
Beeya dan keluarganya memilih untuk terbang ke Bali di malam hari. Itu permintaan Beeya karena dia ingin langsung beristirahat ketika tiba di sana. Iyan masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Bee, kamu sudah bilang Iyan," tanya sang ibu.
"Udah, Mah."
Hembusan napas berat keluar dari mulut Beby. Dia menatap serius ke arah sang putri.
"Cari psikiater baru aja ya di sini."
Mendengar ucapan sang ibu membuat Beeya yang tengah sibuk memasukkan barang yang akan dia bawa ke dalam tas ransel pun menoleh. Kedua alisnya menukik dengan tajam.
"Mamah melihat kamu sudah nyaman tinggal di sini," jawabnya. "Di sini juga ada Iyan, kamu terlihat sangat nyaman dengan Iyan."
Beeya tersenyum, dia menggenggam erat tangan sang ibu. Menatapnya penuh dengan cinta.
"Bee belum sembuh, Mah. Bee tidak ingin membuat Iyan merasa minder karena dia mencintai wanita yang kewarasannya terganggu," papar Beeya.
"Bee," lirih Beby. Dia menggelengkan kepala. Dia melarang Beeya mengatakan hal itu. Hatinya teramat sakit.
"Memang itu kenyataannya, Mah. Semuanya masih sering hadir. Bee masih sering merasa takut jika sendirian. Hanya karena Iyan, Bee mencoba untuk melawan semua rasa itu."
Beby memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Ada air mata yang menetes begitu saja.
"Iyan anak baik, Mah. Iyan sangat sabar, Bee tidak ingin membuat Iyan kecewa. Bee tidak ingin membuat Iyan malu. Hanya dia yang mau mencintai juga menyayangi manusia setengah waras seperti Bee."
Ketika dia tiba di Jakarta. Banyak cibiran yang datang dari para tetangga. Di mata mereka, psikis terganggu sama dengan tidak waras. Padahal jelas jauh berbeda.
__ADS_1
"Kamu anak Mamah yang normal, Bee. Psikis kamu yang sakit bukan jiwa kamu."
Tetap saja ucapan itu cukup menyentil hati Beeya. Hanya saja, dia tidak cerita kepada Iyan. Sudah pasti Iyan akan murka.
Disela pelukan kedua wanita beda usia itu, asisten rumah tangga mengetuk pintu kamar Beeya yang terbuka sedikit. Beby dan Beeya pun menoleh ke arah pintu.
"Ada tamu di depan," ucapnya.
"Siapa?" tanya Beby.
"Perempuan, Bu. Saya juga belum pernah melihatnya."
Beby memandang ke arah Beeya. Beeya pun menggedikkan bahunya.
"Dia mencari Neng Beeya."
Wajah terkejut Beeya terlihat jelas . Dari pada penasaran lebih baik dia segera menemui perempuan itu. Beby pun mengikuti putrinya.
"Mau apa kamu ke sini?" sergah Beby. Melihat wanita itu membuat emosi Beby memuncak. Namun, Beeya masih menatapnya dengan tatapan tak terbaca.
Tiba-tiba wanita itu bersujud di kaki Beeya dan Beby nampak terkejut.
"Aku mohon ... lepaskan Iyan untukku," pintanya dengan lirih. Beeya hanya tersenyum tipis mendengarnya. Apalagi wanita di depannya rela merendahkan harga dirinya demi meminta hal yang mustahil.
"Aku wanita, kamu wanita ... apa kamu akan sekejam itu kepadaku? Aku ini sedang hamil, aku tidak ingin anak ini terlahir tanpa seorang ayah," ucapnya sangat mengiba.
Bukannya menyuruh wanita itu berdiri, Beeya masih membiarkan saja. Sekarang tangannya sudah dia lipat di atas dada.
__ADS_1
"Iyan itu hanya mencintai aku, kamu itu hanya pelariannya saja," tuturnya.
"Lebih baik jadi pelarian karena dia akan selalu memanjakanku. Dari pada menjadi yang dicintai. tetapi sering disakiti."
Mulut wanita itupun terbungkam mendengar balasan dari Beeya. Kini, dia malah mendongak ke arah Beeya dan Beeya sudah tersenyum kejam.
"Aku memang orang baik, tapi untuk hal ini aku akan menjadi orang jahat malah lebih jahat," lanjutnya.
"Untuk apa aku memberi hati kepada wanita yang tidak punya hati," tukasnya. "Kamu bilang aku wanita kamu wanita, dulu ... ke mana aja kamu? Malah nyakitin aku sampai ke akar-akarnya. Bukankah begitu?" sergahnya.
Wanita itu terdiam, dia tidak bisa menyanggah ucapan dari perempuan di depannya.
"Sudahi drama kamu karena mau jungkir balik sekalipun aku tidak akan pernah berbaik hati menyerahkan pria yang memang sudah Tuhan kirimkan untuk aku."
Ketika rasa kesal menghampiri, inilah yang akan Beeya lakukan. Lebih kejam dari seperti biasanya. Wanita itupun mulai berdiri. Dia menatap tajam ke arah Beeya. Tanpa Beeya sadari, sedari tadi wanita itu sudah menggenggam pisau lipat.
"Kalau kamu tidak ingin melepaskan Iyan, aku akan membunuhmu!"
Pisau itu sudah diarahkan ke perut Beeya. Sontak Beby menjerit histeris. Namun, Beeya bersikap sangat tenang.
"Bunuhlah aku, jika kamu dan anakmu sudah siap untuk mati juga," tantang Beeya.
Wajah wanita itu sudah sangat murka. Dadanya sudah turun-naik dengan sangat cepat dan tubuhnya sudah mendekat ke arah Beeya dengan ujung pisau yang mengarah pada perut.
"Kamu harus mati!" teriaknya. "Gara-gara Kamu Raffa gak mau tanggung jawab dan juga Iyan pergi dari aku." Dia semakin mendekat ke arah Beeya yang sudah semakin mundur. Hingga tubuhnya mentok ke dinding.
"Anggie!"
__ADS_1
...****************...
Komen dong ...