Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
153. Membeli Sesuatu


__ADS_3

"Ayo.kita coba!" Beeya segera mendorong tubuh Iyan hingga dia mundur beberapa langkah. Iyan pun tertawa melihat Beeya yang lari ketakutan.


"Jangan harap, ya!" pekik Beeya seraya berlari.


"Parah nih si Wira," gumamnya kesal. Bukan hanya Wira yang selalu mengirimkan video tutorial. Aksa maupun Aska pun menunjukkan sikap aslinya. Mereka berdua pengoleksi ikeh-ikeh.


.


Beeya sudah menyelinap ke kamar sang tunangan ketika hari masih gelap. Jam lima subuh Beeya sudah berada di kamar Iyan karena rencananya jam 7 pagi Beeya dan kedua kakak Iyan akan bertolak ke Singapura.


"Ayang." Beeya memeluk tubuh Beeya dari belakang. Tubuh pria itupun menggeliat karena merasakan tangan yang melingkar di perutnya.


Iyan membalikkan tubuhnya dengan perlahan. Senyum yang begitu manis Beeya tunjukkan.


"Pagi!" Iyan tersenyum kecil. Bukannya bangun dia malah menelusupkan wajahnya ke dada Beeya. Menghirup aroma tubuh Beeya yang harum.


"Kok tidur lagi sih. Udah siang loh." Iyan malah semakin erat memeluk tubuh sang tunangan.


"Alarm ku belum bunyi, Chagiya. Jadi, tidak usah membohongiku." Akhirnya Beeya pun tertawa. Tunangannya ini ternyata tidak mudah untuk dibohongi.


Beeya membiarkan sang tunangan terlelap kembali. Tangan Beeya asyik mengusap lembut rambut lebat Iyan.


"Boleh Mimi gak?" Suara parau Iyan membuat Beeya langsung menunduk menatap Iyan.


"Boleh." Kini, Iyan yang mendongak ke atas.


"Bener?" Mata Iyan sudah berbinar. Beeya pun mengangguk tanpa ragu.


"Siap-siap aja pas akad nikah bibir kamu kaya si Suneo." Iyan pun menghembuskan napas kasar. "Ingat ya, kita itu punya banyak cctv berjalan. Jadi, jangan macam-macam."


.


Di kamar di triplets mereka sudah siap dengan tas masing-masing. Tentunya dengan kartu yang mereka miliki. Belanja ke Singapura adalah hal yang menyenangkan juga paling menyebalkan. Ketika kembali ke Jakarta saldo ATM terkuras habis.


Aleeya berwajah bahagia, beda halnya dengan Aleena. Sedari tadi dia terdiam. Dia teringat akan kejadian semalam.


#Flashback on.


Aleena mengambil minuman di dapur ketika para pria dewasa tengah asyik berbincang di ruang tamu dan para wanita dewasa tengah asyik berbincang di ruang keluarga bersama para sepupunya.


Kepalanya mendadak pusing dan ingin membuat teh panas. Namun, tak sengaja air panas itu mengenai punggung tangannya hingga dia mengaduh. Rangga yang baru masuk ke dapur terkejut dan segera menghampiri Aleena yang tengah meniup-niup punggung tangannya yang merah. Tanpa kata Rangga meraih tangan Aleena dan sontak Aleena terkejut. Rangga menarik tangan Aleena menuju wastafel yang kerannya sudah dia buka. Sengaja tangan Aleena diguyur oleh air yang mengalir. Bibir Aleena terasa kelu. Dia masih menatap wajah Rangga yang teramat serius.


"Masih panas gak?" Suara Rangga baru dapat Aleena dengar lagi. Aleena malah terdiam.

__ADS_1


"Na, tangannya masih panas gak?" Aleena pun tersadar dan menggeleng pelan.


Rangga mematikan keran dan membawa Aleena duduk di meja makan. Mengambil tisu dan mengelap punggung tangan Aleena yang basah dengan begitu lembut.


"Tunggu di sini. Aku ambil obat luka bakar dulu."


Melihat betapa pedulinya Rangga kepadanya membuat rasa bersalah itu semakin dalam. Rangga tidak seperti apa yang dikatakan oleh Kalfa. Rangga memang benar-benar baik.


Obat luka bakar Rangga olesi di tangan putih Aleena. Dia mengoleskan dengan begitu pelan dan merata. "Makanya jangan ngelamun."


Tutup salep luka bakar sudah Rangga tutup dengan begitu rapat. Dia pun beranjak dari duduknya dan hendak menaruh salep itu ke dalam kotak obat.


"Ngga."


Panggilan dari Aleena membuat langkah Rangga terhenti. Namun, remaja itu tidak membalikkan tubuhnya.


"Makasih." Ada senyum tipis yang melengkung di sudut bibir Rangga ketika mendengarnya.


