Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
179. Kamar Pengantin


__ADS_3

Kamar pengantin sudah dihias sedemikian rupa. Betapa romantisnya dan manisnya kamar itu dirias dengan taburan kelopak mawar merah. Namun sepasang suami istri itu malah merasa risih dengan banyaknya kelopak bunga mawar yang ada di atas tempat tidur. Beeya menghela nafas kasar. Begitu juga dengan Iyan. Mereka berdua menyingkirkan kelopak-kelopak bunga mawar yang ada di sana


"Ngotorin doang," ucap Iyan.


"Lelahnya," sahut Iyan.


Iyan sudah membuka jas yang dia gunakan. Juga membuka kemeja yang ada di dalamnya. Helaan nafas kasar terdengar dengan begitu jelas. Beeya membantu suaminya untuk membuka satu persatu kancing kemeja yang suaminya kenakan. Terlihat dada bidang yang sangat tegap. Membuat Beey menelan salivanya


"Kenapa? Mau sekarang?" Beeya menggeleng dengan cepat.


"Aku lelah, Ayang." Dian tidak marah dia juga tidak pasrah. Iyan hanya menghargai apa yang diinginkan oleh iseng istri. Dia juga tidak memaksa karena lambat laun mereka juga akan melakukannya.


.


"Aku mandi dulu, ya." Beeya pun menggangguk.


"Bersihkan make up kamu. Jangan lupa dihapus dengan bersih. Kamu kan kulitnya sensitif." Beeya pun tersenyum suaminya selalu tahu apa yang tengah terjadi dengan dia. Kecupan singkat Iyan berikan di bibir manis sang istri. Beeya pun tertawa.

__ADS_1


"Begini ya rasanya jadi raja dan ratu sehari. Melelahkan Sekali," gumam Beeya.


Beeya sudah mengambil kapas juga micellar water untuk membersihkan make up yang begitu tebal yang menempel di wajahnya. Beeya dengan telaten membersihkan wajahnya hingga sampai benar-benar bersih. Wajahnya sangat sensitif. Dia tidak bisa memakai make up tebal. Jika, memakai make up tersebut dan membersihkannya tidak bersih. Pasti akan timbul jerawat keesokan harinya. Itu yang akan membuat dia kehilangan mood selama beberapa hari. Jerawat adalah musuh terbesarnya.


Sang suami sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan bathrobe. Beeya yang tengah fokus membersihkan wajahnya tersenyum ketika melihat suaminya sudah memeluknya dari belakang. Senyuman yang begitu lebar dan senyuman yang begitu tulusm


"Mau berendam?" tanya Iyan kepada Beeya


"Boleh tolong atur air hangatnya gak?" Tentu saja dia tidak akan pernah menolak apa yang diinginkan. Dia berjanji untuk membahagiakan Beeya.


"Makasih, AYang."


"Ayang," rengek Beeya. Ada sedikit ******* yang keluar dari bibir sang istri. Iyan pun menyudahi.


"Aku siapin dulu ya." Beeya mengangguk. Sungguh masih suasana pengantin baru yang masih terasa.


Iyan sudah berganti pakaian memakai kaos dan celana pendek. Dia menunggu sang istri yang belum keluar juga dari kamar mandi. Iyan memilih untuk memainkan ponsel. Terdengar suara pintu kamar mandi terbuka. Mata Iyan menatap ke arah pintu. Sang istri keluar dengan mengenakan bathrobe juga handuk kecil di kepala.

__ADS_1


"Chagiya." Iyan sudah menepuk tempat tidur di sampingnya. Beeya tersenyum. Bukannya naik ke atas tempat dia malah menuju ke goody bag besar. Mengambil ****** ********.


"Atuhlah. Jangan pakai!" larang Iyan.


"Hanya ini, Ayang, yang ini gak pakai." Beeya menunjukkan dua gunung kembarnya secara langsung ke arah sang suami tercinta. Sungguh Iyan tidak bisa berkedip di buatnya. Begitu mulus, putih, besar dan ada chochips berwarna pink yang menggugah selera.


Beeya berjalan dengan memakai bathrobe ke arah sang suami. Ketika dia hendak naik ke atas tempat tidur, Iyan sudah menyerang bibirnya. Sungguh Beeya tersenyum dibuatnya. Rasa lelah ditubuh mereka hilang seketika. Iyan menyesap lembut bibir manis sang istri. Beeya pun membalasnya dengan tak kalah Manisa. Tangan Iyan sudah membuka bathrobe yang istrinya gunakan. Tangannya mulai menyentuh gunung kembar yang sangat menggoda. Desisan bagai ular terdengar begitu seksi di telinga Iyan. Pagutan mereka belum berakhir. Tangan Beeya sudah melingkar di leher sang suami.


Deru napas mereka beradu. Mereka mulai memundurkan wajah mereka karena napas Merkea hampir habis.


"Ayang, kamu mau ini?" Beeya menyodorkan sumber asi teebaik miliknya.


"Apa boleh?" Tentu saja, Ayang. Iyan langsung melahapnya. Perlakuan lembut Iyan membuat Beeya melayang. Inikah uang dinamakan terbang ke awang-awang. Dia merasa keenakan begitu juga dengan Iyan.


"Boleh minta yang lain gak?" Beeya pun membuka matanya. Dia tersenyum, tapi kepalanya menggeleng.


"Ini dulu ya, Ayang. Kita cicil dulu, ya. Biar tahu sensasinya." Iyan mengangguk pasrah. Dia akan mengikuti apa yang dikatakan oleh Beeya.

__ADS_1


Beeya memasrahkan ASI-nya kepada sang suami tercinta. Biarlah dia puas melakukannya. Iyan bagai anak bayi sedari tadi mulutnya menghiesap sumber asi. Padahal dia tahu itu tidak akan keluar air ataulun susu. Hingga pagi menjelang bibirnya masih menempel di gunung putri tersebut. Setiap kali Beeya melepaskan gunung putrinya dari mulut Iyan, suaminya akan teebangun dan akan terus mencari sumber susu. Beeya jadi tidak tega dan langsung menyerahkannya lagi kepada sang suami.


__ADS_2