Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
81. Obat Mujarab


__ADS_3

"Itu tandanya pengen cepat-cepat dihalalin," sergah Arina.


Mata Beeya melebar sedangkan Iyan hanya tersenyum. Beeya penasaran dengan rasa bubur yang dia buat. Dia segera mengambil mangkuk, mengisinya dengan bubur, kaldu, kecap Manis, suwiran ayam, bawang goreng, sambal juga kerupuk.


Beeya termasuk ke dalam tim bubur yang diaduk. Dia pun mulai menyuapkan bubur yang sudah dia racik ke dalam mulutnya. Seketika matanya melebar dan dia segera berlari menuju wastafel memuntahkan bubur yang dia buat sendiri.


Arina dan Beby pun tertawa. Iyan yang masih lemah malah menghampiri Beeya dan membawakan segelas air untuk Beeya minum.


"Kenapa kamu habisin? Rasanya asin banget," ucap Beeya setelah meneguk segelas air putih yang Iyan berikan.


Iyan hanya tersenyum dan dia mengusap ujung kepala Beeya. "Aku tidak akan membuang makan yang sudah susah payah kamu buat untuk aku."


Ah, ingin sekali Beeya berteriak mendengar ucapan dari Iyan. Sungguh membuat hatinya meleleh. Sama halnya dengan Arina yang sudah tersenyum ke arah Beby.


"Aduh, mau gak kamu jadi baby sugarnya Bu'de."


Beeya segera memeluk tubuh lemah Iyan seakan menunjukkan Iyan hanya miliknya. Arina pun membalasnya dengan cebikan bibir. Iyan malah tertawa.


"Bawa Iyan ke kamar, Bee. Nanti direbut Bu'de," ujar sang ibu.

__ADS_1


Beeya pun membawa tubuh Iyan kembali ke kamar dan menjulurkan lidah ke arah Arina. Dia mengatakan bahwa dialah pemenangnya.


Beeya membantu Iyan berbaring di tempat tidur. Menaikkan selimut hingga ke dada. Punggung tangannya pun dia letakkan di atas dahi sang kekasih, mengukur suhu badan Iyan.


"Panasnya sih udah turun," ucapnya. "Kalau kamu merasa mual, bilang ya. Nanti kita langsung ke dokter." Terlihat wajah Beeya sedikit ketakutan.


Iyan malah tertawa. Dia meraih tangan Beeya dan mengusap lembut punggung tangan wanita yang dia sayangi. Menatap manik mata Beeya dengan penuh kehangatan.


"Aku gak apa-apa, Chagiya," ucapnya.


"Maaf," sesal Beeya.


"Aku sangat merindukan kamu."


Beeya pun terdiam sejenak mendengar kalimat yang dilontarkan oleh Iyan. Dia ikut menatap wajah Iyan yang juga tengah menatapnya. Tiba-tiba Beeya memajukan wajahnya dan meloemat lembut bibir Iyan. Menyesappnya dengan penuh cinta. Tangan Iyan pun sudah berada di samping leher Beeya. Dia yang awalnya terkejut, sekarang malah membalas tak kalah lihai. Pergulatan bibir yang sangat amat manis. Mereka bermain lembut, tak ingin rakus karena mereka ingin meresapi bibir satu sama lain. Meluapkan rindu yang menggebu. Sepuluh hari bagaikan sepuluh tahun.


Oksigen yang semakin menipis membuat mereka berdua menjauhkan wajah mereka masing-masing. Mata mereka masih saling menatap dan lengkungan senyum terukir di bibir mereka berdua.


"Aku masih merindukan ini." Iyan sudah mengusap bibir pink Beeya dengan ibu jarinya karena basah akibat ulahnya.

__ADS_1


Beeya mengecup kembali bibir Iyan. Namun, dengan durasi yang sangat singkat. Tangannya kemudian menangkup wajah Iyan yang masih pucat. Kemudian, dia mengecup kening Iyan dengan begitu lembut. Turun ke pipi kanan juga pipi kiri dan sekarang kembali ke bibir merah milik Iyan. Dia membiarkan Iyan membalasnya barang tiga kali balasan. Setelah itu, Beeya memundurkan wajahnya dan tersenyum ke arah sang kekasih hati.


"Cepat sembuh. Aku gak sabar ingin ke pantai bersama kamu."


Iyan pun tertawa dan memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Mencium ujung kepala Beeya dengan penuh cinta.


"Sebenarnya obatnya mudah kalau kamu ingin aku cepat sembuh," tutur Iyan.


Beeya mendongak ke arah sang kekasih yang juga tengah menunduk menatapnya.


"Apa obatnya?" tanya Beeya penasaran.


Iyan malah menjawabnya dengan sebuah kecupan singkat di bibir Beeya.


"Kissing," jawab Iyan dengan begitu santainya.


...****************...


Kencengin dong komennya...

__ADS_1


__ADS_2