
"Ingat ya, Fa. Jika, terjadi apa-apa dengan Beeya nyawa kamu yang akan menjadi taruhannya."
Raffa sedang berada di rumah Arya mencari Beeya. Namun, Beeya pun belum pulang ke rumah. Sontak kedua orang tua Beeya mencemaskan keberadaan Beeya dan marah kepada Raffa. Apalagi mereka mendengar sendiri dari teman Beeya jikalau Raffa dan Beeya sempat adu mulut siang harinya.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam. Ponsel Beeya pun tidak bisa dihubungi. Sedari tadi air mata Beby sudah menetes. Dia hanya takut terjadi sesuatu kepada anak satu-satunya.
"Kalau kamu gak terlalu posesif kepada Beeya, ini tidak akan pernah. tejadi!" bentak Arya dengan urat-urat kemarahan. "Anak saya mencintai kamu, dia tidak mungkin berpaling kepada pria lain. Saya tahu bagaimana anak saya."
Raffa hanya terdiam mendengar semuanya. Dia tidak bisa berkata apapun. Selama menjalin kasih bersama Beeya, ayah dari Beeya tidak pernah semurka ini.
"Biar aku lapor polisi." Raffa sudah mengambil ponselnya.
"Apa kamu bodoh? Lapor polisi itu harus satu kali dua puluh empat jam." Emosi Arya sudah menggebu-gebu.
Beby mencoba menenangkan suaminya karena dia takut tensi darah suaminya meninggi lagi. Baru saja Arya merebahkan bokongnya di sofa, ponselnya berdering dan dia benar-benar terkejut nama siapa yang menghubunginya.
"Ada apa, Yan?"
Mendengar nama Iyan rahang Raffa mengeras. Dia benar-benar cemburu sekarang.
"Pah, maaf. Kak Bee ada di kosan Iyan. Dia sedang tidur sekarang."
Helaan napas lega keluar dari mulut Arya. Beby yang melihat wajah suaminya berubah pun mengerutkan dahinya.
"Papah bisa jemput Kak Bee sekarang gak? Aku takut jika penghuni kos yang lain berpikiran macam-macam. Nanti Iyan kirim alamatnya "
"Iya, Yan. Papah ke sana. Jaga Beeya dulu, ya."
Ada kelegaan di hati Beby mendengar ucapan Arya. "Beeya sama Iyan, Pah?" Arya pun hanya mengangguk. Ucap syukur Beby panjatkan.
Raffa melihat betapa bahagianya kedua orang tua Beeya ketika mendengar putri mereka bersama Iyan. Sungguh membuat hati Raffa panas.
"Aku ikut."
Raffa membuka suara ketika kedua orang tua Beeya sudah keluar rumah. Mereka pun tidak menjawab apapun.
__ADS_1
Tibanya di alamat yang Iyan berikan, Arya segera turun dari mobil. Iyan ternyata menunggu Beeya di teras kosannya. Dia tidak ingin di dalam berduaan bersama Beeya, takut terjadi fitnah.
"Beeya di dalam, Yan?"
"Iya, Mah. Masuk aja."
Iyan membukakan pintu untuk kedua orang tua Beeya, di sana juga ada Raffa dan Iyan masih bersikap sopan kepadanya.
"Maaf ya, Pah, Mah," ucap Iyan. "Baju Kak Bee basah, tapi aku gak berani buat gantiinnya."
Arya tersenyum dan menepuk pundak putra sahabatnya itu. "Makasih ya, sudah jaga Beeya."
"Sama-sama, Pah."
"Biar aku gendong Beeya," ucap Raffa.
"Tidak usah!" larang Arya dengan lantang. "Saya masih sanggup gendong putri saya."
Raffa merasa tidak dihargai di sana. Iyan seakan mengalahkan pamornya. Arya sudah mengangkat tubuh Beeya, tetapi putrinya malah merancau tidak jelas.
"Iyan, jangan pergi. Aku minta maaf." Arya dan semua orang yang berada di sana terdiam mendengar rancauan Beeya. Terlebih Iyan yang terkejut mendengarnya.
"Pas aku pulang dari kafe, Kak Bee udah ada di sini." Iyan menjelaskan semuanya. Termasuk Beeya yang nyaris pingsan.
"Sudah lama Mamah merasa kehilangan anak Mamah," papar Beby seraya menatap sendu ke arah Beeya. "Dia seperti kehilangan jati dirinya."
