Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
41. Di Depan Cahaya Senja


__ADS_3

Dua anak manusia tersebut sebenarnya memang sama-sama rapuh. Sama-sama memendam rasa sedih dan sakitnya seorang diri. Kini, mereka dipertemukan dan saling mengungkapkan kesedihan juga kesakitan yang masih melekat di hati mereka, terutama Iyan.


"Aku bingung harus mengadu kepada siapa? Aku bingung harus bercerita ke siapa? Jalan satu-satunya aku keluar dari rumah. Melupakan sedikit demi sedikit kesedihanku karena jujur, aku merasa sendiri pada waktu itu."


Beeya masih memeluk tubuh Iyan. Ternyata sangat rapuh hati pemuda yang tengah dia peluk ini. Kesedihannya belum sepenuhnya hilang. Buktinya, dia sangat menunjukkan betapa sedihnya dia menceritakan apa yang tengah dia rasakan.


"Kehilangan sosok yang sangat aku sayangi, membuat aku menjadi manusia depresi. Berbulan-bulan aku masih menganggap Ayah ada. Berbulan-bulan aku selalu menunggu Ayah datang. Namun, Ayah tak kunjung kembali. Datang ke dalam mimpi pun tidak."


Kesakitan yang Iyan rasakan seperti berpindah kepadanya sekarang. Rasa sakitnya sangat menusuk ulu hati Beeya saat ini.


"Setiap malam, mataku terpejam. Namun, pikiranku berkelana ke sana ke mari mencari Ayah. Berharap ketika aku membuka mata Ayah ada di sampingku."


Beeya semakin mengeratkan pelukannya. Benar kata kakak dari Iyan. Banyak hal yang tidak bisa Iyan ungkapkan kepada kedua kakaknya. Hanya kepada Beeya dia mampu mengungkapkan dengan lantang apa yang sebenarnya dia rasakan.


"Raga aku masih ada di sini, tetapi jiwa aku seperti sudah dibawa pergi oleh Ayah."


Beeya melonggarkan pelukannya. Kepalanya menggeleng dengan pelan. "Jangan berkata seperti itu."


"Memang seperti itu kenyataannya," balas Iyan. "Malah, setiap tidur malam aku selalu berdoa supaya nyawaku diambil. Aku ingin menemani Ayah di sana."


Iyan adalah anak yang kuat. Jika, bukan Iyan kemungkinan besar akan mengalami depresi berat. Namun, Iyan luar biasa. Mampu menyembunyikan kesedihan dan depresi pun masih bisa dia tepiskan. Walaupun, pikirannya tengah dirundung kesedihan yang tak berkesudahan.


"Temani aku di sini. Jangan pergi dan buat aku semakin depresi." Permohonan Beeya dengan air mata yang sudah menggenang. Kini, Iyanlah yang memeluk tubuh Beeya dengan sangat erat.


"Aku butuh kamu, dan aku juga janji akan selalu ada untuk kamu."


Iyan mengecup ujung kepala Beeya dengan sangat dalam. Hanya perkataan sederhana, tetapi mampu membuat hatinya menghangat tak terkira.


.


Kehadiran Iyan di samping Beeya mampu membuat Beeya sedikit demi sedikit mau mengungkapkan apa yang tengah dia rasakan kepada psikiater. Psikiater itupun tersenyum bangga. Apalagi, tangan Beeya yang tak pernah melepaskan tangan Iyan sedetik pun ketika mereka menemui psikiater tersebut. Di mata psikiater, Iyan adalah pria baik juga penyabar.


"Mau ke mana?" tanya Iyan ketika mereka sudah keluar dari ruang psikiater tersebut.


"Aku pengen ke pantai, lihat deburan ombak dan bermain pasir." Wajah Beeya sudah sangat berbinar ketika mengatakan itu semua.

__ADS_1


"Sore aja ya, sambil menikmati senja." Terlihat sedikit kekecewaan di wajah Beeya. "Aku harus mengecek Moeda kafe dulu, juga dua jam lagi ada meeting online." Iyan berkata dengan sangat lembut karena dia tidak ingin membuat Beeya sedih.


"Ya udah."


"Jangan marah dong." Iyan mengusap lembut rambut Beeya. "Aku janji, setelah meeting selesai kita ke pantai." Beeya mengangguk. Dia juga tidak boleh egois. Iyan sudah dewasa, dia sudah bekerja.


Sesampainya di rumah Beeya, Iyan segera masuk ke dalam kamarnya dan mengambil laptopnya. Dia ditugaskan untuk mengecek Moeda kafe oleh Radit. Beeya membuka pintu kamar Iyan dan melihat pemuda itu tengah sibuk dengan layar segiempat di depannya.


