bagus 'kan pacar, panggilannya."
Tiba-tiba Iyan tersedak. Radit mengulum senyum. Dia tahu, adiknya ini merasa malu karena ada kakaknya di sana. Sedangkan si wanitanya terlalu aktif.
Melihat Iyan yang diam saja tidak seperti biasanya, membuat Beeya ikut diam. Dia merasa ada yang aneh dari diri Iyan sekarang. Apa pemuda di sampingnya ini sudah berubah pikiran gara-gara wanita jelmaan anak ayam warna-warni semalam. Begitulah batinnya berkata.
"Kamu sudah lama pacaran sama Iyan, Bee?" Pertanyaan Echa mengundang penasaran semua orang yang ada di sana.
Beeya melirik ke arah Iyan. Namun, pemuda itu nampak diam saja.
"Kak Echa bisa tanya sama orangnya," jawab Beeya. "Takutnya Bee salah jawab." Senyum kecut Beeya tunjukan.
Beeya segera menghabiskan sarapannya dan melihat ponselnya. Kemudian, memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Kak, Bee pulang, ya. Kata Mamah itu resep terbaru. Semoga Kakak suka."
Echa terkejut begitu juga dengan Radit. Jangan ditanya bagaimana wajah Iyan. Dia segera menatap ke arah Beeya yang sudah berdiri.
"Kenapa buru-buru?" tanya Echa.
__ADS_1
"Bee cuma disuruh nganterin kue doang sama Mamah." Beeya tersenyum ke arah Echa.
"Biar Iyan yang anter kamu pulang," ucap Echa.
"Bee sudah pesan ojek online, Kak."
Baru juga selesai berbicara, satpam di depan masuk dan mengatakan jikalau ada ojek online yang menjemput Beeya.
"Bee pulang, ya." Beeya mencium tangan Echa juga Radit. Melambaikan tangan ke arah ketiga keponakan Iyan.
"Huh, payah!" cibir Aleesa setelah Beeya tidak terlihat di dalam rumah.
"Gentle dong jadi cowok," ujar Radit.
"Ingat ya, Yan. Jangan sampai kamu menggoreskan luka baru di hati Beeya," ancam sang kakak.
Iyan memejamkan matanya sejenak dan segera menyusul Beeya menggunakan motor. Radit dan Echa hanya menggelengkan kepala.
"Itu anak kaku banget," cibir Radit.
"Semua temannya makhluk tak terlihat. Wajar kalau dia begitu," balas Echa.
Mereka tidak tahu saja, Iyan termasuk ke dalam golongan manusia omes sama seperti kedua kakak iparnya.
.
Iyan melajukan motornya bagai Marc Marques. Tak dia hiraukan klakson dari sana sini. Dia terus mengejar motor yang membawa Beeya pergi.
"Nyebelin banget! Dasar gak Peka!"
Beeya terus bersungut-sungut di belakang Abang ojek yang tengah mengemudi. Mulutnya tak berhenti mengumpat kekasihnya.
Beeya tiba di rumah dengan wajah yang ditekuk parah. Beby dan Arya menatap bingung ke arah putri mereka. Beeya mengatakan jika dia akan ke kafe milik Iyan. Namun, baru satu jam pergi anak itu sudah kembali lagi.
Baru saja hendak menyusul Beeya ke kamar, suara bel membuat Beby memutar arah. Langkahnya membawanya menuju pintu depan. Dia dikejutkan dengan kedatangan Iyan.
"Ma, Kak Bee sudah sampai?" tanya Iyan. Wajahnya terlihat panik.
"Baru saja. Dia ada di kamarnya."
Napas Iyan terlihat masih tersengal dan membuat Beby menatap penasaran.
"Boleh aku ke kamarnya?" Beby pun mengangguk.
Tanpa basa-basi Iyan segera masuk dan menuju lantai atas.
"Ada masalah apa kalian?" tanya Arya. Namun, Iyan tak menjawab. Dia melangkahkan kakinya menuju lantai atas di mana Beeya berada.
Pintu kamarnya ditutup, Iyan menghela napas kasar. Dia mengetuk pintu tersebut. Namun, tak ada jawaban.
