Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
155. Capek


__ADS_3

Di kediaman Echa, Aleena tengah berada seorang diri di rumah. Berada di halaman samping sambil mendengarkan lagu itulah kesukaannya. Namun, kegiatannya kali ini terasa ada yang mengganggu. Bel terus saja berbunyi. Sedangkan asisten rumah tangga di sana tidak ada yang membukakan pintu. Terpaksa Aleena yang membuka pintu dan seketika tubuhnya menegang.


"Lama!" pekik Ghea yang datang bersama Rangga. Anak perempuan itu langsung menerobos masuk ke dalam rumah. Sedangkan Aleena masih berdiri di depan pintu.


"Aku cuma disuruh antar Ghea ke sini sama Om Aksa." Aleena hanya mengangguk.


"Aku permisi." Baru saja membalikkan tubuh, pekikan dari Ghea membuat langkah Rangga terhenti.


"Kakak di sini temenin Adek. Mas 'kan belum pulang sekolah." Ghea sudah menarik tangan Rangga agar masuk ke dalam.


"Tapi, Dek-"


"Masuk aja ke dalam. Kasihan Ghea sendiri di sini. Aku juga mau istirahat." Wajah Aleena nampak berubah. Sendu dan tak bergairah.


Rangga dan Ghea bermain di dalam rumah. Ada gelak tawa yang tercipta. Sedangkan Aleena berada di dalam kamar sendirian.


"Kakak Na, Adek sayang sama si kelapa. Boleh ya si kelapa buat Adek."


Aleena tersenyum hambar ketika mengingat perkataan Aleeya semalam. Keputusannya untuk kuliah di Singapura memang sangat tepat. Dia akan mencoba melupakan Kalfa. Walaupun dia tahu Kalfa juga memiliki perasaan yang sama seperti dirinya.


Ponselnya berdering, sang ayah menghubunginya. Aleena hanya mengatakan iya. Kemudian, dia turun dari tempat tidur. Pergi ke lantai bawah di mana Rangga dan Ghea berada.


"Ngga," panggil Aleena.


Rangga yang tengah menonton televisi bersama Ghea pun menoleh. Aleena sudah mendekat.


"Kenapa?" tanya Rangga. Dia masih menatap wajah Aleena dengan penuh tanya.


"Baba menyuruh kamu untuk ke kantornya. Mengambil obat luka bakar." Ragu sebenarnya, tapi Aleena harus meminta tolong kepada Rangga. Tidak ada orang lain di sana selain Rangga di rumahnya.


"Ya udah, aku titip Ghea." Rangga benar-benar anak yang cekatan. Disuruh apapun langsung bergegas.


"Nana, itu kenapa celana Nana merah?" Ghea bertanya dengan sangat polos.


Aleena meraba celana belakangnya. Kebetulan hari ini dia tengah mengenakan celana putih yang panjanhnya di atas lutut. Aleena malu sekali karena ternyata dia sedang datang bulan. Dia berlari menuju kamar dan Rangga hanya tersenyum dibuatnya.


Akhirnya Rangga memutuskan untuk mengambil obat sambil membawa Ghea. Dia tidak mungkin meninggalkan Ghea sendirian. Ketika menuju arah pulang, Ghea merengek ingin membeli minuman dingin. Akhirnya mereka berhenti di sebuah minimarket. Rangga pun tak segan membeli roti Jepang untuk Aleena. Siapa tahu Aleena membutuhkan benda itu. Rangga sangat tahu dan memilih roti Jepang untuk siang dan malam.


Tibanya di rumah, Aleena sedang duduk di kursi dapur. Dia lupa ternyata persediaan roti Jepangnya habis. Mau keluar, tapi tidak diperbolehkan oleh kedua orang tuanya.


"Nana!"

__ADS_1


Suara Ghea membuat Aleena menoleh. Anak itu tersenyum manis ke arah Aleena yang tak bergairah.


"Ini!"


Dahi Aleena mengkerut ketika melihat apa yang disodorkan oleh sang sepupu. Minuman pereda nyeri ketika datang bulan.


"Kak Rangga loh yang beliin." Anak itu malah berlalu begitu saja sambil menikmati es krim orio yang dia beli.


Tercengang, sudah pasti. Aleena pun hanya dapat memandangi botol beling kecil bertuliskan KiraNi. Sebuah kantong plastik disodorkan seseorang ke arahnya. Aleena pun terperanjat lagi. Dia melihat ke arah si pemberi.


"Di dalam plastik itu ada obat luka bakar yang ayah kamu berikan dan-" Rangga bingung mengucapkan kalimat lanjutannya.


Aleena segera melihat isi plastik itu dan sontak wajah Aleena berubah ceria. Dia segera membawa lari plastik tersebut.


