Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
105. Toko Baju


__ADS_3

Ghea memandang bingung ke arah om dan tantenya. Juga dia menatap tajam ke arah seorang wanita yang tengah berada di lantai. Wajahnya terlihat sendu dan terus menatap ke arah sang paman. Ghea juga melihat ke arah Beeya yang sedang menatap tajam ke arah sang om juga. Sepertinya Ghea mengerti apa ya v tengah terjadi.


"Kamu mau jadi pe-la-kor?" tanya Ghea dengan penuh penekanan kepada Anggie. Tatapannya pun sangat tajam bagai elang.


"Hahaha." Belum juga Anggie menjawab, Ghea malah tertawa sangat puas.


"Mohon maap nih," ujar Ghea bak orang dewasa. "Kalau mau dekatin Om saya, harap bercermin dahulu," ejeknya. "Apa perlu saya belikan cermin agar Anda bisa menilai bagaimana wajah Anda?" lanjutnya lagi.


Sungguh sadis sekali ucapan dari anak kecil ini. Anggie memang tidak secantik Beeya. Dia juga bukan dari orang kaya. Ditambah attitude-nya sangat minus.


"Ayo, Om, Tante." Ghea sudah menarik tangan Beeya dan juga Iyan. "Kita pergi."


Anak yang sangat mengerti kondisi dua orang dewasa yang mengajaknya ke mall. Lagi pula Ghea sudah bosan di sana. Dia ingin segera berbelanja.


"Ya udah kamu pilih bajunya," ujar Beeya yang sudah mengelap tangannya dengan tisu basah. Mereka sudah berada di toko baju ternama.


"Sebegitu menjijikkannya aku?" tanya Iyan.

__ADS_1


"Apa perlu Akau jawab." Beeya masih bersikap sangat ketus terhadap Iyan. Pemuda itu hanya menghela napas kasar. Ternyata semua wanita itu jika marah sama semua, mengerikan.


"Kamu pilihin aja baju untuk akunya," pinta Iyan. Dahi Beeya pun mengkerut mendengarnya. Dia menatap tajam ke arah sang kekasih.


"Cepatlah, Chagiya," rengek Iyan. "Aku udah pengen peluk kamu."


Beeya pun berdecih kesal, tetapi dalam hatinya dia tersenyum bahagia. Beeya pun mengambilkan semua yang Iyan perlukan. Memadu padankan apa yang akan Iyan gunakan.


Ghea pun ikut sibuk memilih-milih baju yang dia inginkan. Bukan hanya baju, dari ujung kaki hingga ujung kepala tengah dia serasikan. Iyan membiarkannya saja. Itulah yang disukai oleh Ghea.


Beeya sudah selesai memilih baju untuk sang kekasih. Dia menghampiri Ghea yang masih sibuk memilih sepatu. Beeya hanya menggelengkan kepala. Anak Sultan mah bebas, begitulah batinnya berkata.


"Nih." Beeya menyerahkan baju dan celana yang sudah dia pilihkan untuk Iyan.


"Sepatunya mah gak apa-apa," jawab Beeya. Dia berjinjit dan berbisik ke telinga Iyan, "mahal."


Iyan pun tersenyum dan ingin sekali dia mencubit gemas pipi Beeya. Namun, dia tidak bisa melakukannya sebelum berganti pakaian juga tubuhnya dilap menggunakan tisu basah.

__ADS_1


"Kamu ikut ke ruang ganti," ajak Iyan. Namun, Beeya menggeleng dengan cepat.


"Jangan macam-macam!"


Iyan malah tertawa dan segera menuju ruang ganti karena sang kekasih sudah berubah menjadi monster yang menyeramkan. Ghea menghampiri Beeya yang sedang duduk di tempat Iyan duduk tadi.


"Tante, lapar."


"Tunggu Om dulu, ya." Ghea pun mengangguk sambil menjinjing paper bag toko ternama.


"Ini anaknya ya, Kak." Seorang SPG bertanya kepada Beeya.


Ghea dan Beeya malah saling pandang. Beeya pun tersenyum ke arah Mbak SPG itu.


"Emangnya udah cocok ya jadi ibu?" tanya balik Beeya. Dahi si mbak SPG itupun mengkerut.


...****************...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2