Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
146. (Masih) Belum Ikhlas


__ADS_3

"Bro, gua datang sekarang bersama anak kita, Beeya dan Iyan." Suara Arya bergetar. Ada rasa nyeri di dadanya ketika mengatakan itu.


Berada di samping pusara sang sahabat masih sama seperti dua tahun lalu. Sakit.


"Gua gak tahu harus bilang apa. Setiap gua ke sini, mulut gua terasa tercekat. Gua kayak orang gagu. Gua gagap kalau udah di depan pusara lu. Gua-"


Arya tidak dapat melanjutkan ucapannya. Semakin sakit hatinya. Kini, terlihat punggungnya yang bergetar. Jangan ditanya bagaimana reaksi anak-anak dan para manantu Rion. Mereka hanya menunduk dalam. Kedua putri Rion tak hentinya menyeka ujung mata. Iyan, dia hanya bisa menunduk dengan air mata yang menetes membasahi wajah. Dia akan selalu rapuh jika berhadapan dengan pusara sang ayah.


Suasana mendadak hening. Hanya angin semilir yang kini bertiup menerpa tubuh mereka. Dua tahun, tidak membuat mereka bisa mengikhlaskan kepergian seorang duda yang memiliki kharisma. Duda yang selalu menyebarkan gelak tawa.


"Gua ke sini cuma mau bilang, kalau sebenatar lagi anak gua mau nikah. Sebentar lagi gua punya cucu, tua kayak lu yang punya lima cucu." Suara berat, isakan kecil mampu terdengar di telinga.


Riana sudah tidak sanggup menahan tangisnya. Dia memeluk tubuh suaminya. Menumpahkan apa yang tengah dia rasakan. Sedih, janga ditanya lagi. Beeya, dia memeluk erat tubuh Iyan dari samping. Dia tahu calon suaminya ini tengah menangis.


Si triplets, mereka pun ikut menunduk dalam. Aleeya memeluk nisan sang kakek. Aleesa hanya bisa menunduk dalam dan Aleena dia sudah memeluk tubuh Agha.


"Benar kata lu, anak kita berjodoh. Iyan, anak yang pendiam mencintai anak gua yang urakan. Anak gua yang nakal dan-"


Lagi-lagi Arya tidak bisa melanjutkan ucapannya. Terlalu rapuh hatinya. Beby sudah mengusap punggung suaminya.


"Duda karatan," panggil Arina. "Intinya, lu sama si Sunarya akan jadi keluarga besar. Kalian akan jadi besan." Arina mewakili adiknya yang tidak bisa berkata.


"Perjodohan semasa anak kalian orok dicatat oleh malaikat dan sekarang dikabulkan oleh Tuhan. Kalian emang sahabat sejati. Hingga menurun kepada anak kalian, yang tidak mau dipisahkan."


Tubuh Arya semakin bergetar. Dia teringat akan persahabatannya dengan Rion Juanda. Persahabat dari semenajk SMA hingga mereka tua. Penuh pertengkaran, tapi tetap rukun kemudian. The real friendship, begitulah persahabatan mereka berdua.


"Ayah." Kini, Radit yang membuka suara. Dia harus mewakili istrinya yang tak bisa berkata jika di depan pusara ayahnya.


"Kedatangan Radit bersama keluarga kita, juga keluarga Om Arya hanya ingin menyampaikan." Menjeda sejenak. Walaupun sesak dia harus menyelesaikan perkataannya.


"Bahwasannya sekarang ini putra bungsu Ayah sudah dewasa. Dia sudah menemukan wanita yang baik, juga sudah pasti Ayah kenal dengan wanita pilihan putra Ayah tersebut. Wanita yang mungkin dianggap menyebalkan dan selalu menjadi biang kerok. Namun, wanita itulah yang mampu merebut hati Iyan dan mampu membuat Iyan menjadi budak cinta." Radit mencoba untuk tersenyum dan tegar. Jika, sudah begini dia pun teringat akan mendiang sang Papih.


"Ayah, putra bungsu Ayah akan selalu kami jaga. Akan selalu kami dampingi, dan dua Minggu lagi putra bungsu Ayah itu akan melepas masa lajangnya. Abang yakin, Ayah di sana akan sangat bahagia melihat Iyan menjabat tangan sahabat Ayah sendiri."