"Makasih," teriak Aleena ketika menaiki anak tangga. Rangga hanya tersenyum melihat tingkah Aleena.


"Aku akan memantaskan diri agar bisa bersaing dengan laki-laki yang selama ini dekat dengan kamu. Aku akan buktikan jika akulah yang mampu membuat kamu bahagia."


.


Lima bidadari cantik yang tengah berbelanja dikawal oleh tiga laki-laki muda yang teramat tampan. Kalfa, Rio dam Restu. Mereka terus mengikuti ke manapun lima perempuan cantik itu melangkah.


Pandangan salah satu dari laki-laki tersebut tertuju pada sosok satu perempuan yang sedari tadi tengah memilih t-shirt. Sepertinya perempuan itu akan membelikan untuk sahabatnya juga.


"Terlalu lebay lu!" Restu memilih untuk keluar dari toko tersebut. Menunggu di depan toko sepertinya lebih baik.


Sesuai dengan perkataan Echa yang akan pulang pergi Jakarta-Singapura-Jakarta mereka terbang dari sana jam empat sore. Beeya sudah sangat cerewet ingin dijemput oleh sang calon tunangan.


Jam setengah tujuh malam mereka tiba di Bandara dan Beeya terlihat sangat bahagia ketika Iyan sudah menjemputnya.


"Miss you." Beeya memeluk erat tubuh jangkung itu.


"Dih, lebay amat." Aleesa mengejek Beeya.


Mata Iyan tertuju pada Kalfa. Penuh dengan intimidasi yang Iyan berikan. Laki-laki yang tengah bersama Aleeya pun sedikit merasa salah tingkah.


"Yan, Ghea dan Agha ada di rumah?" tanya sang kakak kedua.


"Ada, tadi mereka habis keluar sama Rangga dan Aleena."


Mendengar Rangga bersama Aleena membuat mata Kalfa melebar. Hatinya panas tak karuhan.

__ADS_1


"Mereka ke mana?" tanya Echa. Dia tidak memberi ijin kepada Aleena untuk keluar rumah.


"Biasa jajan di pintu gerbang depan," sahut Iyan.."Bang Radit yang ngasih ijin ke Aleena."


"Agha dan Ghea cuma dikasih uang cash lima puluh ribu loh." Riana mulai khawatir.


"Atuh Iyan yang kena palak. Mana si Ghea ngajak keluarga gorengan. Dompet Iyan yang jebol."


Semua orang pun tertawa mendengarnya. Tidak Agha tidak Ghea, dua-duanya pemalak handal.


Beeya terlihat lelah. Iyan malah tersenyum dibuatnya. Dia meraih tangan Beeya dan membuat Beeya menoleh. Tangan Beeya dibawa ke bibir Iyan dan membuat Beeya tersenyum dengan bahagia.


Tibanya di rumah, Beeya malah meminta ijin kepada kedua kakak iparnya untuk bermalam di rumah Echa.


"Jangan macam-macam!" Peringatan yang terdengar sangat menyeramkan.


"Ck, emang mau ngapain? Bee mau tidur. Capek," sahutnya. Perempuan itu malah meninggalkan Echa, Riana juga Iyan yang menggeleng dengan kompak.


"Bisa ya kamu suka sama cewek begituan," ujar Echa heran.


"Cinta itu buta, Kak."


Riana kini yang terkejut dengan ucapan sang adik. Sejak kapan adiknya berani menanggapi ucapan sang kakak. Iyan malah melenggang begitu saja menyusul Beeya.


"Real turunan Rion Juanda," decak Echa.


"Ayah Kakak itu," balas Riana.


"Ayah kamu juga, Ri!" Mereka berdua pun tertawa, tapi di dalam hati mereka berdua tengah merasakan duka yang masih menempel di dada. Waktu belum mampu menghapus sosok itu dari hidup mereka.


.


"Ayang! Pijitin." Nada manja keluar dari mulut Beeya. Dia sudah Bersandar di kepala ranjang.


Iyan menghampiri Beeya dan menyingkap selimut yang sudah menutupi kaki sang tunangan. Ketika Iyan hendak memijat kakinya, Beeya malah melarang.


"Katanya pegal," ucap Iyan sedikit bingung.


"Bukan itu, Ayang. Punggung." Iyan pun menghela napas kasar. Dia menyuruh Beeya untuk membelakanginya. Namun, tak disangka Beeya malah membuka kaos berwarna hitam yang dia gunakan di depan Iyan.


"Chagiya!" sentak Iyan. Pria itu malah memalingkan wajah. Dia tidak ingin membuat matanya menginginkan sesuatu yang belum boleh dia raih.

__ADS_1


"Ayang kenapa sih?" omel Beeya. "Lihat sini!"


...***To Be Continue***...


__ADS_2