
Suasana rumah Echa nampak begitu ramai. Di sana sudah kumpul semua keluarga dari Rion Juanda. Ditambah si quartet hadir, semakin membuat suasana rumah seperti pasar malam.
"Om," panggil Ghea kepada sang paman yang baru turun dari kamarnya. Iyan tersenyum dan mengusap lembut rambut Ghea.
Echa menatap ke arah Iyan dengan penuh selidik. Iyan memundurkan kepalanya ketika sang kakak menelisik wajah juga lehernya. Ditambah lagi Riana yang sudah membawa pisau dan ikut menelisik Iyan.
"Kenapa sih?" tanya Iyan.
"Nyari coepangan," sahut Riana.
Iyan pun berdecak kesal dan meninggalkan kedua kakaknya yang terlihat parnoan.
"Iyan gak sebejat itu, Kak." Pemuda itu sudah mengambil gelas dan juga mengambil susu cokelat dari dalam kulkas. "Bejatnya nanti aja pas udah nikah."
Plak!
Susu yang hendak Iyan minum tersembur karena ulah sang kakak yang memukul pundaknya itu.
"Maksud kamu apa?" hardik sang kakak.
"Kamu mau jadi bhajiengan?" Mata Riana sudah melotot.
"Kalau kamu macam-macam sama Beeya pas udah nikah. Jangan pernah anggap Kakak sebagai kakak kamu." Ancaman yang sangat menyeramkan yang Iyan dengar. Tatapan dua wanita kesayangan Iyan pun teramat tajam membuat Iyan mendesah panjang.
"Bang Aksa ... Bang Radit ... istri kalian kurang sajen nih," teriak Iyan dengan begitu lantang.
__ADS_1
Pemuda itupun berlari menjauhi kedua kakaknya yang sudah seperti ibu tiri. Iyan merasakan betapa tulusnya kasih sayang dua wanita itu kepadanya.
Iyan memilih bergabung bersama para pria yang ada di halaman samping. Sudah ada kue, kacang, kuaci di meja sana. Kopi juga tidan ketinggalan.
"Beeya masih tidur?" tanya Aksara, Iyan pun mengangguk.
"Lu belum ngapa-ngapain sepupu gua 'kan." Tatapan tajam Askara berikan kepada Iyan.
"Baru nyipok doang."
Aska segera menoyor kepala adik ipar dari abangnya itu. Semakin ke sini Iyan malah tertular virus sengklek Beeya.
"Dih, pamali tahu. Aku ini anak yatim loh gak boleh ditoyor-toyor," balas Iyan.
"Bodo amat!"
.
Satu jam berselang Iyan dikejutkan dengan pelukan manja dari belakang. Siapa lagi jika bukan Beeya pelakunya.
"Udah bangun?" Beeya mengangguk. Dia menarik tubuh Beeya hingga wanita itu duduk di pangkuan Iyan. Tiga pria dewasa di sana menggelengkan kepala mereka dengan kompak.
"Belum sah!" Pekikan suara anak laki-laki menggema, dengan penuh tenaga dia menarik tangan Beeya agar tidak duduk di pangkuan pamannya.
"BELUM HALAL!"
__ADS_1
Aska tertawa sangat puas. Keponakan tampannya benar-bensr menakjubkan. Sedangkan Iyan dan Beeya malah berdecak kesal.
"Tante lenjeh tuh belum mandi. Mandi dulu sana," usir Gavin. "Bau iler."
Beeya menatap penuh permusuhan kepada sang calon keponakan. Namun, Gavin malah bersikap acuh.
"Kalau berduaan antara laki-laki dan perempuan, orang ketiganya itu setan. Setan itu yang akan membisikkan sesuatu hal keburukan dan berimbas kepada dua insan yang melakukan hal dilarang oleh agama," papar Gavin.
"Batrenya kepenuhan nih," canda Askara.
"Kalau lowbet mulutnya pedes," timpal Radit. Aska dan Radit pun terbahak bersama.
"Ini nih contoh bapak-bapak yang senang ngeghibah," tunjuk Gavin ke arah Radit dan Aska. "Mulutnya kaya ibu-ibu berdaster bolong."
Aksa pun tertawa. Keunikan anak pertamanya seperti ini. Sikapnya sulit untuk ditebak.
Beeya malah sengaja duduk lagi di pangkuan Iyan. Malah sekarang dia merangkulkan tangannya di leher Iyan. Mode jahilnya muncul.
"Ayang, mandi bareng, yuk."
Kompak tiga pria dewasa juga satu anak laki-lali melotot mendengar ucapan Beeya.
"Bubu ... Mommy ... Om dan Tante lenjeh mau mandi bareng!" Gavin berteriak teramat keras.
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...