"Chagiya, ini aku pacar kamu."
Beeya masih diam, dia masih asyik memandang langit pagi di depan jendela.
"Chagiya," panggil Iyan lagi.
__ADS_1
Tidak mendapat jawaban dari Beeya, akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka pintu kamar kekasihnya. Tidak dikunci, Iyan melongokkan kepalanya. Namun, Beeya tidak ada di sana. Mata Iyan terus mencari dan terlihat pintu balkon terbuka. Iyan sangat yakin kekasihnya ada di sana.
Beeya tengah duduk di sofa panjang yang ada di sana. Iyan memeluknya dari belakang. Terasa napas Iyan menyentuh kulitnya.
"Maaf."
Satu kata yang Iyan ucapkan. Beeya tetap diam, tak menolak maupun menjawab.
"Chagiya," panggil Iyan lagi.
"Kalau kamu mau menyembunyikan hubungan kita. Lebih baik kamu cari wanita lain. Jangan jadikan aku pacar rasa simpanan."
Kalimat yang menampar Iyan seketika. Iyan mengurai pelukannya dari belakang. Kini, dia bersimpuh di depan Beeya.
"Enggak gitu, aku cuma malu aja sama Kak Echa juga Bang Radit. Di sana juga ada si triplets," terangnya. "Aku gak mau terlalu menunjukkan kemesraan kita di depan mereka. Mesranya ketika kita berdua saja."
Beeya masih terdiam membuat Iyan semakin merasa bersalah. Dia meraih tangan Beeya, mengusapnya dengan lembut.
"Maafkan aku, aku belum terbiasa menunjukkan ini kepada keluargaku," paparnya. "Ini juga kali pertama aku punya pacar."
Beeya kini menatap intens wajah Iyan. Ada raut penuh penyesalan yang Iyan tunjukkan kepadanya.
"Aku takut, jika kita terlalu menunjukkan kemesraan di depan mereka, mereka memberikan lampu merah kepada kita. Aku gak mau."
Helaan napas kasar keluar dari mulut Beeya. Dia harus mengerti jika kekasihnya ini adalah pria yang masih orisinil. Belum terjamah oleh wanita manapun, kecuali dirinya. Ciuman pertama Iyan pun sudah Beeya renggut dengan paksa. Seakan Beeya tidak mau didahului wanita lain.
"Jangan marah," pinta Iyan dengan wajah sendunya. Anggukan kecil Beeya berikan membuat Iyan tersenyum bahagia. Dia memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat.
Ponsel Iyan pun berdering, panggilan video dari sang kakak.
"Kamu udah sampe?"
Iyan mengarahkan ponselnya kepada Beeya yang tersenyum ke arah Echa.
"Anak itu kalang kabut ditinggalin kamu." Beeya hanya tertawa mendengar ucapan Echa.
"Bee, kekakuan Iyan coba lemesin. Jangan kaya kanebo kering gitu," ujar Radit yang mulai mengambil alih ponsel sang istri.
Beeya pun tergelak mendengar ucapan suami dari kakak Iyan tersebut. Iyan hanya memperhatikan Beeya. Tawa lepas Beeya seperti menjadi kebahagiaan untuknya.
"Nanti Bee celupin ke air panas biar lemes itu kanebonya." Tawa renyah Beeya pun terdengar kembali. Beeya nampak jauh lebih cantik ketika dia tertawa.
Selesai bercanda ria melalui sambungan video. Beeya menyerahkan ponsel sang kekasih kepada Iyan.
"Kenapa masih liatin aku?" herannya.
"Tawa kamu membuat kamu semakin terlihat lebih cantik."
Ucapan Iyan mampu membuat Beeya tertawa kembali.
Cup.
Sebuah kecupan di pipi membuat Beeya terkejut dan melebarkan mata. Sedangkan Iyan sudah tersenyum lebar.
"Kak Echa dan Kak Radit tertipu sama tampang dan sikap kamu selama ini. Aslinya kamu ini bukan kanebo kering, tapi kanebo yang selalu membuat bibir dan pipi aku basah."
__ADS_1
...****************...
Komen atuh ...