Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
156. Mengecek


__ADS_3

Iyan dipaksa agar melihat ke arah Beeya. Dia tidak mau karena dia tidak ingin terjadi sesuatu. Namun, Beeya terus memaksa. Pada akhirnya dia mau menatap ke arah calon tunangannya.


"Ya Tuhan tolong kuatkan iman hamba."


Ternyata dugaan Iyan salah. Beeya memakai tank top di dalamnya. Dia pun dapat bernapas lega.


"Otaknya disapu dulu biar gak ngeres," omel Beeya. Iyan pun tertawa.


Wanita itu sudah menelungkupkan tubuhnya. Meminta Iyan memijat punggungnya. Kulit putih Beeya nampak terlihat jelas. Ada aliran listri aneh yang menjalar ke seluruh tubuh. Apalagi Beeya mengeluarkan suara manja yang membuat bulu kuduknya meremang.


Tak berselang lama Beeya pun tertidur. Iyan hanya tersenyum melihatnya. Ternyata calon istrinya ini benar-benar kelelahan. Dia memilih membersihkan badan.


.


Pagi menjelang dua anak manusia ini masih nyaman saling berpelukan di atas tempat tidur. Gedoran pintu pun tak mampu mereka dengar.


"Udah biarin aja sih, Sayang," ujar Radit kepada Echa.


"Mereka harus cek semuanya." Echa sudah mengoceh.


"Mungkin mereka lelah."


"Lelah abis ngapain?" Mata Echa memicing. Pikiran jelek berkelana di atas kepala.


"Iyan abis kerja, Beeya abis dari Singapura," sahut Radit. "Jangan suudzon Mulu."


Echa hanya dapat menghela napas kasar. Dia hanya tidka ingin Iyan kebablasam. Iyan adalah amanah yang harus dia dan Riana jaga.


Pukul sembilan pagi barulah kedua anak manusia itu terbangun. Beeya tersenyum bahagia ketika disambut dengan kecupan hangat di kening. Iyanlah pelakunya.


"Maaf, aku terlalu lelah." Iyan malah memeluk erat tubuh wanita mungil itu.


"Semua orang sudah suudzon kepada kita," tutur Iyan.


"Mereka terlalu parno. Mereka mengira kita seliar itu."


Jam sepuluh pagi mereka baru turun ke lantai bawah. Tidak ada siapa-siapa di sana.


"Ayang, aku mau makan makanan cepat saji aja." Wajah Beeya sudah ditekuk sedemikian rupa. Pasalnya Iyan terus saja melarang Beeya menggunakan celana di atas lutut. Sedangkan Beeya nyaman dengan pakaian itu.

__ADS_1


"Ya udah." Iyan merangkul pundak sang calon istri. Tersenyum melihat Beeya yang masih memanyunkan bibir.


"Jangan marah dong, Chagiya." Iyan sudah mengusap lembut pipi Beeya ketika mobil sudah berhenti di parkiran restoran. "Imammu adalah suamimu. Apa yang dikatakan imammu di jalan kebaikan, maka ikutilah."


Beeya tercengang mendengar ucapan Iyan. Pemuda di sampingnya ini sangatlah dewasa. Dia mampu mengemong dirinya yang memang sering kekanak-kanakan.


"Kamu juga berhak menolak jika apa yang diperintahkan imammu megajak ke jalan yang salah."


Mata Beeya nanar mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan. Dia terharu dengan ucapan Iyan yang di luar dugaan. Tidak ada marah, tidak ada emosi dalam perkataannya. Sungguh dia sangat beruntung bisa mengenal Iyan dan sebentar lagi pemuda itu akan menjadi suaminya.


"Maafkan aku, ya." Begitu tulus ucapan dari seorang Abeeya Bhaskara. Iyan menanggapinya dengan senyuman manis.


"Kamu gak salah, tapi kamu sudah harus mulai terbiasa dengan apa yang nantinya aku larang." Lembut sekali ucapan Iyan kali ini. "Aku melarang kamu karena aku tidak ingin orang lain melihat bagian tubuh kamu yang terbuka. Hanya aku dan cukup aku saja yang bisa melihatnya."


"Manis sekali sih calon suamiku ini." Beeya mencubit gemas pipi Iyan.


"Ayo kita turun!"


.


Di sebuah hotel mewah Arya Bhaskara sudah bersungut-sungug. Bagaimana tidak, dia menunggu dua insan manusia yang masih belum menampakkan diri.


"Tadi Beeya bilang dia lagi sarapan dulu.


