Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
128. Digondol Pelakor


__ADS_3

Iyan ingin menyelesaikan pekerjaannya dengan segera. Dia sudah absen menemani Beeya ke psikiater. Dia merasa sangat bersalah walaupun Beeya mengatakan tidak apa-apa. Biasanya Iyan akan selalu mendampingi Beeya bertemu Kirani.


"Kamu kapan ke sini?" tanya Beeya melalui sambungan video. Mereka merelakan begadang untuk melepaskan kerinduan.


"Belum tahu," balas Iyan dengan begitu lemah.


Beeya malah tersenyum melihat wajah sendu tunangannya tersebut. Dia mencoba untuk menghibur Iyan.


"Kamu di sana 'kan kerja untuk masa depan kita." Bibir mampu berkata seperti itu, tapi hatinya berkata lain.


"Aku juga butuh ciuman hangat, Chagiya," jawabnya.


Otak Iyan ternyata masih saja ngeres. Setiap hari selalu membahas perihal kecupan hangat. Beeya tidak bisa membayangkan jika nanti dia menjadi istri Iyan. Bisa-bisa setiap hari dia digempur habis-habisan oleh Iyan.


Banyak hal yang mereka bicarakan. Namun, Beeya tidak mengatakan perihal Kenzo. Dia belum siap. Dia tidak ingin membuat Iyan kepikiran. Toh, sekarang Kenzo sudah bersikap biasa kepada Beeya. Begitu juga dengan Beeya.

__ADS_1


"Ayang, awas jangan cari kehangatan di Jakarta dengan wanita lain," larang Beeya. Iyan hanya tersenyum.


"Karyawan di kantor Bang Aksa cantik-cantik loh," goda Iyan. Wajah Beeya sudah mulai masam dan membuat Iyan gemas dan ingin mencium bibir berwarna pink milik tunangannya itu.


"Aku gak akan pernah berpaling dari kamu, Chagiya," ucapnya dengan penuh keseriusan. "Aku hanya mencintai kamu, dan hanya kamu."


Kalimat sederhana yang membuat mata Beeya berkaca-kaca. Pria yang ada di layar ponselnya itu selalu membuatnya terharu.


"Aku juga sangat mencintai kamu, Ayang."


"Kenapa kamu belum berkata jujur juga?" gumamnya.


Perihal Kenzo Iyan sudah tahu. Dia juga mengenal Kenzo karena Kenzo merupakan anak yang bisa meraih hati Iyan dulu. Sekian banyak mantan yang Beeya miliki, Kenzo adalah mantan yang kalem.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Ingin rasanya dia menanyakan itu kepada Beeya. Namun, sepertinya itu tidak etis. Iyan masih menunggu Beeya bercerita terlebih dahulu.

__ADS_1


Suara hewan terdengar membuat Iyan yang tengah bergelut dengan pikirannya terganggu. Dia melihat ke arah jam dinding. Sudah menunjukkan pukul dua pagi.


"Suara apaan sih?" Iyan pun terpaksa bangkit dari posisinya tidurannya. Membuka gorden dan mencari ke penjuru arah. Dia menghela napas kasar ketika melihat si kerdil sedang menunggangi bhabi.


"Ditinggal sebentar ke Bali malah udah kaya kebun binatang tuh rumah pada demit." Iyan menggelengkan kepala. Namun, Iyan membiarkannya saja. Malah Dev dan Jojo ikut menaiki tubuh hewan tersebut. Senyum pun melengkung di wajah Iyan. Dia mendapat hiburan dari teman-teman tak kasat matanya itu.


Kantuk sudah menyerangnya dan Iyan memilih untuk membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur lagi.


Pagi harinya Iyan sudah dengan setelan formalnya. Dia terlihat sangat tampan sekali. Ketiga keponakannya pun menatapnya dengan tatapan terkesima.


Aleeya mengambil ponsel dan mengambil gambar sang paman yang tengah berjalan ke arah mereka. Bibir Aleeya pun melengkung sempurna. Kemudian dia mengirimnya kepada seseorang.


"Gak takut digondol pelakor nih."


__ADS_1


__ADS_2