Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
63. Nasihat


__ADS_3

Iyan merebahkan tubuhnya dengan sangat kasar di sofa ruang keluarga. Dia masih teringat akan ucapan ibu-ibu yang mulutnya minta dilakban.


"Kamu udah tahu perihal Anggie?"


Echa yang mendengar suara motor segera keluar dari kamarnya dan dia tahu Iyan berada di mana.


"Iyan tidak peduli, Kak."


Ucapan yang sangat acuh yang keluar dari mulut adiknya. Itu menandakan Iyan sudah tidak menganggap Anggie.


"Dia hampir membunuh Kak Bee," terangnya.


Echa pun tahu akan hal itu. Dia mengusap lembut pundak Iyan. Duduk di samping Iyan karena dia ingin bicara dari hati ke hati bersama adiknya tersebut.


"Apa kamu serius dengan Beeya?" tanya sang kakak. Echa sudah menatap lekat wajah Iyan. "Atau kamu mendekati Beeya hanya sekedar menghilangkan rasa sedihnya."


Kedua alis Iyan menukik dengan sangat tajam. Dia tidak menyangka jikalau sang kakak akan berbicara seperti itu.


"Kenapa Kakak berbicara seperti itu?" Suara Iyan sedikit meninggi.


"Kakak hanya takut kamu menyakiti hati Beeya. Kakak hanya takut kamu akan membuat Beeya trauma lagi untuk kesekian kalinya," tutur Echa.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Kini, Iyan menggenggam erat tangan sang kakak. Menatapnya dengan amat serius.

__ADS_1


"Kak, Iyan benar-benar mencintai dan menyayangi Kak Bee. Iyan gak akan melukai ataupun menyakiti dia," tegas Iyan.


"Apa selama ini Kakak pernah lihat Iyan dekat dengan wanita?" tanya Iyan. Echa menggeleng pelan. "Apa selama ini Kakak pernah melihat Iyan jatuh cinta?" Gelengan lagi yang Echa berikan.


"Iyan benar-benar jatuh cinta kepada Kak Bee, Kak. Bukan karena Iyan iba kepadanya, tapi Iyan memang menyayanginya," jelasnya.


Echa memang melihat tidak ada kebohongan dari sorot mata Iyan. Tidak ada keraguan yang Iyan katakan.


"Iyan tahu, Kak Bee sekarang tidak seperti Kak Bee yang dulu. Itu tidak masalah untuk Iyan," tuturnya. "Iyan tidak menuntut kesempurnaan dari Kak Bee karena Iyan juga sadar Iyan bukan manusia yang sempurna."


Lengkungan senyum terukir di wajah Echa. Adiknya kini sudah dewasa. Sebentar lagi, adiknya akan menikah. Apakah dia akan rela melepaskan Iyan?


"Saling mengenal dulu aja sambil ngumpulin uang," ujar Echa. "Menikah itu bukan hanya mengucapkan ijab dan kabul, tetapi perjanjian kamu dengan Tuhan," terangnya lagi.


Echa hanya tidak ingin adiknya cuma membawa anak orang tanpa memenuhi kewajibannya sebagai seorang suami.


"Tanggungjawab seorang pria itu berat, Yan. Ketika sudah menikah bukan cinta yang akan kalian makan," lanjutnya lagi. "Kamu memang memiliki warisan cukup besar dari Ayah, tetapi jika warisan itu digunakan untuk kebutuhan sehari-hari tanpa kamu bekerja semuanya akan habis. Kakak hanya ingin kamu tahu realita pernikahan dan warisan yang sebenarnya."


"Laki-laki itu harus menjadi tulang punggung untuk keluarga. Bekerja keras untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Sedangkan perempuan diciptakan untuk menjadi tulang rusuk. Walaupun dia bekerja, tetap suami tidak boleh lepas dari tanggung jawab."


Banyak nasihat yang Echa berikan kepada Iyan perihal tanggung jawab seorang laki-laki. Secara tidak langsung, kakaknya mengingatkan Iyan agar tidak gegabah dalam bertindak.


"Kak, jika Iyan ingin serius dengan Kak Bee ... apa Kakak merestui?" Rasa takut cukup menghantui hatinya. Namun, dia memberanikan diri untuk bertanya.

__ADS_1


"Siapapun pilihan kamu, pasti akan Kakak restui. Tetap harus ingat pesan Kakak tadi," jawabnya.


Iyan pun mengangguk dan tersenyum. Dia mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. Ada empat buku tabungan yang dia tunjukkan pada kakaknya.


"Apa ini?" tanya Echa bingung.


Tangan Echa sudah meraih empat buku tabungan yang Iyan berikan. Mata Echa melebar ketika melihat print-an angka yang terdapat di buku tabungan tersebut. Satu demi satu buku tabungan itu dia buka dan alhasil matanya hampir keluar dari tempatnya.


"Ini-"


Echa menatap Iyan tidak percaya kepada adiknya. Sedangkan Iyan meresponnya dengan sebuah senyuman.


"Besok akan Iyan tunjukkan rumah yang Iyan beli dan sedang Iyan renovasi."


Telinga Echa mendadak tuli mendengar apa yang dikatakan oleh Iyan.


"Serius?" Iyan pun mengangguk. Iyan memang tidak banyak bercerita kepada siapapun perihal tabungannya.


Membeli rumah pun dia berkonsultasi kepada Radit dan Aksa. Dua pria itu yang tahu bagaimana gendutnya rekening Iyan.


"Kalau sudah begini ... apa Iyan boleh melamar Kak Bee?"


...****************...

__ADS_1


Komen lagi atuh ...


__ADS_2