
Keputusan Iyan dan Beeya perihal menunda momongan tidak diketahui oleh siapapun. Mereka juga sudah berkonsultasi terlebih dahulu kepada dokter speesial kandungan. Dokter pun mebgatkan tidak masalah. Jika, belum siap tidak perlu dipaksakan.
"Tapi, gak masalah 'kan, dok?" Beeya juga sedikit takut. Dia takut jika nantinya dia sulit memiliki keturunan ketika dia sudah siap untuk memiliki anak..
"Enggak. Kandungan kamu sangat sehat kok." Begitulah kata dokter Winda.
"Kondisi suami kamu pun sangat sehat. Apalagi Rian tidak.merokok." Beeya dan Iyan pun dapat bernapas lega. Namun, Beeya meminta untuk menggunakan pil KB yang minim hormon. Dia tidak ingin gemuk, jerawatan. Apalagi mengurangi keganasannya di ranjang. Dia ingin terus memuaskan suaminya.
Pil KB dari dokter Winda sangatlah ampuh. Tidak merubah dirinya. Malah Beeya semakin hari tambah cantik dengan berat badan yang semakin ideal, hingga mampu membuat Iyan tak mau jauh dari istrinya tersebut.
"Chagiya, apa lebih baik kita bicara saja kepada keluarga?" Iyan merasa tidak enak hati dan sedikit bersalah karena sudah membohongi keluarganya.
"Jangan," cegah Beeya. "Mereka akan melarang kita. Aku belum siap, Ayang."
Beeya memasang wajah memelas membuat Iyan merasa tidak tega. Akhirnya, dia pun memilih untuk mengalah.
Hari terus berganti, sudah dua strip pil KB yang Beeya konsumsi. Dia tidak merasakan hal apapun. Malah dia semakin ganas di ranjang.
Ritual Beeya jikalau sehabis melakukan enak-enak, yaitu memeriksa stok pengaman yang ada di laci. Dia tidak mau ketika dirinya berada di masa subur dan suaminya ingin melakukan hubungan badan akan berhasil membuahi dan jadilah benih kecebong.
"Ayang, besok pulang kerja mampir ke minimarket, ya." Iyan yang sudah ingin memejamkan matanya pun membatalkan.
__ADS_1
"Masih ada 'kan itu," ucap Iyan.
"Tinggal dua lagi."
"Nanti aja atuh," balas Iyan. "Aku malu belinya. Disangkanya aku laki-laki nakal. Beli pengaman Mulu."
Beeya pun tertawa. Hal yang paling tidak Iyan inginkan, yakni membeli pengaman. Pasti kasir akan menegurnya juga bertanya. Iyan masih muda, mereka mengira Iyan belum menikah.
" Ya udah, ke minimarketnya sama aku."
"Hem." Jawaban yang teramat menyebalkan untuk Beeya.
.
"Kapan ya, Pah, kita bisa menimang cucu." Beby ingin segera menimang cucu agar rumahnya ramai seperti rumah besar Giondra. Memiliki empat cucu perempuan dan lima cucu laki-laki membuat rumah mereka tak pernah sepi. Apalagi kakak sepupunya itu semakin tua semakin bahagia walaupun hanya bermain dengan cucu-cucunya.
"Papah malah inginnya Beeya hamil anak kembar Lima kaya pandawa." Beby terkekeh.
"Dulu aja ngatain Aska sama Echa layak kucing karena sekali ngelahirin langsung banyak. Sekarang malah Papah yang pengen.
"Bukan begitu, Mah. Melahirkan itu berjuang antara hidup dan mati. Jadi, Papah inginnya Beeya sekali ngelahirin, langsung dapat anak banyak."
__ADS_1
Sebuah keinginan dari dua manusia paruh baya. Mereka ingin menikmati hari tua dengan mengasuh cucu mereka. Akankah keinginan mereka terealisasi?
Tibanya di rumah sang putri, asisten rumah tangga yang menyambut mereka.
"Beeya ada?"
"Ada, Nyonya. Mbak Bee masih di atas. Kalau jam segini dia belum keluar. Paling keluar untuk menemani Mas Iyan sarapan."
"Panggil, ya. Bilang ada saya." Asisten rumah tangga itupun mengangguk.
Arya dan Beby menunggu Beeya di ruang keluarga. Mereka berdua tahu jikalau anaknya tidak akan pernah turun ke bawah karena Beeya adalah anak yang mageran. Dia juga lebih senang di dalam kamar karena bisa bebas memakai pakaian minim. Gaya busana yang paling dia sukai.
Tak lama, Beeya turun dengan menggunakan celana di atas lutut dengan kaos oversize. Dia segera memeluk kedua orang tuanya. Dia teramat rindu kepada mereka berdua.
"Bee kangen," ucap Beeya tanpa malu mengungkapkan perasaannya.
"Mamamh juga kangen." Beby mencium.keninh putri satu-satunya. Beeya juga memeluk tubuh Arya dengan begitu erat.
"Gak jadi istri nyusahin 'kan." Beeya merengutkan wajahnya dan membuat Arya tertawa.
"Kapan nih ngasih Papah cucu?"
__ADS_1
Deg.
...***To be continue***...