Ada getaran dari perkataan yang Aksa ucapkan. Bukan hanya anak-anak serta sahabat Rion yang merasa belum ikhlas. Dua menantunya pun merasakan hal yang sama. Meskipun mereka sering beradu mulut dengan sang mertua, tetap saja rasa sayang yang ada di hati mereka.


"Meskipun Iyan sudah menikah, Radit janji Radit dan semuanya akan tetap menjaga Iyan. Dia tetaplah adik kecil kami."


Punggung Iyan bergetar hebat mendengar apa yang dikatakan oleh Radit. Hatinya mencelos. Ada bahagia juga sedih. Dia benar-benar tidak menyangka jikalau kakak iparnya akan menyayanginya dengan begitu tulus.


"Maafkan istri Radit dan Riana, Ayah. Mereka berdua masih belum sepenuhnya menerima kepergian Ayah. Mereka akan selalu menjadi wanita rapuh jika datang ke sini. Maafkan mereka, Ayah." Radit memeluk tubuh Echa. Terdengar isak tangis yang cukup keras. Begitu juga dengan Riana.


Mereka memanjatkan doa untuk sang ayah tercinta. Menaburkan bunga di atas pusara Rion Juanda yang dipenuhi rumput hijau yang terawat.


Sekarang, mereka semua memberikan waktu kepada Iyan dan Beeya untuk berbicara di samping pusara Rion. Sedari tadi Iyan belum membuka suara. Terlalu sulit, terlalu sakit, juga terlalu perih untuk berbicara.


"Ayah, makasih sudah memiliki putra yang tampan, putra hebat, putra yang kuat seperti Iyan. Makasih sudah bergurau menjodohkan Bee dengan Iyan dan pada akhirnya kami berjodoh sungguhan." Beeya menatap ke arah Iyan yang berwajah sendu. Menggenggam tangan calon suaminya dengan begitu erat.


"Bee yakin, Ayah akan merestui hubungan Bee dan juga Iyan. Ayah juga akan meridhoi hubungan kami berdua. Doakan kami ya, Ayah. Semoga bisa menjadi keluarga muda yang bahagia hingga maut memisahkan."


Iyan masih mendengarkan. Dadanya terasa sangat sesak. Usapan di punggung tangan membuat Iyan menoleh kepada Beeya. Hanya sebuah senyum penuh arti yang Beeya tunjukkan.


"Ayah, maaf ... putra Ayah ini masih jadi anak cengeng." Iyan menunduk kembali. Beeya segera memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Dia tahu calon suaminya ini tidak pernah kuat jika membahas perihal ayahnya yang telah pergi.


"Serapuh itukah kamu, Yang?" batin Beeya.


Tangannya refleks mengusap lembut rambut Iyan. Dia pun mengecup ujung kepala Iyan. Hanya tangis yang Iyan lakukan di sana. Beeya tidak dapat berkata apapun.


Dari kejauhan semua orang menitikan air mata melihat Iyan yang masih sama seperti awal kehilangan sang ayah.


"Tidak ada yang akan bisa benar-benar kuat menerima kenyataan bahwa orang yang paling kita sayangi pergi dan tak pernah kembali." Echa berkata dengan suara bergetar.


"Termasuk kita." Riana memeluk tubuh Echa dengan begitu erat. Dua anak perempuan Rion pun masih merasakan hal yang sama.


"Sekarang saja Iyan sudah seperti ini. Bagaimana jika Iyan mengucapkan ijab kabul nanti?" Kekhawtiran mulai menjalar di hati Echa. Dia takut jika Iyan tak akan bisa berkata sama seperti sekarang.


"Setelah ini kita ke makam Amanda." Bagaimanapun Amanda adalah wanita yang melahirkan Iyan. Tetap menjadi ibu kandungannya, walaupun perlakuannya bagai ibu tiri.


.


"Maaf, aku cengeng." Iyan mulai menatap wajah Beeya ketika mereka mulai menjauhi makam Rion Juanda.


"Gak apa-apa, Yang. Wajar kalau kamu menangis untuk orang yang benar-benar berarti di dalam hidup kamu." Beeya tersenyum ke arah sang tunangan. Akhirnya menular kepada Iyan dan pemuda bisa tersenyum walaupun masih terlihat sendu di matanya.


"Tadi aja cengeng, sekarang gandengan. Orang dewasa mah aneh." Mulut Gavin Agha Wiguna tetap saja pedas.