"Mau aku buatin kopi?" tanya Beeya.


Iyan pun menoleh, lengkungan senyum terukir di wajahnya. "Bisa gak buatin teh manis hangat aja?" tanya balik Iyan. Beeya pun mengangguk dengan cepat.


Selepas kepergian Beeya, Iyan mengembuskan napas kasar karena pekerjaannya yang cukup menguras emosi dan pikiran. Bagaiman tidak, semuanya nampak kacau. Bukan hanya Moeda kafe yang ada di Jakarta, di berbagai daerah pun mengalami hal yang sama.


"Ya udah, nanti aku pikirin lagi."


Beeya menghentikan langkahnya sambil membawa nampan berisi teh manis hangat di tangannya.


"Seminggu? Gak kelamaan?"


Meletakkan teh hangat di atas meja, lalu dia duduk di samping Iyan yang tengah berbicara via sambungan telepon. Tangannya merangkul pundak Beeya dan Beeya pun tak segan melingkarkan tangannya di perut Iyan.


"Iya, kita lihat setelah meeting aja, ya." Iyan pun mengakhiri sambungan teleponnya. Tak segan dia mengecup ujung kepala Beeya.


"Kenapa? Ada Masalah?" Beeya sudah mendongakkan kepalanya menatap ke arah Iyan. Bukanya menjawab, dia malah membubuhkan kecupan hangat di kening Beeya.


"Masalah kecil kok." Iyan membalas pelukan Beeya dengan erat.


"Bukannya mau meeting?" Iyan mengangguk.


"Aku ke kamar, ya. Tehnya jangan lupa diminum."


"Di sini aja," pinta Iyan.


"Aku gak mau ganggu." Iyan pun tersenyum. Dia membelai lembut pipi Beeya yang sekarang sudah lebih berisi.

__ADS_1


"Aku janji, setelah meeting selesai kita langsung ke pantai." Beeya pun mengangguk dengan seulas senyum yang lebar.


.


Selepas meeting virtual, Iyan menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia pun beranjak dari duduknya dan menuju ke kamar Beeya. Di sana seorang perempuan sudah siap dengan pakaian santainya. Namun, Iyan terlihat tidak suka karena Beeya menggunakan celana di atas lutut dan memperlihatkan kaki putih dan jenjang.


"Ganti!" Iyan sudah melipat kedua tangannya di atas dada.


"Gak mau. Aku nyaman pakai ini," ucap Beeya.


"Tapi aku gak suka," tegasnya.


"Kan aku ke pantainya gak sendiri. Ada kamu." Beeya sudah merangkul manja lengan Iyan dan menariknya. Iyan hanya menghela napas kasar.


Beeya sudah seperti anak kecil yang kegirangan ketika melihat pasir dan laut. Dia sudah berlari menuju bibir pantai. Melihat Beeya yang sangat ceria membuat Iyan yakin bahwa perempuan itu semakin hari semakin sembuh dari depresi.


Melihat tawa lepas Beeya membuat hati Iyan sangat tenang. Ya, perempuan yang selalu dia hindari karena kebar-barannya. Kini mampu mengisi relung hatinya. Itu semua karena hadiah ulang tahun dari sang ayah yang mampu membuka mata dan hati Iyan. Dia menyadari tidak ada pertemanan yang tulus antara dirinya dan Beeya. Apalagi pertemanan tanpa jarak.


Ketika senja datang, dua anak manusia ini berada di bibir pantai dalam posisi berdiri secara berdampingan. Cahaya senja yang mulai nampak membuat langit semakin indah. Mata mereka terpana akan cahaya yang mampu membuat banyak orang jatuh cinta.


"Cantik."


"Seperti kamu." Beeya pun menoleh ke arah Iyan. Pemuda itu sudah menggenggam kedua tangan Beeya dan posisi mereka kini sudah saling berhadapan di depan cahaya senja.


Tak ada kata, hanya sorot penuh makna yang mata mereka pancarkan. Saling mengunci, dan Iyan menarik dagu Beeya. Mata Beeya terpejam ketika merasakan sapuan lembut dari bibir Iyan.


"Aku mencintai kamu, Abeeya Bhaskara."


Mulut Beeya masih terbungkam, tetapi dia malah menarik bagian depan baju yang Iyan gunakan. Menempelkan bibirnya ke atas bibir Iyan lagi. Menyesappnya dengan penuh penghayatan.


Setelah pagutan itu terlepas, Iyan menatap Beeya dengan tegas. Mengusap lembut punggung tangannya dan berkata, "Aku harus ke Jakarta."


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2