
Kerusuhan pun terjadi di antara para makhluk tak kasat mata. Mereka yang ada di kediaman Iyan ingin ikut serta ke hotel di mana Iyan akan menikah nanti.
"Sa, mana baju seragamannya?" Aleesa yang tengah asyik makan kacang rebus di tangga teras menatap jengah ke arah hantu bungkus berwajah merah itu.
"Jangan dikasih, Sa. Dasar ganjen!" omel om Poci.
"Bilang aja kami cemburu 'kan Poci," goda Pocita. "Karena aku mau ketemu sama pemuda tampan semalam." Pocita terus saja menggoda makhluk yang sama dengannya. Bedanya, wajah om Poci berwarna hitam.
"PD!"
Aleesa masih mengunyah kacang rebus yang dia pegang. Membiarkan dua hantu bungkus putih itu beradu mulut.
"Lagi nunggu siapa?" tanya si kerdil. Dia malah menyomot kacang rebus yang Aleesa pegang.
"Yansen."
Tak lama menunggu, pemuda yang ditunggu pun muncul. Yansen melambaikan tangan ke arah Aleesa yang tengah terduduk.
"Maaf, aku telat." Yansen berucap dengan begitu manis. Mengusap lembut puncak rambut Aleesa.
"Gak apa-apa." Aleesa tersenyum manis ke arah Yansen. Namun, kedua hantu bungkus putih dan si kerdil menatap pilu ke arah dua insan itu.
"Andai kamu tahu, Sa," batin si kerdil.
"Aku gak bisa membayangkan bagaimana nanti," batin anteu Pocita.
"Kenapa kamu tidak peka pada orang yang dekat denganmu, Sa?" Begitulah batin om Poci.
Tawa Aleesa dan juga Yansen terhenti ketika melihat mobil masuk ke dalam halaman rumah. Aleesa pun berdecak kesal. Dia tahu siapa yang ada di dalam sana.
"Ah, pangeranku ..." teriak Anteu Pocita.
Aleesa dan Yansen saling tatap. Mereka kompak menatap penuh kebingungan ke arah pocong perempuan itu.
"Pangeran?" tanya Aleesa penuh keheranan.
"Itu loh yang sama Rio."
"Restu?" Ante Pocita menggeleng. Dia tidak tahu siapa namanya, tapi yang jelas dia sangat menyukai Restu.
Suara pintu mobil yang ditutup dengan keras terdengar. Rio sudah melangkahkan kakinya menuju Aleesa dan Yansen. Sedangkan Restu masih berada di dalam mobil.
"Kenapa gak nyusul aja?" tanya Aleesa.
"Pengen bareng-bareng, udah lama gak naik bus."
"Itu bodyguard-nya gak ikut 'kan."
Bruk!
__ADS_1
Aleesa terkejut dan terlihat pemuda yang dengan pakaian santai keluar dari dalam mobil dengan puntung rokok di bibirnya. Menghampiri mereka bertiga.
"Ikutlah!" Aleesa pun berdecak kesal mendengar jawaban Restu. Matanya menatap tajam ke arah Restu.
"Gak ada kerjaan apa ngintilin Kak Rio Mulu," omel Aleesa kepada Restu.
"Lu mabok kacang rebus? Datang-datang ngomel kayak emak-emak di tanggal tua," sungut Restu.
Aleesa malah menjambak rambut Restu dengan begitu keras sehingga pria itu mengaduh. Rio dan Yansen malah tertawa. Yansen, dia sama sekali tidak cemburu. Dia malah merasa bahagia ketika Restu dan Aleesa seperti ini.
"Lepas! Rambut gua rontok!" Bukannya melepaskan tangannya, Aleesa malah semakin menarik rambut Restu hingga pria itu mengikuti ke mana tangan Aleesa bergerak.
"Sa, udah, Sa," lerai Rio.
"Aku kesel banget sama ini orang," ujarnya dengan menggebu-gebu.
"Gak jelas sepupu lu!" Restu bersungut-sungut dan pergi menjauh dari mereka bertiga.
"Marahnya begitu doang? Kenapa di luar berlagak kayak jagoan?" cibir Aleesa. Restu tak menggubris perkataan Aleesa.
"Jangan gitu lagi, Sa," ucap Rio kepada sepupunya. "Dia punya riwayat geger otak," jelasnya lagi.
"Iya, kasihan Kak Restu," tambah Yansen. "Jangan karena kamu tidak suka pria perokok jadinya begitu," papar Yansen lagi.
.
Di dalam rumah, Restu memijat kepalanya yang terasa berdenyut. Dia menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa.
"Cuma pusing aja, Kak." Restu menimpali ucapan Iyan.
"Kamu jadi bridesmaid juga 'kan?" Restu menggeleng.
