Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
88. Beda Usia


__ADS_3

Sebelum baca bab ini, silahkan baca bab 87 sudah direvisi semua dan jangan lupa tinggalkan komentar. Terima kasih. 🙏🏻


...----------------...


Mereka berdua masih bergelut dengan pikiran mereka masing-masing. Memikirkan hal yang sama perihal usia.


Namun, Beeya melihat ke bentang jarak antara ayahnya juga sang ibu yang cukup jauh juga. Mereka hidup bahagia sampai sekarang. Beeya memejamkan mata sejenak. Hembusan napas kasar keluar dari bibirnya dan mampu terdengar di telinga Iyan. Namun, Iyan juga masih terdiam.


Siluet wajah wanita asing masuk ke dalam pikiran Beeya. Wanita itu cantik dan sangat terlihat keibuan. Dia tersenyum ke arah Beeya.


"Kebahagiaan itu tidak dilihat dari seberapa banyak dan seberapa sedikit usia yang kita miliki. Umurnya yang banyak belum tentu dewasa, begitu juga dengan umurnya yang lebih sedikit belum tentu manja." Beeya bagai masuk ke dalam dimensi lain.


Sosok itu kini tidak sendiri. Ada sosok yang berbadan tegap dan bertubuh besar, ada sosok pemuda yang sama seperti Iyan juga ada sosok botak. Namun, mereka menyerupai manusia. Mereka pun bersikap hangat kepada Beeya. Menyapa Beeya dengan senyuman khas mereka masing-masing.


Wanita yang tidak terlalu tua itu mengusap lembut pundak Beeya. Dia menatap intens wajah Beeya.


"Setiap manusia memiliki kekurangan. Tidak ada manusia yang sempurna." Wanita itu masih menyunggingkan senyum yang sangat manis.


"Tutupi kekurangan di antara


kalian dengan kelebihan yang kalian miliki. Itulah pasangan yang sebenarnya."


Sebuah petuah yang seakan menjadi titik terang daroli apa yang tengah Beeya pikirkan. Dia berbalik memandang wanita tersebut. Bibirnya pun tersenyum ke arah sang wanita


"Iyan anak baik," ucap seorang pria berbadan tegap yang kini menghampiri Beeya. "Dia anak yang luar biasa. Tidak pernah saya melihat Iyan jatuh cinta kepada seorang wanita, kecuali sama kamu."


Beeya pun terdiam. Mencerna apa yang dikatakan oleh pria kekar itu.

__ADS_1


"Iyan sahabatku, Iyan memang benar-benar mencintai kamu. Apapun akan dia lakukan, termasuk dia selalu mengorbankan tubuhnya karena dia tidak ingin kamu melihat hal yang menakutkan ketika menyentuh tangan Iyan." Beeya menukikkan kedua alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti akan ucapan yang dikatakan oleh seorang pemuda yang seumuran dengan Iyan. "Tubuhnya selalu merasakan kesakitan setiap kali kamu menggenggam tangannya. Dia selalu menahannya karena dia ingin terus melindungi kamu. Tidak ingin membuat kamu takut ketika kamu memegang tangan Iyan," jelasnya.


"Ketulusan hatinya untuk menjaga kamu akhirnya membuat Tuhan sangat baik kepada Iyan. Iyan tidak merasakan kesakitan lagi ketika kamu menyentuh tangannya. Kami juga tidak akan pernah bisa melihat hal yang menakutkan apapun."


Menyentuh tangan, apa yang dimaksud oleh sahabat Iyan itu? Beeya masih belum mengerti. Dia mencoba menerka-nerka.


"Tolong jaga anak ibu, ya."


Ucapan tulus terlontar dari mulut wanita paruh baya tersebut. Matanya sudah berkaca-kaca. Beeya cukup terkejut mendengarnya.


