Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
204. Pusing


__ADS_3

Para teman tak kasat mata Iyan tengah mengadakan acara pesta di halaman samping rumah Aleesa. Mereka berkumpul dan terlihat begitu gembira.


"Akhirnya," ucap Jojo.


"Ibu datang membawa kabar baik," timpal Om Uwo.


Aleesa yang merasa terganggu dengan kebisingan yang terjadi membuatnya turun ke lantai bawah. Di sana masih ada sang ayah dan juga sang ibu tengah berduaan sambil menonton film.


"Mau ke mana, Sa?" tanya Echa melihat putrinya malah membuka pintu halaman samping.


"Nyari angin, Bu." Aleesa kepala ketika melihat para huntu tengah berpesta.


"Enak amat, ya." Dia pun berkacak pinggang melihat para teman-teman sang paman cekakak-cekikik.


Beda halnya dengan Beeya yang lemah tak berdaya. Makan pun dia enggan dan membuat Beby cemas.


"Kita ke dokter aja, ya," ajak sang mamah. Namun, Beeya menolak. Dia hanya ingin dipijat dahinya oleh sang mamah.


"Pah, ini gimana?" Beby sudah cemas, tapi sang suami masih santai bermain ponsel.


"Kalau anaknya gak mau mah jangan dipaksa," sahut Arya. Pria paruh baya itu malah semakin asyik memainkan ponselnya.


"Ih, si Papah mah. Anaknya bukannya dibujuk malah dibiarin." Beby mengomeli suaminya.


"Terus, mau Papah gimanain? Mau Papah bopong kayak bocah?" Arya mulai bersungut-sungut dan membuat Beeya mengerang kesal.


"Kenapa pada ribut sih? Bikin kepala Bee makin muter ini mah," omelnya.


Beby dan Arya pun terdiam. Jika, mulut Beeya sudah mengeluarkan kata sangat manis, pasti mereka berdua akan membisu.

__ADS_1


"Lagian laki kamu jam segini belum pulang. Kerja apa dikerjain?" Arya pun mulai mengomel.


"Si Papah mah, itu mulut gak pernah manis sama menantu." Beby balik mengomeli.


"Biarin aja, Mah. Entar projek ini goal mulut Papah bisa dibeli sama Iyan. Sekalian biar gak punya mulut si Papah." Beeya pun ikut mengoceh dengan mata yang terpejam dan kening yang berdenyut.


"Dih, malah pada nyerang. Gak asyik lah!" Arya dongkol dan memilih untuk keluar dari kamar tamu dan pindah ke ruang keluarga.


Ada kebahagiaan di hatinya yang tak bisa dia ungkapkan dengan kata-kata. Dia teringat akan kejahatannya ketika mengendap-endap bagai maling hanya untuk menyingkirkan dua benda si alan yang dibawa oleh anak dan menantunya.


"Bisa jadi positif, Pak." Begitulah pesan yang dikirim salah seorang dokter.


.


Di lain tempat Iyan yang masih meeting pun seidkit terbagi pikirannya. Dia menghubungi ibu mertua dan menunjukkan hasil kerokannya. Punggung putih Beeya tidak merah, tapi ibu mertuanya mengatakan jika Beeya terus mnegeluh pusing dan sedikit mual.


Jam sebelas malam, barulah Iyan selesai. Dia tidak sendiri, ada Aksa di sana.


"Ngopi dulu enggak?" tawar Aksa.


"Enggak, Bang. Iyan harus jemput Beeya." Dahi Aksa mengkerut mendengarnya.


"Emangnya Beeya di mana?"


"Di rumah Mamah," jawabnya. "Iyan duluan, ya."


Mobil yang dikendarai Iyan pun sudah melaju. Aksa sedikit mengernyitkan dahi ketika mendengar Beeya di rumah ibunya.


"Apa tuh anak lagi berantem? Terus si Beeya pulang ke rumah orang tuanya?" Aksa berspekulasi sendiri.

__ADS_1


Ponsel miliknya berdering dan ternyata sang putra sudah menunggunya di rumah. Aksa pun melajukan mobilnya menuju kediamannya. Tibanya di rumah, Aksa tidak segera masuk ke ruang kerja. Dia menghampiri istrinya terlebih dahulu yang sudah tertidur.


"Malam, Sayang." Aksa mengecup kening Riana dan membuat istrinya sedikit demi sedikit mulai membuka mata.


"Kenapa malam banget?" Aksa hanya tersenyum. Kemudian, dia memberikan kecupan lembut kepada istrinya.


"Daddy ke ruang kerja dulu, ya. Nanti kita lanjut lagi." Riana mengangguk.


Tibanya di ruang kerja, Gavin sudah menunggu ayahnya dengan terkantuk-kantuk.


"Ada masalah, Boy?" Gavin terlonjak. Dia melihat ayahnya sudah menyapanya.


"Tadi, Adek dan Mas ke minimarket. Adek pengen beli permen karet." Aksa masih mendengarkan. Hal sepele memang, tapi Aksa terus mendengarkan karena pastinya ada yang ingin di sharing oleh sang putra.


"Kenapa pas dibuka isinya bukan permen karet?" Kedua alis Aksa menukik dengan begitu tajam.


"Memangnya Adek beli permen karet merk apa?" Gavin pun menunjukkan.


"Pernen karet rasa strawberry."



Mata Aksa melebar seketika dan langsung meraih benda tersebut dari tangan sang putra.


"Isinya kok malah karet kayak balon."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2