"Saya ditugaskan untuk menjaga keamanan bersama bodyguard yang selalu jagain Om Radit."
Iyan tidak menyangka bahwa kakak iparnya menyiapkan pengamanan yang ketat untuk acaranya nanti.
"Makasih banyak." Restu hanya tersenyum. Sorot mata Iyan menandakan bahwa dia menyukai sosok Restu. Dia terbilang anak nakal, tapi sopan santun dia tak terkalahkan.
Bus yang akan membawa mereka menuju sebuah hotel berbintang sudah tiba. Anak-anak kecil nampak begitu riang. Terlebih si quartet yang terlihat sangat antusias. Bukan hanya manusia yang masuk ke dalam bus tersebut. Dua poci pun masuk bersama si kerdil. Ada juga hantu wanita jelek yang berjumlah tiga orang. Mereka ditugaskan oleh Aleesa untuk mengerjai orang-orang yang berniat membuat onar.
"Kenek metromini!" ledek Aleesa ke arah Restu yang masih belum masuk. Kali ini sikapnya sangat dingin. Tidak menggubris ucapan Aleesa.
Semuanya sudah masuk menurut data yang diterima Restu dari Raditya Addhitama.
"Om, sudah masuk semua," ujar Restu setelah menghitung ulang.
"Baiklah, kita berangkat.
Restu sudah menutup pintu bus belakang. Dia juga duduk di kursi paling belakang sendirian. Bukan tanpa alasan dia ingin tidur sejenak. Kepalanya masih cenat-cenut.
__ADS_1
Hanya kebisingan dari para anak-anak yang tercipta. Itu tidak membuat Restu terganggu. Dia melipat kedua tangannya di atas dada. Memejamkan matanya sejenak agar sakit di kepalanya menghilang.
Di kursi dua, ada seorang perempuan yang tiba-tiba merasa mual. Dia lupa tidak membawa permen.
"Sen, bawa permen masam gak?" Yansen menggeleng.
"Kamu mual?" Aleesa mengangguk.
"Aku antar ke kamar mandi." Aleesa menolak. Dia bisa sendiri. Yansen pun hanya mengangguk.
Mata Aleesa memicing ketika melihat Restu tengah tertidur dengan begitu damainya. Namun, dia mengabaikan. Langsung menuju kamar mandi. Perutnya terasa diaduk-aduk. Namun, tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Cukup lama berada di kamar mandi bus, dia pun mendudukkan tubuhnya di bangku belakang yang ada Restunya. Merasa ada pergerakan dari samping, Restu membuka mata dan melihat ke samping. Aleesa sudah berwajah pucat.
"Kenapa?"
"Enek." Aleesa menjawab tanpa menoleh sedikit pun. Restu mengambil minyak angin dari tas kecil yang dia bawa.
"Nih!" Namun, Aleesa berlari ke kamar mandi dan membuat Restu refleks mengikutinya. Membantu memijat tengkuk leher Aleesa dengan lembut.
Restu membantu Aleesa karena dia terlihat lemah. Dia menyuruh Aleesa duduk di bangku belakang. Mengoleskan minyak kayu angin di bagian leher belakang..
"Kak, punya permen gak?" Restu langsung merogoh saku celana dan memberikannya kepada Aleesa..
"Makasih."
Restu masih menatap remaja di sampingnya. Aslinya Aleesa ya seperti ini baik. Tidak judes dan galak seperti biasanya.
Restu mulai memejamkan matanya lagi. Aleesa sudah menaikkan kedua kakinya. Mencoba tiduran di kursi panjang itu.
"Kepalanya entar sakit," ucap Restu yang sudah memejamkan mata. "Pakai paha gua buat tiduran biar gak nambah penyakit baru."
Aleesa terdiam sejenak, dia menatap ke arah Restu yang melipat kedua tangannya dengan mata terpejam. Namun, Aleesa tidak mau. Lima belas menit mobil melaju dia merasa lehernya sakit. Melihat Restu yang asyik tertidur, Aleesa memutuskan untuk menjadikan paha Restu sebagai bantalan.
"Kak, aku pinjam pahanya, ya." Ucapan teramat pelan. Ketika Aleesa merebahkan kepalanya, Restu menyunggingkan senyum kecil.
"Dasar cewek!" gumamnya dalam hati.
Di lain kursi penumpang, ada seseorang yang sedang tersenyum. Sedari tadi Yansen khawatir dengan keadaan Aleesa, tapi melihat Aleesa bersama Restu dia merasa tenang. Aleesa bersama orang yang tepat.
"Lu gak jealous?" Suara seseorang membuat Yansen menoleh. Dia menggelengkan kepala pelan.
"Setidaknya aku tenang."
"Tenang? Maksudnya?"
Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban. Senyum itu begitu damai. Apa yang akan terjadi sebenarnya? Tunggu kisah mereka nantinya.
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...