
"Triplets!"
Apa mungkin keponakannya ada di Bali? Bersama siapa? Begitulah batinnya berkata. Namun, ketika dia hendak mendekat lalu lalang orang menghalanginya. Kedua keponakannya sudah hilang begitu saja. Iyan menyadarkan dirinya. Apa itu hanya halusinasinya saja.
"Efek matahari kali, ya."
Iyan melanjutkan langkahnya. Dia membersihkan tubuhnya ke toilet umum. Banyak mata yang tertuju pada Iyan. Namun, seperti biasa dia akan bersikap dingin. Di matanya hanya Beeya yang paling cantik. Setelah tubuhnua bersih, dia kembali ke gazebo yang sudah dia sewa.
Iyan melihat hamparan air laut yang tenang. Setenang hatinya sekarang. Dia seakan sudah melupakan traumanya perihal ombak. Kini, dia malah senang berada di tepian pantai dengan diterpa angin pantai yang sepoi-sepoi. Sungguh hati dan tubuhnya terasa damai.
Dia teringat kembali akan dua keponakannya tadi. Dia menyambungkan kejadian di mana Ghea diantarkan oleh ayahnya. Sepertinya ada unsur sengaja.
"Apa jangan-jangan ...."
Iyan meraih ponselnya. Dia melakukan video call dengan Aleesa. Ternyata sang keponakan tengah berada di satu tempat yang terlihat asing baginya.
"Kamu di Bali?" Dahi Aleesa mengkerut mendengar ucapan dari Iyan.
"Bali? Ngapain?" Aleesa malah nampak bingung.
__ADS_1
"Tadi aku lihat kamu di pantai."
Aleesa pun tertawa. Dia juga menggelengkan kepala.
"Om mah mimpi kali," kelakarnya.
Kedua keponakannya ikut bergabung dan membuat Aska yakin bahwa si triplets memang tidak ada di Bali. Mereka menunjukkan kedai kopi baru. Maka dari itu, mereka kompak.
Dua perempuan cantik masih betah berada di tepian pantai bermain pasir. Selalu tertawa ketika istana pasir mereka diterpa ombak. Umur Beeya boleh tua, tetapi Beeya masih seperti anak kecil. Sambil menunggu Beeya dan Ghea sudahan berlian pasir. Dia memejamkan mata sambil menggunakan kacamata hitam.
Siluet wajah ayahnya terlihat amat jelas. Rion tersenyum ke arah Iyan. Iyan terkejut dan segera berhambur memeluk tubuh Rion.
Rion hanya tersenyum. Dia menatap hangat wajah Iyan. Senyumnya tak pernah pudar.
"Ayah, Iyan jatuh cinta pada wanita pilihan Ayah."
Iyan seperti tengah tengah bercerita berdua dengan sang ayah. Bukan hanya Rion yang terus melengkungkan senyum. Senyum Iyan pun tak pernah pudar ketika berada di samping ayah.
"Iyan tidak ingin berlama-lama, Ayah. Iyan ingin bersama dia, mengikat dia dalam sebuah ikatan janji suci pernikahan."
__ADS_1
"Bekal kamu sudah siap?" tanya Rion.
"Sudah, Ayah. Iyan tidak akan merepotkan kak Echa juga Kak Ri. Mudah-mudahan uang yang Iyan punya cukup untuk meminang wanita pilihan Ayah untuk Iyan."
Rion tersenyum bahagia. Dia menepuk pundak Iyan dengan begitu lembut.
"Maafkan Ayah, tidak bisa mendampingi kamu menuju altar pernikahan. Maafkan Ayah, sudah lebih dulu pergi sebelum kamu bahagia."
Iyan pun menggeleng. Dia menatap manik mata ayahnya dengan tatapan pilu.
"Sebenarnya Iyan marah, Iyan benci Ayah. Kenapa Ayah harus pergi ketika Iyan belum sanggup berdiri sendiri? Kenapa Ayah tega meninggalakan Iyan seorang diri?" Iyan pun mulai terisak.
"Anak Ayah ini kehilangan arah, Yah. Anak ayah ini masih butuh bimbingan ayah. Jangan tinggalkan Iyan ketika tubuh Iyan masih goyah. Ketika Iyan terjatuh, Iyan tidak bisa bangkit lagi."
"Iyan sedih, Iyan iri kepada kak Ri dan juga Kak Echa. Mereka disaksikan oleh Ayah ketika dipinang oleh pria pilihan mereka. Kenapa Ayah tidak mau mendampingi Iyan? Malah meninggalkan Iyan. Apa Yah membenci Iyan?"
Iyan seakan tengah meluapkan segala perasaannya kepada ayahnya. Di sana Rion hanya mematung. Dia hanya bisa menatap wajah sang putra.
"Yan, Ayah pergi karena Ayah sangat yakin bahwa kamu akan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Kamu akan bersanding dengan wanita yang tepat. Maafkan Ayah, Iyan."
__ADS_1