
Iyan melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi. Dia ingin segera bertemu dengan pujaan hatinya. Bibirnya terus melengkungkan senyum sedari pagi. Pesan yang Beeya kirimkan membuat paginya semakin berwarna dan cerah.
Sedangkan sang pujaan hati tengah menatap kosong ke arah senja yang sudah nampak di depan mata. Pikirannya masih bergerilya ke sana ke mari. Benarkah apa yang dia lihat tadi?
Foto yang ditunjukkan oleh Pipin teramat membuat dadanya sesak. Apalagi, melihat tangan wanita itu merangkul manja lengan Iyan. Walaupun dia tidak melihat wajah perempuan itu, tetapi hatinya bagai dihantam bebatuan besar. Dadanya terasa sesak. Ketakutannya mulai menjalar, dan air matanya sudah menganak.
"Apa aku harus terluka lagi?"
Bibirnya melengkungkan senyum banyak arti. Senyum yang menyiratkan kepedihan yang memdalam. Traumanya mulai mengitari kepalanya lagi. Perselingkuhan dan dikhianati sepertinya akan mengoyak hatinya untuk kedua kali.
Suara ketukan pintu terdengar. Namun, Beeya enggan untuk bangkit. Tubuhnya seperti tak bertulang. Dia masih duduk diam dengan tatapan nanar. Merasakan hatinya yang teramat perih. Suara pintu terbuka mampu Beeya dengar, suara langkah kaki terdengar semakin mendekat. Namun, Beeya tak berniat menolehkan kepalanya walau sebentar saja.
"Chagiya."
Panggilan itu seperti panggilannya penuh kebohongan. Beeya menoleh dan dia menatap Iyan dari ujung kaki hingga ujung rambut dengan tatapan tajam dan penuh selidik. Hatinya teramat sakit ketika dia melihat penampilan Iyan yang sama pecis dengan foto yang ditunjukkan oleh Pipin.
Iyan tersenyum ke arah Beeya dan ingin memeluknya. Tiba-tiba Beeya mendorong tubuh Iyan dengan cukup bertenaga. Hingga Iyan mundur beberapa langkah ke belakang. Iyan terkejut dengan sikap Beeya. Terlihat wajah Beeya pun sangat datar.
"Kamu kenapa?" Iyan sudah mendekat, tetapi tamparan lah yang Iyan terima. Tangan Iyan memegang pipinya yang terasa perih. Namun, matanya masih tertuju pada sang kekasih.
"Kalau kamu datang cuma untuk memberikan kebahagiaan semu, lebih baik kamu pergi. Jangan buat aku trauma untuk kedua kali."
Iyan tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Beeya. Apalagi dia melihat Beeya sudah menitikan air mata.
"Maksud kamu apa?" tanya Iyan. Dia tidak menghiraukan pipinya yang masih perih. Dia mulai mendekat lagi ke arah sang pacar.
Beeya tidak menjawab, dia menghindar dan berniat untuk meninggalakan Iyan. Namun, tangannya berhasil dicekal oleh Iyan. Sekuat apapun Beeya melepaskan, tidak akan pernah bisa terlepas karena tenaga Iyan sangatlah kuat.
"Katakan dulu kepadaku. Jangan seperti ini," imbuh Iyan.
Beeya tidak bisa berkata, hanya air mata yang mampu mengungkapkan semuanya. Akhirnya, Iyan menarik tangan Beeya agar masuk ke dalam pelukannya.
"Hati aku sakit melihat kamu menangis seperti ini," tutur Iyan. Terdengar tangis lirih yang keluar dari mulut Beeya.
"Kamu jahat!"
__ADS_1
Hanya dua kata itu yang Beeya ucapkan. Iyan hanya menghela napas kasar. Dia tidak merasa sudah berbuat jahat kepada sang kekasih.
"Jelaskan kepadaku, jahatnya aku di mana?" pinta Iyan.
Pemuda itu sangat sabar menghadapi Beeya. Tidak ada nada tinggi yang keluar dari mulut pemuda itu walaupun Beeya sudah menamparnya dengan cukup keras. Dia seakan tahu kondisi Beeya sesungguhnya.
"Kamu jahat!"
Kalimat itu lagi yang Beeya katakan. Kini, tangannya sudah memukul-mukul dada Iyan. Namun, Iyan diam saja. Membiarkan Beeya meluapkan semuanya. Hingga pada akhirnya, Iyan meraih tangan Beeya yang ingin memukul dadanya lagi.