__ADS_1


Walaupun tak sebawel dulu, tetap saja turunan Rion Juanda. Mulutnya berlevel pedas mampoes.


"Namanya juga bucin," sahut Aleesa.


"Perut yang gendut itu, ya," tebak Gavin.


"Itu buncit!" pekik si triplets.


Suasana mendadak ceria karena celotehan Agha juga si triplets. Bukannya mereka tidak merasa kehilangan, tapi mereka tidak suka jika orang tua mereka dan keluarga mereka bersedih.


Aleesa tersenyum kepada satu sosok yang sedari tadi berada di belakang Iyan. Ada lelehan air mata sebelum Aleesa menaiki mobil kedua orang tuanya.


"Kami semua sayang, Engkong. Kami rindu Engkong."


Sosok tersebut hanya tersenyum dan melambaikan tangan menandakan perpisahan.


...******...


Kesedihan itu bukan hanya milik Arya juga anak-anak Rion Juanda semata. Ada laki-laki tampan yang meraskan hal yang sama.


2 tahun yang lalu ...


Waktu tidak terasa cepat berlalu. Sudah lima tahun Aska dan Jingga beserta keempat anaknya tinggal di Singapura. Semenjak tinggal di sana Aska jarang memiliki waktu untuk keempat anaknya juga istrinya. Namun, dia selalu menyempatkan waktu untuk sekedar berbincang dan bercanda ria. Walaupun hanya satu sampai dua jam bersama anak-anak. Jingga pernah menuntut quality time, tapi suaminya belum bisa memenuhi karena kesibukan yang luar biasa yang tidak bisa Aska tinggalkan.


Melihat sikap suaminya, Jingga pun pernah bercerita kepada Riana. Dia bertukar pikiran dengan sang kakak ipar yang juga lebih dulu pernah mengalami LDR-an dan juga berada di posisi yang hampir sama dengannya, yakni suaminya memiliki perusahaan yang tengah dirintis dan mengharuskan suaminya fokus pada perusahaan tersebut. Riana pun menyamakan apa yang terjadi pada dirinya dan juga Jingga ketika baru pertama menikah.


"Jangankan quality time untuk berbincang saja susah." Itulah yang Riana katakan. Suaminya adalah orang pekerja keras. Dia tidak akan pernah menunda pekerjaan dan akan selalu mengerjakan hingga selesai Tak dia pedulikan waktu yang terus berputar.


Keempat anaknya pun masih setia dalam kepura-puraan. Terkadang mereka mengeluh. Hanya saja mengeluh pada saudaranya bukan kepada kedua orang tuanya. Satu hal yang tidak mereka inginkan yakni melihat Bunda dan ayahnya bersedih karena mereka. Ayahnya bekerja di sini itupun untuk masa depan mereka bukan untuk siapa-siapa.


Sebuah kabar mengejutkan Aska terima dari Jakarta. Ayah dari kakaknya, yakni Riom Juanda meninggal dunia. Aska terkejut pasalnya dia tahu duda pelit itu tidak sakit. Aska pun segera terbang seorang diri menuju Jakarta. Bukan tanpa alasan keempat anaknya harus bersekolah dan dia pun memilih bolak-balik Jakarta-Singapura-Jakarta.


Ketika berada di rumah duka, tidak ada orang yang tidak menangis. Ketiga anak Rion Juanda, yakni kakaknya juga kakak iparnya terlihat sangat terpukul dengan kepergian ayah mereka. Belum lagi putra bungsu dari sang mendiang yang terus menitikan air mata. Kepergiannya yang secara mendadak membuat mereka tida siap.


Bukan hanya anak-anak yang merasa kehilangan, dua menantunya pun terlihat sangat berduka. Di balik kesibukan Aksa dan Radit mengurus jenazah, ada air mata yang mereka tahan. Belum lagi kelima cucu sang mendiang yang terus menangis. Terutama Aleeya.


Aska memeluk tubuh Gavin. Anak itu terus menangis tak henti. walaupun mereka berdua sering bertengkar dan beradu mulut, tapi begitulah cara mereka menyalurkan kasih sayang mereka. Gavin terus memanggil nama sang kakek. Dia menangis dengan memeluk tubuh Ghea. Aska pun memeluk tubuh bocah yang belum genap berumur 10 tahun itu juga memeluk adiknya, Ghea. Aska mencoba menenangkan. Belum lagi ketiga keponakannya yang lain yang terus memeluk tubuh Iyan, putra bungsu Rion Juanda.