Iyan tidak bisa menjawab apapun. Dia juga tidak mungkin menjelaskan apa yang terjadi dengannya, Beeya dan Raffa. Iyan hanya menjaga jarak agar Beeya tak selalu disalahkan oleh Raffa.
"Maafkan aku, Mah, Pah." Iyan menatap ke arah Arya juga Beby. "Papah dan Mamah pasti tahu bagaimana keadaan aku ketika Ayah pergi. Aku ingin menjauh sejenak karena aku benar-benar belum siap."
Jika, mendengar nama mendiang Rion hati Arya ikut teriris. Apalagi dia melihat jelas kondisi Iyan yang lebih kurus dengan wajah yang tak seceria dulu.
"Iyan menyembunyikan keberadaan Iyan karena Iyan butuh waktu untuk sendiri. Kak Echa dan Kak Ri pun Iyan larang datang ke kosan. Palingan Iyan yang datang ke rumah."
Hati Arya sangat perih mendengar ucapan dari Iyan. Anak yang sahabatnya ini titipkan kepadanya.
__ADS_1
"Pah, Iyan mohon tolong beritahu Kak Bee untuk tidak menemui Iyan dulu. Iyan benar-benar ingin sendiri."
Ucapan yang terasa menusuk ulu hatinya. Tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Namun, ini harus dia lakukan. Iyan merasa nyaman dan tidak merasa sendiri ketika berada di dekat Beeya. Dia juga harus sadar diri jikalau Beeya sudah memiliki kekasih.
"Pasti akan Papah beritahu Beeya." Arya tidak akan pernah menolak keinginan Iyan. Begitulah pesan dari mendiang sahabatnya.
Selepas kepergian Beeya juga keluarganya dan Raffa, Iyan memasukkan motornya. Lalu, merebahkan tubuhnya di kasur busa. Dia menatap langit kamar.
"Ibu, Jojo, Om Uwo, Dev, Iyan kangen."
Mata Iyan terpejam, tetapi ujung matanya sudah mengeluarkan bulir bening. Terasa ada telapak tangan yang menyeka air matanya. Iyan membuka mata dan ternyata makhluk yang Iyan panggil sudah ada di hadapannya.
"Jojo."
Jojo berhambur memeluk tubuh Iyan. Hatinya sangat sakit ketika melihat Iyan yang tak hentinya menangis ketika di samping jenazah ayahnya. Ingin dia mendekat, tetapi Iyan terus membentenginya.
Apalagi ketika ulang tahun Iyan yang ke-21. Mereka berempat menangis melihat Iyan yang pergi begitu saja ketika keluarganya membawakannya kue ulang tahun.
"Iyan gak butuh itu! Iyan butuh Ayah!"
Kalimat yang penuh emosi yang Iyan ucapkan. Dia memilih pergi dan tidak mau meniup lilin yang ada di atas kue ulang tahun. Bukan hanya mereka berempat yang menangis, tetapi semua keluarga Iyan ikut menitikan air mata.
Jojo terus mengikuti Iyan hingga kamar. Namun, benteng yang sangat tebal yang Iyan pasang membuat dia tidak bisa mendekat ke arah sahabatnya itu.
Dia melihat, Iyan menangis bagai anak kecil. Tubuhnya bergetar, isakannya cukup keras terdengar.
"Ayah, kenapa Ayah memberikan hadiah penuh luka di hari kelahiran Iyan?" Suara Iyan sangat lirih dan sangat berat. Tubuhnya bergetar hebat. "Iyan tidak suka hadiah ini. Iyan butuh Ayah. Kembalilah, Ayah. Kembalilah."
Jojo seperti melihat Iyan ketika pertama kali dia bisa berinteraksi dengan pemuda tampan itu. Ketika Iyan menangis sendirian di dalam gudang gelap dan pengap. Dia memanggil nama ayahnya dengan sangat lirih.
Seberapa banyak usia yang Iyan miliki, dia tetaplah Iyan kecil yang masih membutuhkan sosok ayah di dalam hidupnya. Sosok panutan, pelindung dan penuntun untuknya.
Wajah Jojo sudah dipenuhi darah ketika melihat Iyan yang terlelap dengan memeluk figura almarhum Rion. Tubuhnya meringkuk bagai anak yang tertidur di emperan toko.
"Ayah, Iyan ingin ikut Ayah."
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....