"Chagiya," panggil Iyan. Dia menatap manik mata Beeya dengan penuh tanda tanya.
Beeya pun menatap wajah Iyan dengan mata yang sembab. Sorot mata Iyan meminta penjelasan kepada Beeya. Tak ada jawaban dari mulut Beeya, dia hanya mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan sebuah foto kepada Iyan.
"Ini alasan kamu gak jawab-jawab telepon dari aku?" Suara Beeya terdengar sangat lirih dan lemah.
Kini, Iyan ikut mengeluarkan ponselnya dia menghubungi seseorang tanpa melepaskan cengkeraman tangannya pada Beeya.
"Apaan Om kecil, jangan ganggu aku. Aku capek, seharian ini diculik sama Om. Dikasih makan mah enggak." Omelan meluncur sangat bebas dari mulut perempuan pada sambungan video tersebut.
"Ada yang salah sangka."
Kalimat itu keluar dari mulut Iyan. Kini, ponselnya dia arahkan kepada Beeya. Terdengar helaan napas kasar dari orang yang dihubungi Iyan. Dia melihat jelas wajah Beeya yang sembab. p
"Tante centil, seharian ini Om kecil nyulik aku. Dia ngajak aku ke emol dan rela muter-muter emol hanya untuk membelikan Tante centil sebuah hadiah kecil."
Beeya sedikit terkejut dengan apa yang dikatakan oleh keponakan Iyan, yaitu Aleesa. Kini, Beeya menatap ke arah pemuda yang tengah memangkunya. Iyan merogoh saku di dalam jaketnya. Dia mengeluarkan sebuah kotak persegi ukuran kecil berwarna merah. Beeya terpaku untuk sesaat. Iyan membuka kotak itu dan mampu membuat mata Beeya berkaca-kaca.
"Ini untuk kamu."
Beeya tidak bisa berkata, dia hanya bisa memeluk Iyan dengan begitu eratnya. Tangis pun terdengar.
"Idih ... apa-apaan kalian?" geram Aleesa. Perempuan muda itu segera menutup sambungan videonya karena dia tahu akan berakhir dengan pergulatan sesuatu yang memabukkan.
"Aku sengaja gak bilang sama kamu. Aku juga sengaja gak angkat telepon dari kamu. Aku ingin memberikan kejutan kepada kamu."
__ADS_1
Beeya pun mengurai pelukannya. Dia menatap wajah tampan sang kekasih. Tangan Iyan sudah meraih kalung yang masih ada di kotak tersebut. Lalu, memasangkannya di leher Beeya.
Iyan menatap liontin yang sudah menggantung di leher Beeya. Lebah kecil yang sangat lucu. Beeya pun ikut menatapnya dan lengkungan senyum terukir di wajah perempuan berwajah sembab itu.
"Kamu suka?" Beeya pun mengangguk.
"Lebah itu sepeti kamu, arti nama dari Bee."
Mendengar kalimat itu membuat Beeya tersenyum bahagia. Menatap penuh cinta wajah sang kekasih.
"Love you."
Senyum merekah di bibir Iyan. Dia tidak membalasnya dengan perkataan, melainkan dengan tindakan. Sebuah kecupan hangat Iyan berikan di kening Beeya hingga Beeya memejamkan matanya. Meresapi sebuah kecupan yang membuat hatinya menghangat juga nyaman.
"Kamu dapat foto aku itu dari mana?" tanya Iyan ketika dia sudah melepaskan kecupannya.
"Pipin." Dahi Iyan mengkerut mendengar nama yang terdengar asing di telinganya.
"Itu loh, teman sekantor aku yang sering sama aku." Akhirnya Iyan mengangguk. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Beeya.
"Dia juga bilang kalau dia patah hati," ujar Beeya yang kini sudah merapihkan rambut Iyan.
"Kenapa?"
"Karena melihat kamu jalan sama cewek," terangnya.
Iyan pun tertawa dan mengusap lembut pipi Beeya.
"Dia itu suka sama kamu." Beeya terlihat tidak rela mengatakan itu. "Makanya dia bilang begitu."
"Kalau akunya suka sama temannya, gimana?" goda Iyan. Beeya tersenyum tipis.
"Melihat aku jalan sana ponakan aku aja sakit hati, gimana kalau dia tahu kamu pacar aku."
...****************...
__ADS_1
Komen atuh ...