
Aleesa tersenyum ketika melihat sang kakak malah membeku. Sedangkan Rangga nampak canggung. Kali terakhir mereka bertemu ketika acara perpisahan SMA. Di mana Rangga memberanikan diri menyatakan perasaannya, tapi ditolak karena Aleena baru saja jadian dengan Kalfa. Hubungan Aleeya dan Kalfa kandas karena orang ketiga, yakni Aleeya berselingkuh dari Kalfa.
"Sa, Kakak Na harus masuk kelas dulu, ya. See you. Salam untuk semuanya." Aleena memutihkan s sambungan video dan membuat Aleesa tertawa. Rangga pun terlihat serba salah.
Radit menepuk pundak anak laki-laki yang dulu pernah menyelamatkan putrinya. Dia mengajak berbincang Rangga begitu juga dengan Rindra. Mereka nampak akrab.
"Calon ipar," bisik Rio kepada Restu. Si pengawal tampan itupun hanya tersenyum kecil. Tangannya masih menggenggam erat tangan Aleesa.
Mereka pun harus segera masuk ke pesawat. Sedangkan Aleesa dan Restu masih saling berpelukan. Seolah mereka tak ingin terpisahkan. Rio sudah jengah melihat kemesraan mereka berdua.
"Obat nyamuk bakar cap jomblo," keluhnya pada diri sendiri.
"Kamu ikut ya, Bie." Aleesa masih merengek. Namun, dengan sangat tegas Restu menggeleng.
"Enggak, Lovely. Aku masih terikat kontrak dengan Madam. Jadi, aku tidak bisa seenaknya." Restu sudah menangkup wajah Aleesa dan menatapnya dengan begitu dalam.
"Terus tunggu aku. Sampai aku datang tanpa kamu duga." Aleesa memeluk tubuh Restu lagi. Sudah pasti dia merindukan tidur ditemani sang kekasih dan pelukan hangat dan nyaman yang selalu kekasihnya berikan.
"Jangan nakal," ucap lemah Aleesa.
"Tentu."
Restu mengurai pelukannya. Dia tersenyum ke arah Aleesa yang muram.
"Ingat, mata-mataku banyak. Jangan pernah buat aku murka dan jangan pernah melepas cincin di jari manismu." Kali ini Aleesa mengangguk patuh. Tidak ada daya untuknya mengajak bercanda bodyguard kesayangannya itu.
"I Will Miss you so much." Restu mengecup kening Aleesa dengan begitu dalam dan mesra. Aleesa seakan tengah mengingat dalam-dalam kecupan kekasihnya ini.
"Aku ingin mencium bibir kamu, tapi ada cctv berjalan," bisik Restu dan Aleesa pun tertawa.
"Janji ya sama aku," ujar Aleesa. Dia menggenggam tangan Restu. Sang kekasih pun menatapnya dengan begitu lekat
"Pulang dengan selamat dan jangan ada luka sedikit pun. Selalu beri kabar agar aku tidak khawatir."
"Siap komandan cantik." Aleesa pun tersenyum. Akhirnya, mereka berdua harus terpisah.
__ADS_1
Restu masih menunggu Aleesa pergi sampai perempuan itu menghilang dari hadapannya. Setelah itu dia menghubungi seseorang.
"Jaga dan awasi terus selama penerbangan. Orang-orang suruhan si berengsek mulai mendekat."
.
Singapura.
Aleena menatap kosong ke arah jendela kampus. Rangga, laki-laki yang sudah dia tolak kini dia lihat lagi. Parasnya semakin tampan dan auranya semakin positif.
Pada waktu itu, sebenarnya Aleena akan menjawab iya atas pernyataan cinta Rangga. Namun, Kalfa yang menyerobot bicara dan mengatakan jikalau mereka berdua sudah jadian kembali. Pada nyatanya tidak seperti itu. Kalfa memang mendekat, tapi Aleena terus menjauh. Hatinya sudah terlanjur sakit. Bukan karena Kalfa, tapi karena restu yang tak didapat.
Dua tahun berlalu, Kalfa masih mengejarnya. Kalfa masih sering menghubunginya, juga masih sering mengunjunginya ke££ Singapura. Aleena tidak bisa menghindar, dan sekarang Kalfa mencoba masuk dengan paksa merobohkan benteng hati Aleena. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Aleena.
"Aku bukan membuka hati, tapi aku tengah menguji hati," gumamnya. "Tak direstui itu lebih sakit dari apapun." Aleena melihat dari hubungan Aleesa dan juga Yansen.
.
Aleesa tak tenang selama berada di dalam pesawat. Dia takut jika nantinya apa yang dia bayangkan terjadi. Dia diserang oleh perkataan yang tak mengenakkan juga bertemu dengan Yansen yang sudah memakai cincin di jari manisnya dan sudah menjadi millik orang lain. Apalagi pertunangan itu dilakukan secara sah.
