Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
186. Suara Bel


__ADS_3

Iyan mengerang kesel ketika mendengar suara bel yang berbunyi terus menerus. Sesuatu yang sudah meninggi kini meletoy kembali. Begitu juga dengan Beeya. Ketika sudah terbang melayang malahi dijatuhkan dengan keras ke dasar bumi sungguh lemas rasanya.


"Parah banget sih keponakan kamu," sungut Beeya. Dia sudah mencari pakaian karena sedari semalam tubuhnya hanya berbalik bathrobe. Kini, malah sudah tidak memakai sehelai benang pun..


"Tahu lah. Pusing nih kepala," balas Iyan.


Bel terus mereka tekan dan Iyan pun benar-benar geram. Ketika istrinya sudah selesai berpakaian. barulah membuka pintu dengan wajah yang terlihat kesal.


"Kenapa gak keluar kamar?" Ghea terlihat sudah marah. Wajahnya menatap tajam ke arah Iyan. Rasa kesal itu menguar ketika melihat betapa lucunya sang keponakan.


"Om masih ngantuk,"sahutnya.


"Emang tidur jam berapa?" Anak itu sudah berkacak pinggang. Ghea seakan tidak mempercayai ucapan sang paman.


"Dek, jangan ganggu Om, ya. Biarkan istirahat." Riana berkata dengan begitu lembut. "Kalau Mas tahu Adek ke sini pasti Mas marah."


Ghea malah menarik tangan sang paman..Menyuruhnya untuk makan dan keluar. Suara Beeya menghentikan tarikan tersebut.

__ADS_1


"Lepasin!" sentak Beeya ke arah Ghea. Kini, dua perempuan beda usia itu malah tengah saling tarik menarik.


"Apa sih, Tante centil? Mending tidur lagi sana!" Ghea mengusir Beeya dan mata Beeya pun hampir keluar dari tempatnya.


"Dia suami aku, ya." Beeya sudah memeluk tubuh Iyan dari belakang. Iyan malah tertawa dibuatnya.


"Engga! Dia Om aku."


Riana memijat pangkal hidungnya yang terasa sedikit berdenyut. Jika, mereka berdua sudah bertemu, Beeya pasti tidak akan pernah mau mengalah. Begitu juga dengan Ghea.


Iyan mengusap lembut punggung tangan istrinya yang sudah melingkar di pinggangnya. Dia juga mengusap lembut ujung kepala Ghea seraya tersenyum.


"Lebih baik, Adek berenang aja. Om lihat kolam renangnya bagus," bujuk Iyan. Dia berharap Ghea akan menurut.


"Tapi, nanti Om ke sana juga, ya." Iyan pun mengangguk.


"Ajak Aqis, pasti dia mau." Ghea pun mengangguk.

__ADS_1


Akhirnya anak itu mau pergi juga dan Riana sudah menatap penuh sesal ke arah sepasang suami istri itu.


"Lain kali anaknya kandangin dulu. Kayak gak pernah ngerasain jadi pengantin baru aja." Beeya berkata dengan cukup ketus. Riana pun berdecak kesal. Ingin rasnya dia mencekik adik iparnya itu.


Iyan terkekeh ketika melihat perdebatan kecil antara Riana dan juga istrinya. "Udah, ah. Jelek tahu kalau marah-marah terus." Beeya memeluk manja tubuh sang suami. Mencium bibir Iyan dengan begitu lembut.


"Mau dilanjut lagi?" Iyan sudah berkata dengan penuh napsu.


"Aku lapar." Bukannya marah Iyan malah tertawa.


"Kita mandi dulu. Baru turun ke bawah.* Beeya pun setuju.


"Mandi bareng, ya." Beeya hanya tertawa dan mengiyakan ajakan sang suami.


Ada rasa berbeda ketika Beeya dan Iyan berendam dengan posisi tubuh sang istri di atasnya. Beeya merasakan ada sesuatu yang berdenyut hebat di batang lolipop yang suaminya miliki.


Juga tangan Iyan yang tak mau lepas dari dua gunung putri sang istri. Bibirnya sudah mencium tengkuk leher Beeya dengan begitu lembut. Kini, Iyan membalikkan tubuh sang istri. Menciumnya kembali dengan begitu lembut. Mulai turun ke leher jenjang milik Beeya juga ke area dua bukit yang baru sedikit Iyan jejaki. Beeya pun tak kalah panas. Dia mengecup leher Iyan juga dada putih suaminya. Ketika mereka terhanyut begitu dalam, Iyan melihat air sedikit berubah warna menjadi kemerahan.

__ADS_1


"Chagiya--"


__ADS_2