
Akhirnya Arya mengatakan apa yang diinginkan Iyan kepada sang putri semata wayangnya. Bibir Beeya mampu tersenyum, tetapi hatinya menangis dengan keras. Sulit untuk memenuhi keinginan ayahnya.
Iyan menjalani hari-harinya masih dengan duka. Namun, dia mulai membuka benteng untuk para sahabat-sahabatnya yang tak kasat mata. Merekalah yang mampu menghibur Iyan.
Enam bulan sudah berlalu, luka Iyan belum sembuh, tetapi dia mencoba untuk bisa melanjutkan hidup.
"Yan, jangan tangisi kepergian ayahmu terus. Kamu berat dan terluka, Ayahmu juga sama. Namun, Tuhan sudah menyuruhnya untuk kembali. Lalu, manusia bisa apa?"
Kalimat itu yang membuat Iyan mulai menerima kenyataan yang ada. Pelan, tapi pasti. Sekarang Iyan terlihat lebih ceria lagi.
Jam buka kafe pun sudah selesai. Ketika Iyan hendak pulang turun hujan disertai petir. Iyan malas membuka pintu kafe dan dia memilih untuk menunggu di luar walaupun keadaan sangat dingin karena kondisi hujan.
Ponselnya berdering, lengkungan senyum terukir di wajahnya. Kak Echa, nama si pemanggil itu.
"Mau dijemput gak? Bahaya naik motor pas hujan. Nanti kamu sakit." Begitulah perhatian yang Echa berikan kepada adik bungsunya.
"Enggak usah, Kak. Iyan masih di kafe kok. Kalau hujannya gak berhenti, Iyan tidur di kafe aja."
Kehangatan keluarganya masih seperti dulu walaupun ayahnya sudah tiada. Kedua kakaknya akan terus mengirim pesan kepada Iyan, meskipun hanya menanyakan kabar adik tersayang.
Baru saja selesai panggilan dari sang kakak pertama. Ponsel Iyan berdering lagi dan nama kakak keduanyalah yang tertera di sana.
"Daddy-nya Agha mau jemput kamu. Jangan pulang naik motor."
Iyan hanya tertawa mendengar ucapan dari sang kakak. Dia bersyukur dikelilingi orang-orang baik. Dua kakak ipar yang menyebalkan, tetapi sangat perhatian.
"Jangan, Kak Ri. Iyan bisa pulang sendiri. Kalau hujannya gak berhenti. Iyan tidur di kafe aja."
Hal kecil memang, tetapi mampu membuat hati Iyan menghangat. Perhatian mereka membuat Iyan tak merasa sendirian.
.
Cuaca pagi hari sangat cerah. Iyan yang sudah rapi dengan pakaian santai untuk kuliah baru membuka pintu kostan dan hendak mengeluarkan motor. Bertepatan dengan itu, ada seorang perempuan muda yang menyapanya.
"Hai!" sapa perempuan itu. Iyan hanya menganggukkan kepala sopan sebagai jawaban.
"Penghuni baru?" tanya Iyan.
"Iya," jawabnya. Iyan hanya tersenyum tipis. Kemudian, dia masuk ke dalam kosan lagi.
"Kamu masih ingat aku gak?" Langkah Iyan terhenti ketika tetangga barunya itu bertanya seperti itu. Iyan membalikkan tubuhnya dan menatap perempuan muda itu dengan lamat-lamat. Lalu, kepalanya menggeleng.
__ADS_1
"Kamu masih ingat gak sama seorang ibu pemulung yang wajahnya mirip dengan ibu kamu."
Iyan dipaksa membuka memorinya di masa lampau. Ingatannya mulai memberi sinyal baik.
"Kamu-"
"Hai, Iyan. Ini aku Anggie." Iyan pun tersenyum. Dia akui Anggie sekarang ini menjadi sosok yang sangat cantik. Memiliki kulit putih dan tubuhnya cukup tinggi.
"Boleh gak kita berteman lagi?" Anggie mengulurkan tangannya dan disambut hangat oleh Iyan.
Anggie bekerja di sebuah perusahaan besar, tetapi hanya sebagai cleaning service di sana. Iyan berkali-kali mengajak Anggie untuk bekerja di Moeda kafe. Namun, Anggie selalu menolak dengan alasan dia sudah nyaman berkerja di sana. Iyan pun tidak bisa memaksa.
