
Mendengar ucapan Beeya, Kenzo terdiam dan tak berkutik. Wanita itupun melenggang begitu saja meninggalkan Kenzo. Hati Kenzo teriris dan terasa sangat perih. Harapannya sirna sudah. Ditambah Beeya semakin cuek kepadanya.
Semenjak kejadian itu Kenzo hanya bisa menatap Beeya secara sembunyi-sembunyi. Dia ingin tahu siapa kekasih Beeya. Sebenarnya Kenzo sudah mencari tahu tentang tunangan Beeya. Namun, tidak ada seorang pun yang tahu siapa laki-laki yang mampu merebut hari seorang Abeeya Bhaskara. Mereka yang bekerja di toko Arina tidak pernah melihat Beeya membawa seorang lelaki.
Lima hari sudah Kenzo bekerja di toko Arina. Hari ini Beeya tidak ke toko karena Arina sudah kembali dari Jakarta. Rasa penasaran yang Kenzo miliki perihal tunangan Beeya membuatnya memberanikan diri untuk bertanya kepada tantenya Beeya.
"Maaf ganggu, Bu." Kenzo benar-benar memberanikan diri menemui Arina. Dahi Arina pun mengkerut. Dia sudah menerima laporan dari Beeya jikalau tokonya baik-baik saja.
"Saya ke sini bukan mau membicarakan perihal pekerjaan, tapi-" Ucapan Kenzo pun menggantung.
"Tapi apa?" tanya Arina.
"Beeya."
Kedua alis Arina menukik dengan begitu tajam. Wajah tak percaya dia tunjukkan kepadanya.
"Ada apa dengan keponakan saya?" tanya Arina. "Apa dia membuat masalah dengan kamu?" tambahnya lagi.
Kenzo pun menggeleng. Dia bingung harus menceritakan kisah antara dirinya dan juga Beeya dimulai dari mana?
__ADS_1
"Jawab saya, Kenzo!" Suara Arina sedikit meninggi.
"Em ...."
Kenzo masih ragu sekaligus takut. Apakah dia harus menanyakannya sekarang? Atau biarkan waktu yang menjawabnya. Namun, ini sudah kepalang tanggung.
"Kenzo!"
"Maaf Bu, saya hanya mau bertanya apakah Beeya sudah memiliki kekasih?" Arina menghembuskan napas kasar ketika mendengar pertanyaan Kenzo. Arina pikir apa.
"Keponakan saya sudah dipinang oleh seorang pria." Jawaban yang sangat tegas, tetapi masih mengandung banyak tanya di dalam benak Kenzo.
"Kenapa kamu menanyakan keponakan saya?" tanya Arina penasaran. Kenzo hanya tersenyum kecut.
"Tidak, saya kira Beeya masih belum ada yang memiliki."
.
Beeya tengah bersama psikiater yang menanganinya. Dia bercerita banyak hal tentang dirinya yang ditinggalkan Iyan dan mulai menjalani LDR. Kehadiran Kenzo pun tak luput dari ceritanya.
__ADS_1
Kirani kini menjadi pendengar setia. Tidak mencela ucapan Beeya sedikit pun hingga wanita mungil itu berhenti bercerita.
"Ujian ketika akan menikah biasanya seperti ini, Bee." Kirani mencoba menjelaskan. "Sekarang kembali ke kamu. Apakah kamu memilih masa depan atau masa lalu."
"Aku memilih masa depan, Kirani," jawab Beeya.
"Jangan hanya di mulut, Bee. Jika, hati kamu masih menyimpan rasa pada masa lalu kamu."
Beeya pun terdiam, Kirani seakan tahu bagaimana hati Beeya sesungguhnya.
"Tunanganmu tengah berjuang di sana. Jangan Sampai hatimu goyah. Pria seperti Iyan jika sudah kecewa dia tidak akan banyak bicara dan akan pergi begitu saja."
Kenapa perih sekali hati Beeya mendengarnya. Dia kini melihat ke arah Kirani.
"Bicarakan semuanya dengan Iyan agar dia tidak salah paham. Ungkapkan juga apa yang kamu rasakan kepadanya. Keterbukaan adalah kunci dari kelanggengan suatu hubungan."
Hanya hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Beeya. Dia tengah berpikir apakah Iyan akan mengerti? Dia takut Iyan marah. Marahnya Iyan seperti orang kesetanan.
"Jangan takut, Bee," ujar Kirani lagi, Beeya hanya mengangguk.
__ADS_1
...****************...