Melihat kejadian ini Aska merasa banyak hal yang sudah dia lewatkan. Banyak hal yang tidak dia ketahui tentang keluarganya selama lebih dari lima tahun ini. Aska mencoba untuk bertahan di Singapura, tidak pernah mendengar kabar buruk apapun karena mereka pun yang berada di Jakarta seakan menutup sekecil apapun kabar buruk yang terjadi di sini. Mereka tidak ingin Aska kepikiran dan berujung pada kesehatan juga pikiran yang bercabang yang nantinya akan mengganggu pekerjaan..


Begitulah janji yang dia ucapkan di dalam hati. Harus bekerja keras agar dia bisa cepat kembali ke rumah di mana dia dibesarkan dan rumah di mana banyak menyimpan kenangan.


Air mata terus mengalir deras di wajah keluarga besar termasuk kedua orang tuanya. Dia tahu bagaimana kedekatan kedua orang tuanya dengan ayah sang kakak yang tak lain sang mendiang adalah mantan suami dari ibunya. Ketika jenazah datang, air mata tumpah dengan begitu deras semua memanggil namanya seakan semua orang kehilangannya.


Satu hal yang membuat hati Aska sakit dan sedih, ketika melihat anak bungsu dari Rion Juanda yang terus menangis memeluk jasad sang ayah yang sudah terbujur kaku. Hati Aska sangat sedih, hati rasanya sangat sakit melihatnya. Bagaimana tidak anak itu Belum cukup dewasa, anak itu sedang mencari jati dirinya baru kuliah dan harus ditinggalkan oleh sang ayah. Sedangkan ibunya pun sudah berpulang lebih dahulu ketika dia masih kecil.


Aska membayangkan jauh ke depan. Bagaimana dia menikah nanti. Bagaimana perasaannya menikah tanpa didampingi sang ayah juga sang ibu. Bagaimana Iyan bisa menghadapi semuanya. Dia tahu anak itu sangat dekat dengan ayahnya. Hanya kata ayah, ayah, dan ayah yang Iyan ucapkan.


"Jangan tinggalkan Iyan, Ayah. Jangan yimggalakn Iyan!"


Mendengar kalimat itu dada Aska rasanya sesak. Dia membayangkan bagaimana jika itu terjadi pada anak-anaknya. Ditinggalkan olehnya di waktu anak-anaknya masih membutuhkan sosok seorang ayah. Itulah yang membuat semua keluarga Aska terutama keluarga besar menangis melihat Iyan yang terus menjerit memanggil nama ayahnya.


Apalagi ketika di pemakaman tiba. Ketika jasad diturunkan ke liang lahat Iyan hanya terdiam dengan air mata yang mengalir begitu deras. Suara Iyan Sudah tidak ada. Tubuhnya pun sudah tidak ada perlawanan. Iyan terus berada di atas. Dia tidak sanggup untuk berada di bawah meamasukkan jenazah ke dalam perut bumi. Dia tidak ingin air matanya menetes mengenai tubuh ayahnya dan akan memberatkannya nantI di akhirat. Aska tengah membayangkan jikalau itu dirinya. Bagaimana dengan putranya nanti.


Aska yang berencana setelah pemakaman akan kembali ke Singapura. Akhirnya membatalkan rencana awal dia tidak tega meninggalkan keluarga besarnya yang masih berselimut duka.


Sang ibu masih saja menangis dia kehilangan sosok seorang kakak. Mantan suami yang begitu baik. Walaupun pernah ada luka yang sama dia yang torehkan, tapi sang ibu sudah memaafkan dan membuka lembaran baru. Menjadikan mantan suaminya itu sebagai kakak untuknya.


"Kenapa Mas pergi terlalu cepat?" Begitulah gumamnya.


Aska tak tega melihatnya. Dia memeluk tubuh ringkih sang Bunda Begitu juga dengan ayahnya. meninggalkan ibunya dalam kondisi seperti ini dia tidak bisa, setidaknya dia harus menemani sang Bunda di malam ini.


Aska pun tak lupa menghubungi istri dan keempat anaknya dia menjelaskan bahwa dia tidak bisa kembali hari ini juga.


"Enggak apa-apa, Yah. Lagian kalau pulang pergi juga kan capek," jawab Jingga di balik sambungan telepon. "Besok pagi aja baru balik ke Singapurnya," lanjut istrinya lagi.


"Maaf ya, malam ini Bunda hanya tidur dengan anak-anak." Jingga hanya tersenyum.


"Salam untuk semuanya, ya. Maaf Bunda nggak bisa datang, anak-anak sekolahnya gak bisa ditinggal." tuturnya


Aska sengaja menghubungi sang istri di depan kedua kakaknya juga keluarganya agar mereka mendengar apa yang tengah jingga lakukan di sana. Kenapa dia tidak bisa pulang ke Indonesia walaupun hanya sehari saja.


"Enggak apa-apa. Kakak tahu kok gimana sibuknya kamu di sana ngurus anak-anak. Sehat-sehat terus ya di sana. Jangan lupa bahagia." Sang kakak menjawab.


Jingga terkejut mendengar suara kakak iparnya. Aska tidak bilang jika dia menghubungi dirinya di depan semua keluarga. Ketika suara sang kakak terdengar, barulah Aska menunjukkan gambar orang-orang yang tengah berada bersama suaminya.

__ADS_1


"Iya Kak. Kalau anak-anak nggak sekolah pasti aku ikut pulang."


"Yang penting minta doanya aja ya. Semoga ayah tenang di sana." Echa mencoba untuk tersenyum, di wajahnya yang sangat terlihat sendu.


Suara sang kakak membuat hati Jingga bergetar. Dia tahu bagaimana rasanya kehilangan sosok seorang ayah. Dia merasakan betapa pedihnya hati sang kakak ipar sekarang ini. Dari suaranya saja sudah terdengar teramat berat.


"Semua keluarga yang sabar ya. Ayah orang baik pasti Ayah tenang di sana pasti ayah masuk surga."


Semua orang yang mendengar mengaminkan sebuah doa yang begitu tulus yang Jingga ucapkan. Dia juga merasakan kehilangan sosok seorang Rion Juanda yang sudah diangapanya seperti ayahnya sendiri.Rion yang memang selalu asal dalam berbicara, tapi memilih kasih sayang yang luar biasa. Itulah yang Jingga suka.


Keesokan paginya Aska akan berangkat ke bandara untuk kembali lagi ke Singapura. Sebelumnya dia berpamitan kepada kedua kakaknya yang terlihat jelas masih berduka.


Ketiga anak ayah Rion Juanda terlihat sangat sendu terutama sang kakak dengan wajah yang sembab mata yang memerah dan hidung juga masih merah. Terlihat jelas betapa kakaknya itu kehilangan sosok seorang ayah.


Juga Sama halnya dengan Riana. Wajah cantiknya terlihat sangat muram dan tidak bercahaya. Dia mampu melengkungkan senyum, tapi senyum penuh kepedihan dan senyum yang sengaja dia paksakan. Dia harus terlihat baik-baik saja karena dia tahu kakaknya lebih hancur dibandingkan dirinya.


Aska memeluk tubuh Sang kakak. Dia mengusap lembut punggung kakaknya yang sedikit bergetar menahan tangis.


"Adek pulang dulu ya, Kak. Kakak jaga kesehatan. Ada anak-anak kakak yang butuh kakak. Percayalah Ayah sudah tenang di sana ayah akan sedih jika melihat Kakak terus menangis seperti ini."


Punggung Echa semakin bergetar dia menangis dan Aska dapat merasakan pundaknya basah karena tangisan sang kakak. Hatinya hancur dia baru melihat kakaknya sehancur ini kakaknya. Serapuh ini Aska melonggarkan pelukannya dia menatap lekat wajah sang kakak yang begitu menyedihkan. Tangannya mengusap lembut pipi sang kakak yang basah dengan air mata


"Kakak yang sabar ya. Adek tahu, mengikhlaskan itu sulit, tapi setiap yang mati pasti tidak akan pernah kembali." Echa pun menggangguk. Dia tersenyum dengan sangat perih.


"Makasih, kamu udah menyempatkan waktu untuk pulang ke sini." Ucapan yang begitu tulus yang dilontarkan oleh Echa. Dia tahu sang adik benar-benar sibuk. Sang adik tidak bisa diganggu dan sang adik tidak bisa kemana-mana selama beberapa tahun ini.


"Tidak perlu berterima kasih, Kak. Ini sudah kewajiban Adek untuk pulang ketika keluarga kita sedang dilanda musibah. Kakak yang sabar ya Kakak kuat Kakak adalah kakak Adek yang paling hebat."