Kehadiran Anggie mampu membuat Iyan melupakan Beeya. Perempuan pendek yang selalu menempel padanya. Itu semua dia lakukan untuk menjaga hubungan Beeya dengan Raffa. Raffa putra Alamsyah, adalah cucu dari almarhum Alamsyah seorang pengusaha batu bara ternama. Rekan sejawat dari Opa Bhaskara, kakek Beeya. Sedari kecil mereka sudah dijodohkan. Raffa yang merupakan cucu laki-laki satu-satunya dari almarhum Alamsyah dan Beeya adalah cucu cantik dari Opa Bhaskara. Ketika sang opa wafat, akhirnya perjodohan itu harus dilaksanakan. Awalnya Beeya menolak, tetapi lama-lama Beeya cinta sungguhan kepada Raffa. Sosok pria yang sangat posesif yang dia idamkan, dulu.
"Udah ganti cewek sekarang," ejek Wira ketika Iyan tengah membuat pesanan minuman.
"Cuma teman."
"Gak ada temanan yang tulus antara pria dan wanita, Bro." Iyan hanya tersenyum. Tak ingin menimpali ucapan Wira.
Iyan membawakan choco matcha untuk Anggie yang berada di meja pelanggan. "Makasih." Senyum khas Anggie berikan kepada Iyan.
"Bukan, aku di sini cuma kerja."
"Oh."
Dalam hati Anggie dia tengah membandingkan Iyan dengan seorang pria yang mampu memikat hatinya. Masih muda, tetapi sudah memiliki kehidupan yang sangat mapan. Menjadi salah satu petinggi di perusahaan tempatnya bekerja. Namun, Iyan menang fisik. Wajahnya sangat sempurna dengan kulit yang putih bak susu.
"Aku kerja lagi, ya." Anggie hanya mengangguk.
.
Abeeya Bhaskara kini menjelma menjadi perempuan alim dan tak banyak bicara. Ketika di rumah dia lebih senang mengurung diri. Anak tunggal dari Arya dan Beby ini seakan menyimpan sesuatu yang tak orang lain tahu.
🎶
Andaikan kau tahu rasa sayangku
Melebihi rasa sakit ini
Bulir bening menetes begitu saja ketika mendengar lagu itu. Dia hanya bisa terisak dengan memegang dadanya yang terasa sesak.
__ADS_1
🎶
Untuk apa bersama bila
Dirimu terluka
Untuk apa bertahan
Jika tak bahagia
Lagu yang benar-benar menusuk relung hati. Beeya hanya bisa meletakkan wajahnya di atas lutut. Ketika seperti ini dia butuh Iyan. Pemuda yang mampu membuat hatinya nyaman. Pemuda yang akan memberikan ketenangan padanya.
Beeya bergegas ke Moeda kafe. Sudah enam bulan terakhir dia tidak bertemu pemuda itu. Kontak Iyan pun dia tidak tahu karena dihapus oleh Raffa.
Beeya sudah memakai jeans di atas lutut dengan kaos longgar berwarna hitam. Rambut sengaja dia ikat separuh. Turun ke lantai bawah dan di sana ada kedua orang tuanya.
"Mau ke mana?" Beby melihat ke arah jam dinding. Kini, sudah menunjukkan jam sembilan malam.
"Moeda kafe." Beeya mencoba untuk tersenyum.
"Bee, Papah mohon," pinta Arya. Dia tidak ingin Beeya melanggar janjinya.
"Hanya sekali, Pah. Malam ini aja. Bee mohon." Mata Beeya sudah berkaca-kaca.
"Ijinkan, Pah. Beeya pasti kangen sama Iyan." Kepala Beeya mengangguk seakan tengah mengiyakan ucapan sang mamah.
"Baiklah, tapi hanya malam ini saja."
Beeya pun tersenyum lebar dan mencium pipi papah dan mamahnya sebelum dia berangkat. Hati Beeya terasa bahagia sekali. Dia akan melepas rindu bersama pemuda yang sangat dia rindukan. Beeya sudah memarkirkan mobilnya di depan Moeda kafe. Malam ini terlihat kafe tidak seramai malam akhir pekan. Sebelum turun dia merapihkan penampilannya terlebih dahulu dan menambah lip tint di bibir mungilnya.
"Sempurna."
Pintu mobil dia tutup dengan cukup keras dan langkahnya memasuki Moeda kafe. Seperti biasa Beeya akan segera masuk ke dapur di mana Iyan berada.
Langkah kakinya terhenti di ambang pintu ketika melihat Iyan tertawa bahagia bersama seorang wanita di sampingnya. Tas yang dia sampirkan di lengan kirinya pun terjatuh hingga menimbulkan suara. Sontak Iyan, Anggie dan para karyawan lain menoleh. Tubuh Beeya mematung dengan air mata yang sudah menganak.
"Kak Bee."
...****************...
Komen dong ...
__ADS_1