
Suara bel berbunyi dan dada Iyan serta Beeya berdegup sangat cepat. Beeya segera menurunkan dress-nya juga Iyan yang mengancingkan kemejanya dengan cepat. Iyan segera menuju pintu dan Beeya segera duduk di sofa. Dia tengah mengatur jantungnya yang berdegup tak karuhan.
Ketika pintu dibuka, seorang pelayan hotel mengantarkan makanan yang ternyata tadi dipesan oleh Beeya. Iyan menghela napas lega selega-leganya. Mengusap dadanya yang hampir dibuat jantungan.
"Kenapa ya Bli, semua orang senang sekali bercinta setelah pulang bekerja? Apa tidak capek?"
Tampang Iyan mendadak pias ketika mendengar ucapan si pelayan hotel. Kenapa orang itu bisa tahu? Begitulah batinnya berkata.
"Jangan sok tahu," sahut Iyan.
"Saya tahu, Bli. Sudah banyak yang kaya Bli ini saya temui," balasnya. Iyan bingung dengan ucapan dari pelayan. "Saking keenakannya, setiap kami datang disangka seperti satpol PP yang mau ngegerebek para penghuni kamar hotel. Makanya, kancing bajunya salah ngandang."
Iyan melihat penampilannya. Benar saja ternyata dia salah mengancingkan baju. Sungguh apes sekali hari ini. Iyan mengambil uang dari sakunya yang berwarna biru. Menyerahkannya kepada pelayan itu dan menyuruhnya segera pergi. Kesal bercampur malu.
"Siapa, Yang?" tanya Beeya. "Bukan kakak kamu 'kan?" tanyanya lagi. Panik, wajah Beeya masih terlihat syok.
Iyan membalikkan tubuhnya dan tangannya membawa bungkusan makanan. Seketika Beeya menepuk jidatnya. Dia benar-benar lupa..
"Bang ke lah!" umpat Iyan. Tangannya meletakkan makanan itu cukup kasar di atas meja. Juga mendudukkan dirinya dengan sangat kasar pada sofa. Lalu menyandarkan punggungnya seraya memejamkan mata.
"Bisa juga kamu ngomong kasar." Iyan membuka matanya dan melirik ke arah sang tunangan tanpa merubah posisinya.
"Aku bukan orang alim-alim amat, Chagiya," sahut Iyan dengan nada lemah. "Makanya jangan mancing-mancing." Beeya malah tertawa mendengar ucapan dari Iyan. Dia mencubit gemas pipi putih Iyan.
"Makanya cepat bawa aku ke penghulu." Perkataan yang menggebu-gebu dadi seorang Abeeya Bhaskara.
Iyan menghela napas kasar. Dia menegakkan tubuhnya dan mengambil sesuatu dari dalam dompetnya. Secarik kertas putih yang Iyan lipat. Dahi Beeya mengkerut ketika Iyan menyerahkan kertas tersebut.
"Apa ini?" tanya Beeya.
"Bacalah!"
Beeya membuka kertas tersebut dan matanya melebar ketika membaca huruf dan angka yang tertera di sana.
.
Arya keluar dari kamarnya ketika sang istri mengatakan ada tamu dari Jakarta. Dahinya tetiba mengkerut melihat dua orang yang sudah duduk di ruang tamu.
"Tumben amat," ujar Arya.
Baru saja dia mendudukkan tubuhnya, Riana sudah menyerahkan selembar kertas kepada sahabat dari mendiang sang ayah.
"Kenapa?" tanya Riana dengan begitu penuh penekanan.
Beby terkejut dengan sikap Riana sekarang ini. Baru kali ini dia melihat wanita yang super kalem emosi. Terlebih emosi kepada suaminya. Ayah kedua untuknya. Pasti sudah terjadi sesuatu di antara suaminya juga adik Echa tersebut.
__ADS_1
"Pah, ada apa?" tanya Beby. Namun, Arya menyeringai.
"Itu syarat mutlak." Begitu entengnya Arya berucap.
Riana menggelengkan kepala tak percaya dengan jawaban ayah dari Beeya itu. Sedangkan sang suami malah diam saja. Memperhatikan dua orang yang akan beradu argumen.
"Mutlak dari mana?" sergah Riana. "Itu mah perampokan namanya." Suara Riana cukup tinggi sekarang.
Arya malah tertawa mendengar ucapan dari Riana. Dia pun berdecak kesal juga menggelengkan kepalanya sambil memanggil nama Riana.
"Kamu gak ingat bagaimana perlakuan Ayah kamu kepada Aksara."
Tubuh Riana menegang. Dia terdiam sejenak. Kini, dia menatap ke arah sang suami yang hanya terdiam. Tak berekspresi apapun.
