Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
203. Jangan!!


__ADS_3

Baca bab sebelumnya, ya. Biar nyambung.


Deg.


"Apa jangan-jangan Beeya hamil?" Begitulah pertanyaan dalam batinnya. Iyan langsung menyentuh perut Beeya dan dia tidak melihat apapun membuat hatinya lega.


"Loh, kenapa kamu juga memegang perut aku?" Iyan hanya tersenyum.


"Kamu lebih montok."


"Ihh!" Beeya kesal sendiri dan menekuk wajahnya hingga Iyan tergelak.


"Bercanda, Chagiya." Iyan memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Mencium pipinya berkali-kali.


.


Sebulan setelah pulang dari Bandung, tubuh Beeya bagai tak bertulang. Nafsu makan pun berkurang. Sudah dua hari ini dia seperti ini. Namun, dia tidak bilang kepada suaminya. Dia tidak mau Iyan khawatir dan cemas.


"Non, makan dulu." Asisten rumah tangga sudah mengetuk pintu kamar Beeya.


Terpaksa Beeya turun dari tempat tidur dengan tubuh yang begitu lemas. Wajahnya pun nampak pucat dan membuat asisten rumah tangga itu terkejut.


"Non, sakit?" Beeya hanya tersenyum dan menyuruh asisten rumah tangga itu meletakkan nampan berisi makanan di atas nakas.


"Saya telepon Mas Iyan, ya."


"Jangan, Mbak," cegah Beeya. "Saya hanya kelelahan."

__ADS_1


Asisten rumah tangga itu merasa khawatir dengan Beeya. Dia menawarkan diri untuk memijat Beeya, tapi Beeya menolak. Dia bukanlah orang yang mudah disentuh oleh orang lain, kecuali kedua ornag tuanya dan juga suaminya. Traumanya belum sembuh sepenuhnya.


"Saya mau istirahat saja, Mbak." Begitulah katanya.


Setelah asisten rumah tangga itu keluar, Beeya malah enek melihat makanan yang dihidangkan. Melihat nasi bagai belatung.


"Kenapa dengan aku ini?" gumamnya.


Satu jam.


Dua jam.


Beeya masih bertahan dengan rasa lemas yang tidak terkira. Hingga dia mulai menyerah dan memilih mengirimkan pesan saja kepada sang suami tercinta.


"Ayang, aku mau ke rumah Mamah, ya. Badan aku gak enak banget. Aku pengen dipijat dan dikerok sama Mamah. Tangan Mamah biasanya mujarab."


"Iya, Ayang."


"Kamu di mana?" Perkataan Iyan terdengar sanahu cemas.


"Di jalan, sebentar lagi juga sampai rumah Mamah."


"Kita ke rumah sakit aja, ya."


"Enggak usah, Ayang. Kamunjuga 'kan banyak kerjaan. Pulang kerja jemput aku di rumah Mamah, ya. Jangan cemasin aku, aku gak apa-apa kok. Hanya kurang istirahat aja, selalu diganggu kamu kalau malam." Beeya masih mencoba untuk bercanda.


Tibanya di rumah, Beby sangat terkejut ketika melihat Beeya yang snagat pucat dan hampir pingsan.

__ADS_1


"Bee!" Untung saja Beby masih bisa menopang tubuh Beeya.


"Mah, tolong kerokin. Bee gak kuat banget. Sama tolong pijitin." Suara Beeya begitu lemah.


Beby membawa Beeya ke kamar tamu saja karena dia tahu putrinya pasti tidak akan sanggup naik ke lantai atas. Ketika Beby mengambil minyak angin dan juga baby oil, kebetulan Arya baru tiba di rumah sehabis mengecek A&R bakery.


"Itu buat apa, Mah?" tanya Arya.


"Anak kita sakit, Pah."


"Beeya di sini? Mobilnya gak ada?" tanya balik Arya.


"Sopir hanya mengantar Beeya saja. Nanti, dia dijemput sama Iyan." Arya hanya mengangguk pelan.


"Badannya panas?" Beby menggeleng.


"Beeya cuma minta dikerok sama dipijit. Seperti biasa."


"Jangan dipijit, Mah." Larangan Arya membuat Beby mengernyitkan dahi.


"Loh, kenapa?"


"Jangan!" Hanya kata itu yang terucap.


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2