"Tugas ibu menjaganya sudah selesai. Sekarang, kamulah yang bertugas menjaga anak laki-laki ibu yang cengeng itu." Bibirnya mampu tersenyum, tetapi hati ibu itu sangat sedih dibuatnya.


Beeya tahu wajah ibu dari Iyan bukan seperti itu. Lalu, siapakah ibu ini? Apa Iyan memiliki ibu kedua?


"Jaga keponakan Om, ya."


Guncangan yang diakibatkan karena adanya polisi tidur membuat Beeya membuka matanya. Dia melihat sekelilingnya dengan tatapan bingung. Di sampingnya ada Iyan dan dia masih ada di dalam mobil.


"Tolong berhenti di sini."


Ucapan Beeya membuat Iyan menoleh. Pemuda itupun segera menginjak rem dan berhenti di jalanan yang cukup sepi. Beeya menatap ke arah Iyan dengan tajam.


"Jangan pedulikan ucapan Angga tadi," ujar Beeya. Dia menatap Iyan dengan tatapan tak terbaca.


"Aku tahu, kamu memikirkan perihal perbedaan usia di antara kita berdua."


Mendengar ucapan dari Beeya, Iyan pun menoleh. Dia menatap Beeya dengan tatapan tak terbaca.

__ADS_1


"Usia itu tidak menjamin segalanya. Buktinya, banyak manusia yang berusia muda memiliki pikiran yang dewasa. Banyak juga manusia yang berusia tua memiliki pemikiran kaya kanak-kanak," papar Beeya.


Iyan masih terdiam. Beeya sudah meraih tangan Iyan dengan sangat lembut.


"Aku gak peduli dengan yang namanya perbedaan usia. Aku lebih mementingkan perihal kenyamanan. Tidak selamanya pria yang sama usainya dengan aku, bisa membahagiakan aku dan membuat aku nyaman," terangnya. "Malah kamu, seorang berondong yang mampu membahagiakan aku. Mampu menjadi sosok yang mengemong aku. Dari situlah aku mengerti, usia tidak bisa menjadi tolak ukur kedewasaan seseorang."


Sudut bibir Iyan pun sedikit terangkat. Beeya masih menatap pemuda itu penuh cinta.


"Hanya lima tahun jarak usia di antara kita, tapi aku tidak akan mempermasalahkan itu. Malah aku senang karena aku bisa memikat hati seorang berondong tampan seperti kamu."


Iyan pun tertawa melihat senyuman manis yang Beeya berikan. Hatinya luluh lantah hanya dengan sebuah senyuman yang membuat hatinya damai. Iyan menarik tangan Beeya, mengecup ujung kepalanya dengan lembut.


"Aku hanya tidak ingin kamu malu karena usiaku lebih muda dari kamu," ujarnya. Beeya pun menggeleng dalam pelukan sang kekasih.


"Aku tidak peduli dengan omongan orang lain. Aku hanya peduli dengan kebahagiaanku saat ini karena orang lain pun tidak peduli dengan kebahagiaanku. Bisanya hanya menggunjing kesedihanku."


Iyan melonggarkan pelukannya. Dia menatap ke arah Beeya dengan tatapan lembut.


"Aku peduli dengan kebahagiaan kamu. Maka dari itu, aku ingin selalu membuat kamu bahagia."


Beeya tersenyum bahagia mendengar ucapan Iyan. Pemuda di depannya bukanlah seorang pendusta. Kekhawatiran mereka pun sirna sudah. Tangan mereka terus saling bertaut. Sesekali Iyan membawa punggung tangan Beeya untuk dia kecup.


Mobil pun sudah berbelok masuk ke area rumah Arina. Senyum merekah dari bibir mereka berdua. Tangan Beeya pun melingkar mesra di lengan Iyan. Pintu rumah baru saja mereka tutup. Suara langkah tedengar. Mereka berdua melihat ke arah suara dan mata Iyan melebar. Antara percaya atau tidak.


"Ghea."


...****************...

__ADS_1


Komen dong ....


__ADS_2