Aleesa hanya menghela napas kasar. Dia memilih untuk melihat ke arah jendela menatap awan di sana.
Aleesa meraih ponselnya. Ada sebuah pesan masuk di sana. Dahinya mengkerut ketika melihat nama Restu yang mengirim pesan.

"Jangan pernah mengingat orang lain ketika aku tidak ada di samping kamu. Cukup ingatlah aku, dan kenangan indah yang pernah kita ukir. Di mana kamu dan aku tertawa lepas, dan saling mengutarakan cinta dengan tindakan. Aku kirim momen manis kita karena di momen itu aku melihat kamu sangat bahagia. Love you so much."
Aleesa tersenyum membacanya. Dia akui itu adalah momen termanis dan paling bahagia yang Aleesa dapatkan. Mereka sangat tidak ada jarak, tertawa lepas. Saling memeluk, saling mencium tanpa kecanggungan. Tangannya mulai mengetikkan sesuatu di atas layar segiempat miliknya.
"Aku ingin mengulang waktu itu lagi. Aku ingin terus dipeluk kamu. Dijaga kamu, dicium kamu. Aku ingin mengulang semuanya bersama kamu."
Bodyguard yang tengah asyik menghisap rokok pun tersenyum sendiri membaca pesan dari Aleesa.
"Aku akan mewujudkan keinginan kamu, tapi dengan status kita yang berbeda. Kita dapat melakukan apapun tanpa dimarahi siapapun karena kita sudah sah sebagai pasangan halal."
__ADS_1
Pesan yang baru saja Aleesa terima membuat senyum terus melengkung indah di bibirnya. Dia tidak menyangka Restu akan semanis ini.
"Aku tunggu kamu, Bie. Datanglah tanpa luka atau masalah. Aku merindukan kamu."
Berada di samping Restu selalu membuatnya nyaman dan aman. Baru tiga jam penerbangan, hatinya sudah merasa kosong kembali. Rio menggenggam tangan Aleesa tiba-tiba dan membuat Aleesa menukikkan kedua alisnya. Sepupunya itu mengambil gambar tangan mereka yang bertaut. Kemudian, melepaskannya kembali.
"Dih," ucap Aleesa. Rio malah asyik dengan ponselnya. Ternyata dia memposting sesuatu di akun media sosial miliknya dengan caption yang sangat manis. Orang yang pertama kali berkomentar, yakni Restu.
"HOAX." Rio pun mendengkus kesal.
Cukup lama mengudara hingga tiba sudah mereka di Jakarta. Aleesa dengan wajah bantalnya begitu juga dengan Rio. Aleesa malah merangkul manja lengan sang sepupu. Mereka nampak seperti sepasang kekasih.
Radit dan Echa sangat bahagia ketika melihat Aksa dan Riana beserta kedua anak mereka menjemput di Bandara.
"Kak Iyo!" Ghea malah berlari memeluk tubuh Rio dan menyinkirkan Aleesa. Kekasih dari Restu itupun mendengkus kesal. Namun, kini dia beralih pada remaja tampan, siapa lagi jika bukan Gavin. Dia merangkul mesra lengan sang sepupu.

"Kebiasaan!" omel remaja itu.
"Gua lelah, Pin." Hanya Aleesa yang masih memanggil Gavin Agha Wiguna dengan sebutan Empin. Sedangkan yang lain memanggilnya Mas Agha.
Anak dari Aksara dan Riana sudah tumbuh menjadi remaja yang sangat tampan. Sifatnya pun sangat mirip dengan sang ayah. Malah lebih dingin dari ayahnya.
"Pin, gua lapar." Manjanya Aleesa membuat Gavin jengah.
"Jijik sumpah, Sa!" Remaja itu risih dan membuat Aleesa tertawa. Orang tua mereka yang berada di belakang mereka hanya dapat menggelengkan kepala. Jika, sepintas orang yang melihat pasti mengira mereka berdua pacaran.
Ponsel Aleesa berdering, dan ternyata sang kekasih menghubunginya. Baru saja Aleesa menjawab sambungan video, wajah seram Restu yang nampak di layar ponsel. Ide jahil muncul di kepala Aleesa. Dia mengarahkan kamera kepada Gavin. Jangan ditanya bagaimana reaksi Gavin. Tatapan tajam nan membunuh yang dia tunjukkan kepada Restu. Mereka seperti tengah adu ketajaman mata. Hingga tercetus sebuah ide.
Gavin meraih ponsel Aleesa dan mencium pipi sang sepupu dengan cepat. Teriakan pun terdengar.
"AGHAA!!!!!" Gavin malah tertawa. Begitu juga dengan Aleesa. Namun, candaan itu harus berakhir ketika nama Aleesa dipanggil.
"My Sasa."
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ....