
Iyan melajukan mobil dengan cukup kencang menuju rumah sang ayah mertua. Melihat kondisi istrinya yang tak berdaya membuat Iyan sangat cemas. Mobil pun sudah terparkir di depan rumah Arya. Iyan segera menekan bel dan Arya lah yang membukakan.
"Kerja kok bagai kuda," omel sang ayah mertua. Namun, Iyan tak menghiraukan. Sudah biasa mulut ayah mertuanya pedas karena sejatinya mulut Arya diciptakan untuk nyinyir.
"Istri Iyan di mana, Pah?" Arya mengantar Iyan ke kamar di mana Beeya berada. Ternyata sang istri tengah dipijat keningnya oleh sang ibu. Wajahnya pun nampak pucat.
"Chagiya!" Iyan segera menghampiri istrinya dan memeluk tubuh Beeya yang lemas tak berdaya.
"Kita ke rumah sakit, ya." Beeya menggeleng.
"Chagiya--"
"Aku ingin pulang, Ayang." Beeya memotong ucapan Iyan. "Aku ingin tidur di kamar kita."
"Lebih baik kamu di sini, Bee. Iyan juga pasti akan menginap di sini." Namun, sang putri malah menggeleng.
"Bee ingin pulang, Mah." Beeya tetap bersikukuh.
Beby dan Arya pun akhirnya mempebolehkan. Mereka mengantar Beeya hingga masuk ke dalam mobil.
"Chagiya, kamu kenapa sih?" tanya Iyan denhan begitu cemas.
"Gak tahu, Ayang." Lemah sekali jawaban Beeya.
"Makan dulu, ya." Beeya pun mengangguk.
Mobil berhenti tepat di depan sop kaki sapi yang Beeya inginkan. Untung saja sop tendaan ini buka sampai jam dua pagi.
Beeya berpegangan pada lengan Iyan menuju tenda biru yang menjual sop. Setelah pesanan yang diinginkan Beeya disajikan di atas meja, dia segera meraciknya. Iyan tercengang ketika sang istri memeras lebih dari tiga jeruk nipis ke dalam mangkuk SOP kaki sapi.
__ADS_1
"Chagiya, itu asem banget." Iyan mencegah tangan Beeya untuk melanjutkan. Namun, Beeya tak mengindahkannya. Lima jeruk nipis masuk ke dalam mangkuk sop kaki sapi milik Beeya.
"Em ... Seger."
Iyan yang melihatnya malah menelan ludah karena pasti sangat masam. Namun, beda dengan Beeya yang sangat menikmati dengan lahap. Beeya juga memesan es jeruk peras tanpa gula dengan porsi jeruk untuk dua gelas dijadikan satu. Iyan menggelengkan kepala. Dia merasa aneh kepada istrinya saat ini. Beeya yang tidak suka masam malah sekarang sangat menyukai. Sedangkan pedas, dia tidak menyentuhnya.
Setelah kenyang, Beeya mengajak Iyan pulang karena dia sudah mengantuk. Iyan senang karena wajah istrinya sudah kembali cerah lagi. Di sepanjang perjalanan pulang, Beeya sudah terlelap. Iyan mengatur jok mobil agar nyaman untuk sang istri rebahan.
Tibanya di rumah, Iyan segera membawa tubuh Beeya ke dalam kamar tanpa membangunkan. Iyan segera mengambil air hangat di wadah yang cukup besar dan handuk kecil. Dia harus membersihkan tubuh istrinya terlebih dahulu karena Beeya memiliki kulit yang sangat sensitif. Iyan hanya dapat menelan ludah ketika melihat gunung putri yang menonjol keluar. Dia ingin meraihnya, tapi melihat istrinya yang tak sehat membuat Iyan harus mengurungkan niat.
"Good night, Chagiya."
Keesokan paginya, tubuh Beeya kembali lemah tak berdaya. Malah, pagi ini dia muntah-muntah dan membuat Iyan terbangun. Dia melihat ke arah samping dan istrinya sudah tidak ada.
"Cahgiya!" panggil Iyan. Dia segera berlari ke kamar mandi karena mendengar suara Beeya yang tengah memuntahkan sesuatu. Benar saja, sang istri tengah berusaha mengeluarkan sesuatu di dalam perutnya. Keringat pun sudah membasahi wajahnya.
"Chagiya." Beeya menyandarkan tubuhnya di dasa Iyan. Napasnya sudah tak beraturan.
"Chagiya, jangan buat aku cemas," kata Iyan.
"Aku hanya masuk angin saja, Ayang." Iyan membawa tubuh istrinya ke dalam kamar. Mengelap keringat yang bercucuran di wajahnya.
"Ayang, ingin jeruk peras hangat." Iyan terkejut dengan permintaan istrinya.
"Chagiya, ini masih pagi!" Iyan sedikit membentak. "Kalau magg kamu kambuh lagi gimana?" Mata Beeya langsung berkaca-kaca dan membuat Iyan merasa bersalah. Dia segera memeluk tubuh Beeya.
"Aku cuma minta jeruk peras hangat." Beeya berucap dengan begitu lemah.
Akhirnya, Iyan mengalah juga. Membiarkan istrinya meminum jeruk peras hangat. Keanehan ini terus berlangsung dan sekarang memasuki hari ketiga. Di rumah harus selalu sedia stok buah masam. Juga jika pagi hari ada drama muntah dan mual, dan malam hari harus keluar untuk mencari makanan. Itulah Beeya sekarang.
__ADS_1
"Ada apa dengan istriku?" Itulah pertanyaan yang bersarang di kepala Iyan. Tengah gundah seraya memijat pangkal hidungnya yang cukup pening karena memikirkan keadaan sang istri terdengar pintu ruangan Iyan diketuk dan senyuman sang kakak membuat Iyan segera berhambur memeluknya.
"Loh, kenapa?" Tidak biasanya Iyan seperti ini. Echa mengusap lembut punggung Iyan. Wajah adiknya terlihat sendu. Echa mengajak Iyan untuk duduk.
"Kenapa murung?" tanya Echa. "Kakak dengar dari Abang kalau tiga atau empat hari yang lalu Beeya pulang ke rumah orang tuanya. Apa kamu bertengkar?" Iyan menggelengkan kepala.
"Lalu, kenapa wajah kamu muram?" Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan.
"Sudah empat hari ini kondisi istri Iyan aneh, Kak." Dahi Echa mengkerut.
"Aneh kenapa?"
"Setiap pagi pasti dia mual dan muntah, selalu minta stok buah-buahan masam dan gak makan apapun selain itu, tapi kalau malam dia ngajak keluar dan makan banyak."
Echa malah tertawa mendengar penjelasan sang adik. Tangannya sudah mengusap lembut pundak Iyan.
"Adik Kakak masih saja polos sih." Kini, Iyan yang bingung.
"Pulang kerja nanti mampir ke apotek. Beli beberapa testpack."
Deg.
Tubuh Iyan menegang ketika mendengar nama alat pengecek kehamilan.
"Semoga dugaan Kakak benar karena semalam Ayah datang ke dalam mimpi Kakak dan memberikan lima buah kelereng yang Kakak gak ngerti maksudnya apa. Namun, Kakak melihat raut wajah Ayah sangat bahagia." Wajah Echa berbinar menceritakan mimpinya semalam.
"Semoga memang akan ada berita baik yang nantinya Kakak dan keluarga besar dengar dari kamu dan Beeya."
...***To Be Continue***...
__ADS_1
Komen dong ...