"Ini udah mau masuk makan siang, bukan sarapan." Sungguh Arya dibuat kesal oleh Iyan dan juga putrinya.


Tepat jam dua belas barulah mereka berdua tiba. Wajah tak bersahabat Arya tunjukkan. Namun, Beeya dan Iyan tidak merasa bersalah sama sekali. Sontak Arya pun berdecak.


"Kalian dari mana aja?" Sang papa sudah berkacak pinggang.


"Udah, Pah. Kasihan mereka jangan dimarahi." Beeya tersenyum lebar. Sang mamah pasti membelanya.


Iyan dan Beeya terus bergandengan tangan memantau persiapan pernikahan mereka. Konsep yang sangat memukau. Pantas saja memakan biaya yang tidak sedikit.


"Kamu suka?" tanya Iyan kepada sang calon istri.


"Banget." Beeya memeluk tubuh Iyan dari samping dan membuat sang pemuda itu tersenyum bahagia. Mengecup ujung kepala Beeya dengan begitu lembut.


Arya dan Beby hanya memandangi putri mereka satu-satunya. Senyum merekah Beeya tunjukkan dan mampu membuat kedua orang tuanya terharu. Akhirnya, sang putri akan melepas masa lajangnya dengan seorang pemuda yang sedari orok Arya kenal. Malah dia anggap seperti anaknya sendiri.

__ADS_1


"Kalau lu masih ada, pasti akan lebih seru. Kita pasti akan adu mulut terus perihal ini itu. Apalagi yang akan menikah itu anak bungsu lu dan anak semata wayang gua. Kenapa lu pergi begitu cepat? Gua rindu berantem sama lu. Gua rindu kata-kata pedas lu.".


Sedari semalam Arya memang merasakan kesedihan yang mendalam menjelang hari pernikahan anaknya. Bukan karena hendak melepas Beeya, tapi karena ayah dari calon menantunya. Rion selalu datang ke dalam mimpinya. Dia tersenyum dengan sangat bahagia, wajahnya pun berbinar. Tidak ada kata yang Rion ucapkan. Hanya sebuah lambaian tangan yang Rion berikan.


.


Arya membiarkan Iyan dan Beeya mengecek semuanya di hotel ini. Juga dia membiarkan kedua anak itu mengecek persiapan gaun pengantin mereka.


"Papah mau ke mana?" tanya Beby.


"Mau nemuin duda mati."


Di balik perkataan kasar yang terlontar dari mulut Arya, terselip rasa rindu yang dapat Beby rasakan. Dia harus mengerti karena dia sangat tahu bagaimana persahabatan mereka berdua. Arya dan Rion sudah saling mengenal sedari zaman sekolah. Dia juga tahu Rion sudah seperti kakak bagi suaminya.


"Hati-hati, ya."


Mobil melaju ke arah Karawang di mana sang sahabat dikebumikan. Sedari tadi mata Arya sudah nanar. Dadanya sudah sangat sesak.


Tibanya di pemakaman, Arya tersenyum perih. Dia mulai berjongkok dan mengusap lembut nisan yang bertuliskan Rion Juanda.


"Ada apa? Kenapa lu datang cuma tersenyum?" lirih sekali ucapan dari Arya tersebut.


Hembusan napa kasar keluar dari mulut Arya. Matanya sudah berkaca-kaca.


"Apa lu bahagia melihat anak lu menikah dengan anak gua? Apa lu merestui mereka berdua? Dan maukah lu menerima anak gua sebagai menantu lu?"


Hembusan angin yang menjawab pertanyaa Arya. Pria paruh baya itu kini menunduk dalam. Punggungnya bergetar dan dia menangis.


"Kenapa lu gak nunggu Iyan nikah dulu? Gua sendirian ngurus pernikahan anak kita. Gua gak punya teman diskusi. Gua gak punya teman adu mulut."


Arya pun terisak. Dia benar-benar merasa sedih sekarang ini. Perihal kehilangan Rion dia sudah ikhlas, tapi sebentar lagi dia akan dihadapkan pada satu acara penting nan sakral. Menikahkan putrinya dengan anak sahabatnya.


"Apa gua sanggup menjabat tangan anak lu?" lirihnya.


"Dan bagaimana dengan anak lu? Apakah dia mampu menahan sedih? Apalagi ketika kata sah diucapkan harusnya lu ada di samping dia. Temani dia dan peluk dia. Mengucapkan kata selamat kepada Iyan. Membayangkannya gua gak sanggup, Bro. Gua gak sanggup, itu terlalu sedih."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2