"Bahkan Papah masih ingat bagaimana ayahmu meminta mahar kepada Radit," lanjutnya lagi. Ingatan pada masa lampau berputar di kepala Arya.
"Kenapa Papah lakuin itu kepada Iyan?" Beby-lah yang berbicara. Dia baru saja membaca kertas putih tersebut.
"Biar si duda itu merasakan bagaimana punya anak laki-laki yang dirampok sama ayah si anak perempuan." Suara Arya terdengar bergetar dan suasana mendadak hening.
Bukan hanya Riana yang marah akan syarat yang diajukan oleh Arya. Echa terlebih dahulu beradu argumen dengannya di sambungan telepon. Namun, Arya tetap bersikukuh. Dia tidak menjelaskan apa alasannya karena dia tahu Echa adalah orang yang masih sangat terpuruk atas kepergian ayahnya sampai saat ini.
Suasana pun berubah hening. Aksa mengusap lembut pundak Riana. Istrinya kini malah tertunduk dalam. Teringat akan sosok ayahnya yang memang berbeda dengan ayah-ayah yang lain.
"Walaupun Ayah kamu sudah tiada, tapi Papah ingin menciptakan suasana yang sama ketika Ayah kamu masih ada." Riana mulai menegakkan kepalanya. Menatap penuh pilu ke arah ayah keduanya. "Raganya memang sudah tidak ada bersama kita, tapi jiwanya ada pada kalian. Kalian adalah titisan dari ayah kalian."
"Iyan adalah laki-laki," tukas Aksara. "Dengan begini Papah mengajarkan tanggung jawab serta kerja keras kepada Iyan." Arya setuju dengan ucapan Aksa.
"Walaupun Iyan sudah memiliki rumah, punya beberapa saham yang bernilai tinggi tetap saja dia tidak boleh berleha-leha. Dia harus kerja keras. Mengambil anak orang dari orang tuanya itu tidaklah mudah. Harus ada perjuangan juga kerja keras." Aksara memaparkan semuanya.
"Abang yakin Iyan pasti bisa." Aksa membenarkan rambut sang istri. "Di surga sana pasti Ayah bangga kepada Iyan jika Iyan bisa menjadi orang sukses dan mampu meminang anak dan cucu dari keluarga Bhaskara, penerus satu-satunya semua saham dan aset AB grup."
.
...Syarat menikah dengan Abeeya Bhaskara....
Mahar sebesar 10.000.0000.000
Rumah seharga 5.000.000.000
Cincin kawin berlian 0,5 krat
Mas Antam 1.000 gram
__ADS_1
Hotel bintang untuk resepsi (Jakarata dan Bali).
W.O artis ternama
Seragam keluarga dari disigner ternama negeri ini
Hiburan full artis ibukota
Seserahan semuanya merk DOIR (merk ternama)
Foto prewed di 7 negara romantis.
Semua biaya ditanggung calon mempelai pria
Beeya menganga tak percaya dengan apa yang dia baca. Sungguh di luar nalar pemikirannya. Ayahnya benar-benar kelewatan.
"Ini alasan kenapa aku kerja bagai kuda," ungkap Iyan. "Menyelam sambil minum air. Bekerja sambil mencari kesempatan bersama kamu."
Mata Beeya berkaca-kaca mendengarnya. Dia memeluk pinggang Iyan dengan begitu erat. Merebahkan kepalanya di dada bidang sang tunangan.
"Aku tengah berjuang menuju satu ikatan yang dimulai dengan kata sah." Beeya dapat merasakan helaan napas berat Iyan. Ternyata banyak beban yang papahnya berikan kepada Iyan. Itu alasan kenapa Iyan belum membicarakan pernikahan dengannya
"Tahu begini mah kemarin aku terima aja tawaran si kerdil," ucap Iyan.
"Tawaran si kerdil?" ulang Beeya seraya mendongak ke arah Iyan. "Siapa dia?" Raut penasaran Beeya tunjukkan.
"Teman berantem Aleesa," jawabnya.
"Hantu?"
"Tuyul," jawab Iyan. "Dia punya teman ba-bi ngepet. Dia bersedia kerja sama untuk ngegesek duit para orang kaya untuk biaya nikah kita."
"Jahat tahu. Itu namanya kamu nyolong. Gak berkah." Iyan pun setuju dengan ucapan Beeya.
"Aku ada ide," ucap Beeya bersemangat. "Dijamin sukses dan lancar tanpa hambata."
"Apa?" Iyan penasaran.
"Kamu hamilin aku aja."
...***To Be Continue***...
Komen dong ....
__ADS_1
Jangan ditiru ucapan Beeya, ya. Ini hanya cerita fiktif dari author yang lagi oleng.
Ditunggu kehadiran kalian di cerita Lihatlah Aku, Suamiku! Yuk, ramaikan!