Terlihat juga Riana menyeka ujung matanya ketika melihat sang kakak masih saja menangis. Hanya Aksa tempat ternyaman untuknya mencurahkan segala perasaannya juga air matanya perihal kehilangan sang ayah untuk selama-lamanya. Dia tidak ingin menambah kesedihan kepada sang kakak juga adiknya.


Aska juga berpamitan kepada Riana. Dia memeluk tubuh kakak iparnya tersebut. Riana bisa dibilang lebih kuat dari sang kakak, tapi Aska juga tahu hatinya begitu rapuh dan tak kalah hancur dari sang kakak.


"Hati-hati ya, Kak. Salam untuk keempat keponakan Ri," ucapnya dengan senyum yang masih bisa mengembang di dalam luka yang masih bersarang.


"Pasti. Mereka juga merindukan kamu dan juga kedua anakmu. Kakak tunggu kamu dan abang main lagi ke sana." Riana masih melengkungkan senyum yang begitu manis.


Hanya Iyan yang tidak dapat dia temui. Iyan yang paling hancur. Sedari pulang dari pemakaman, Iyan seolah mengunci diri di kamar. Dia tidak ingin diganggu. Dia telah bergelut dengan kesedihannya sendiri. Kedua kakaknya pun membiarkannya karena yang paling terpukul dan merasa kehilangan adalah p adik bungsu mereka.


Aska menghampiri sang Abang dan juga kakak iparnya. Aksa dan Radit tengah duduk bersama anak-anak mereka di ruang keluarga. Aska duduk di samping sang Abang, Aksara.


"Jaga istri kalian berdua, mereka sangat hancur. Jangan pernah tinggalkan mereka." Sebuah pesan yang Aska ucapkan kepada Aksa dan juga Radit. Kedua pria itu pun menggangguk.


"Tanpa lu suruh, pasti gua akan lebih menjaga istri gua," sahut Radit.


"Lu fokus aja beresin perusahaan di sana. Cepat kembali."Sebuah kalimat perintah dan juga kalimat penuh harap yang Aksa berikan kepada adiknya jujur dia merasa kehilangan adiknya yang sudah lebih dari 5 tahun ini meninggalkan dirinya. Walaupun dia sering main ke sana tapi suasananya berbeda.


Aska terdiam ketika melihat kelima keponakannya masih bergelut dengan rasa sedih. Wajah ceria mereka nampak hilang berganti dengan wajah sendu dan pilu. TV menyala tapi mata mereka tidak terfokus ke sana.


"Uncle, pamit ya. Uncle harus kembali ke Singapura." Mereka berlima kompak mengangguk.


"Jangan sedih lagi. Doakan Engkong biar Engkong bahagia di surga sana." Aska memeluk tubuh keponakannya satu per satu. Memeluk tubuh Gavin lebih lama dari yang lain.


"Anak laki-laki gak boleh cengeng. Harus kuat." Sebuah kalimat yang membuat Gavin menatap ke arah sang paman.


"Lelaki hebat adalah lelaki yang pantang menyerah dan pantang menangis." Seulas senyum Aska berikan. Dia ingin menyemangati sang keponakan tampannya.


.


Askara masih memikirkan perihal ayah Rion Juanda yang pergi tanpa aba. Seolah dia tidak ingin menyusahkan semuanya.


"Kenapa ngelamun, Yah?" tanya sang istri.


"Ayah orang baik, pergi pun dengan sangat muda," ujarnya. Jingga pun tersenyum. Dia melihat suaminya ini sangat merasakan kehilangan yang mendalam.


"Umur manusia hanya Tuhan yang tahu. Kemarin Ayah, esok atau lusa bisa jadi kita." Sontak Aska menoleh ke arah sang istri.


"Memang begitu 'kan kenyataannya. Sekarang ini banyak yang sehat, tapi besoknya meninggal. Sedangkan yang sakit malah panjang umur. Maka dari itu, kita harus banyak beramal tanpa menunjukkan. Siapa tahu saja salah satu amal kita bisa membantu kita terlepas dari api neraka."


Aska tersenyum mendengar ceramah dadi sang istri tercinta. Dia mengecup kening Jingga dengan begitu lama. Waktu untuk berdua sudah sangat jarang.


#off.


"Kenapa bayang-bayang Ayah mengitari kepala terus? Adek akan pulang, Ayah. Adek janji."


....

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2