"Hati-hati makanya." Rangga pun berlalu begitu saja..


"Kenapa selalu kamu yang selalu ada untuk membantuku?"


.


"Love you."


"Love you too."


Iyan mengecup kening Beeya dengan sangat dalam hingga wanita itu memejamkan mata. Meresapi kecupan hangat yang Iyan berikan. Selepas itu Beeya malah melingkarkan tangannya di pinggang Iyan. Menatap Iyan yang lebih tinggi darinya.


"Kamu beneran gak mau nemenin aku ke Singapura?" Pertanyaan yang sudah berulang kali Beeya lontarkan. Dia ingin pergi bersama dengan sang tunangan. Memilih seserahan dengan pria yang dia cintai.


"Aku gak bisa. Hari ini hari terkahir aku kerja. Besok kita 'kan harus tinjau sana-sini." Wajah lesu Beeya perlihatkan. Iyan pun menarik tubuh kecil itu.


"Selama tiga hari besok 'kan kita akan terus bersama."


"Aku inginnya ke Singapura sama kamu." Beeya semakin mengeratkan pelukannya.


"Gak bisa, Chagiya." Tegas, begitulah jawaban Iyan.


Iyan mengecup puncak kepala Beeya. Menatap wajah cantik wanita di depannya. "Aku kerja untuk kita nantinya. Aku ingin membahagiakan kamu. Menjadikan ratu di dalam hidup aku."


Hati wanita mana yang tidak tersentuh dengan kalimat seperti itu. Beeya tersenyum dan dia berjinjit mencium bibir Iyan.

__ADS_1


"I want kiss again."


Iyan mengabulkam keinginan Beeya. Bibir mereka asyik bergulat. Menyesap satu sama lain. Menggigit lembut benda manis dan kenyal itu. Beeya maupun Iyan seakan tidak mau melepaskan. Beeya seakan dibawa terbang melayang pagi ini. Ciuman Iyan sungguh berbeda dari biasanya.


Tangan Iyan sudah memberi sentuhan di area sensitif Beeya merasakan desiran aneh menjalar di tubuh. Dia semakin memejamkan mata. Merasakan sentuhan demi sentuhan yang membuatnya melayang.


Beeya membuka mata ketika Iyan sudah memundurkan kepala. Matanya sangat sayu seakan ingin melakukan lebih lagi.


"Aku ingin cepat kamu jadi milikku." Suara parau, tetapi terdengar sangat serius.


"Aku tidak akan melepaskan kamu. Tidak." Iyan memeluk tubuh Beeya dan meletakkan dagunya di pundak Beeya.


"Kamu selalu membuat aku tergoda."


Beeya malah tertawa. Dia mengusap lembut punggung Iyan. Apakah dia akan kuat menghadapi Iyan nantinya? Sikap alimnya hanya kamuflase belaka. Pada nyatanya jika mereka berdua Iyan sekarang sangat agresif.


Ponsel Iyan berdering dan membuat Iyan harus menjauhi Beeya. Biasanya jika pagi begini pesan yang masuk perihal pekerjaan. Beeya memilih untuk membenarkan riasannya. Sudah pasti lipstik yang dia gunakan sudah luntur.


"Chagiya," panggil Iyan. Hanya deheman yang keluar dari mulut Beeya.


"Pulang kerja aku mau ke mall." Tangan Beeya yang sedang mengusapkan lembut liptint di bibirnya menoleh. Menatap Iyan dengan begitu tajam.


"Mau ngapain? Disuruh ikut sama aku mah gak mau," oceh Beeya.


"Mau beli sesuatulah. Masa iya mau cari cewek." Beeya sudah mendekat, dia sudah mencengkeram baju yang Iyan gunakan.


"Ngomong apa tadi?" Wajah Beeya sudah sangat menyeramkan membuat Iyan merutuki kebodohannya. Kenapa dia harus mengatakan hal yang dia anggap bercanda, tapi dianggap serius oleh para wanita.


"Bercanda, Chagiya. Bercanda." Iyan lebih baik mengalah. Dia pun mencium bibir Beeya agar calon istrinya tidak marah.


"Kalau kamu mau cari cewek, aku juga bisa cari cowok di Singapur. Lebih banyak uang dari kamu dan pastinya lebih tampan." Beeya tak mau kalah.


Iyan memeluk tubuh Beeya. Ada hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Akhirnya, Iyan menyerah. Dia menunjukkan sesuatu kepada Beeya.


"Astaghfirullah!" seru Beeya sambil menutup matanya.


"Abang kembar ngajak aku untuk beli lingerie model ini supaya malam pertama kita lebih bermakna dan lebih panas." Iyan berkata apa adanya.


"Malam pertama?" Iyan pun mengangguk.


"Pas hari pernikahan kita, itu jadwal aku PMS."


...***To Be Continue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2