Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
94. Curiga


__ADS_3

"Itu kan-"


Spot foto itu sama seperti spot foto ketiga keponakannya ketika menjawab video call darinya. Apa mereka ada di sini? Begitulah pikirannya. Tidak mungkin Ghea ada di sini sendiri. Anak itu terbilang anak yang tidak bisa jauh dari kedua orang tuanya. Tidak mungkin seorang Aksara percaya meninggalakan putrinya hanya kepada dirinya.


"Agha," gumamnya.


Dia menghubungi anak pertama dari Riana. Namun, tidak ada jawaban darinya. Iyan tahu Agha adalah anak yang tidak suka berbohong.


"Bocil!" panggil Aleeya. Agha yang tengah menikmati mie dalam cup pun menoleh. "Hengpong lu bunyi."


Agha malah mendengkus kesal."Biarinlah!"


Aleeya mengambil ponsel apel kegigit keluaran terbaru milik sang sepupu. Dahinya mengerut ketika melihat nama yang menghubungi Agha.


"Gha, pawang setan siapa?" tanya Aleeya.


"Gunain otak Kak Yaya. Jangan bisanya cuma makan doang," sahut Agha sambil mengunyah mie rebus dalam cup. Makanan yang tidak boleh dikonsumsi sering-sering oleh kedua orang tuanya


Aleeya mengumpat kesal sepupunya itu. Sedangkan Agha masih santai menikmati makanannya. Tidak mendengarkan ocehan Aleeya yang tidak berfaedah. Agha diajarkan oleh ayahnya untuk menutup kuping jikalau ada orang yang mengumpatnya. Itu adalah ucapan sampah yang tidak boleh didengar maupun dimasukkan ke dalam hati.


.


Iyan berdecak kesal karena teleponnya tidak dijawab oleh sang keponakan. Sebenarnya salah Iyan, sudah tahu Agha adalah anak yang malas menjawab telepon jika bukan dari kedua orang tuanya.


"Ada apa?" tanya Beeya si lebah cantik. Dia melihat raut wajah Iyan yang terlihat kesal.


"Gak apa-apa."


Jawaban yang memiliki artian berbeda bagi Beeya. Dia menatap penuh pertanyaaan kepada sang kekasih.

__ADS_1


"Sayang."


Tangan Beeya sudah mengusap lembut punggung tangan Iyan. Sang pemilik tangan itupun menoleh. Tatapan teduh Beeya membuat Iyan menghela napas kasar.


"Kamu anggap aku apa?" tanya Beeya dengan begitu lembut. "Aku sudah pernah bilang 'kan ke kamu."


"Aku curiga ada keluarga aku di sini." Beeya pun tersenyum. Kemudian mengusap lembut rambut sang kekasih hati.


"Perasaan kamu aja kali. Jangan suudzon ah," ujar Beeya.


Wanita yang sangat mengesalkan berubah drastis. Dia sangat lembut juga sangat keibuan. Jodoh pilihan ayahnya memang tak salah.


"Om, Tante," panggil Ghea yang sudah belepotan karena memakan cumi bakar. Mereka berdua pun menoleh.


"Kenapa, Sayang?" tanya Beeya.


"Mau cumi lagi."


"Pesanlah, sampai kamu kenyang," sahut Beeya seraya mengusap lembut rambut Ghea. "Dompet Om masih tebal kok," kelakar Beeya. Iyan hanya tertawa mendengarnya. Dia menyerahkan dompetnya kepada sang kekasih.


"Pegang!"


Mata Beeya melebar. Dia menatap penuh tanya ke arah Iyan.


"Semua PIN-nya sudah aku ganti jadi tanggal lahir kamu."


Demi apa? Beeya benar-benar terkejut mendengar ucapan dari Iyan barusan. Namun, tidak ada wajah dusta yang Iyan tunjukkan.


Mereka berdua tersenyum melihat Ghea yang sangat lahap memakan cumi bakar yang dia pesan. Iyan membayangakn jika dia menikah dengan Beeya dan dikaruniai anak cantik seperti Ghea ini. Pasti dia akan sangat bahagia.

__ADS_1


"Om mau?" tawar Ghea.


Ghea malah menyuapi Iyan cumi bakar tersebut dan membuat Iyan tersenyum bahagia. Ghea juga menyuapi Tante centilnya dan Beeya pun melengkungkan senyum lebar.


"Anak baik," pujinya.


"Adek, Om boleh tanya sesuatu?" tanya Iyan.


Ghea mengangguk sambil memakan cumi bakar dan gurita bakar yang Beeya pesan.


"Adek ke sini hanya diantar Daddy?" Ghea pun tanpa ragu mengangguk. "Gak sama Mas Agha juga Mommy?" Anak itu pun menggeleng.


"Adek jangan bohong, bohong itu dosa loh."


Ghea menatap ke arah Beeya dan juga Iyan. Tatapannya pun tajam.


"Adek lagi makan. Jangan ditanya-tanya kaya maling."


Tetap saja Ghea mengatakan bahwa dia datang hanya bersama sang ayah. Namun, Iyan tak percaya begitu saja. Apa mungkin? Sedangkan keempat keponakannya yang lain bersikap aneh hari ini.


"Ya udahlah, jangan dipikirin." Beeya mengusap lembut pundak Iyan. Sang kekasih sedang fokus ke jalanan.


Tibanya dikediaman Arina. Iyan membawa tubuh Ghea dalam gendongannya. Anak itu kekenyangan dan terlelap dengan begitu damainya.


"Kenapa cucu-cucu Ayah pada rakus semua sih," ujar Iyan. Beeya hanya tertawa.


"Kamu keluar dulu, ya. Aku gantiin baju Ghea dulu. Iyan pun mengangguk. Namun, sebelum dia keluar dia menunjuk bibirnya. Beeya hanya tertawa.


Perempuan kecil mungil itu sudah menjinjitkan kakinya. Bersiap untuk mengecup bibir merah Iyan.

__ADS_1


"Jangan nakal, nanti Adek bilangin Daddy."


****


__ADS_2