Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
184. Pamitan


__ADS_3

"BAPAK MOYANG lu, Rio!!'


"Ya udah. Cepetan ke sini Ada yang lagi galau juga kayaknya."


Mata Aleesa menatap tajam ke arah Rio dan dia hanya tertawa dan menunjukkan dua jarinya membentuk huruf V. Semua orang menatap ke arah Aleesa. Sedangkan kedua orang tua Aleesa tersenyum tipis.


Tak berselang lama, Restu tiba dan dia mencium tangan para pria dewasa juga istri-istri mereka. Menyapa semua orang yang ada di sana.


"Kamu ganteng banget Restu," puji Jingga. Sontak mata Aska pun melebar.


"Kebiasaan, kalau muji orang tuh enggak tahu tempat. Lakinya ada di sampingnya padahal. Masih aja muji pria dengan begitu lantangnya."


Semua orang pun tertawa. Mereka baru melihat Aska bisa cemburu juga. Sedangkan Jingga sudah tertawa terbahak melihat suaminya cemburu buta seperti itu. Jarang sekali Aska cemburu seperti ini.


"Kak Restu emang ganteng, Yah.. Ganteng banget malah, melebihi kegantengan Ayah." Balqis membenarkan ucapan dari sang Bunda. Dada Aska merasa sesak mendengarnya.


"Anak kecil itu tidak pernah berbohong," timpal sang Abang.

__ADS_1


"Pada si alan emang!!" Suasana pun menjadi ramai karena kedatangan Restu. Namun, tidak untuk Aleesa. Dia masih terdiam tidak berani menatap ke arah Restu. Yansen sedari tadi memperhatikannya saja. Apalagi ketika melihat Radit sangat akrab dengan Restu.


"Bang Rindra tahu apa yang terbaik untuk kamu." Restu pun mengangguk, setuju dengan ucapan dari Raditya Aditama.


"Jaga diri kamu baik-baik dan kembali dengan menjadi orang yang lebih baik."


"Tentu, Om," jawab Restu dengan begitu lantang.


Restu sekilaa menatap ke Aleesa yang sedari tadi terdiam. Makanan pun tidak dia sentuh. Namun, dia enggan untuk mengucapkan kata pisah. Sebelum perasaannya semakin menjauh lebih baik dia pergi dan mengalah. Ada seseorang yang lebih tulus darinya ada seseorang yang memang membuat Aleesa benar-benar merasa nyaman, yaitu Yansen.


Setelah selesai berbincang santai, mereka berdua pun berpamitan kepada semuanya. Restu dan Rio meninggalakan hotel dan kediaman Rinda Addhiyama. Sedari tadi Restu hanya terdiam tidak banyak bicara. Rio sedikit curiga.


Restu melirik jengah ke arah Rio. Kemudian, pandangannya dia fokuskan kembali ke jalanan.


"Gua emang bandel, tapi gua nggak pernah ngotorin cewek. Lu tahu motto hidup gua 'kan."


"Ya, kali aja lu sama Aleesa normal," sahut Rio..

__ADS_1


""Dia masih terlalu kecil. Belum waktunya untuk dinodai oleh siapapun." Restu berkata dengan sangat tulus.


"Setuju gue juga. Yansen dan Aleesa pun tidak pernah melakukan hal aneh-aneh ketika bersama. Mereka hanya berpegangan tangan. Saling Sayang seperti sahabat."


"Tidak ada persahabatan yang murni yang terjadi dari laki-laki dan perempuan."


"Cemburu?" goda Rio.


"Enggak. Gua hanya bilang kenyataan karena kejadian di lapangan tidak seperti itu. 1000 banding 10 yang benar-benar tulus bersahabat antara cewek dan cowok. Selebihnya, ya lu tau sendiri."


Dia setuju dengan perkataan Restu. Sahabatnya ini terkadang pintar


"Lu udah bilang sama Aleesa." Restu hanya menggangguk. "Responnya?" tanya Rio penasaran.


"Hanya sekedar hati-hat dan kurangin rokok." Rio pun tertawa.


"Berarti dia sayang sama lu."

__ADS_1


"Dia sayang sama kesehatan gua. Paham?"


Rio pun mengulum senyum. Sahabatnya masih saja memungkiri perasaannya kepada Aleesa. Juga Aleesa yang seakan pura-pura tidak sadar dengan perasaannya kepada Restu.


__ADS_2