Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
.


__ADS_3

Keysha turun ke lantai bawah di mana sudah terdengar suara riuh di sana. Dia terkejut ketika Fareeq tengah berbincang dengan para lelaki di ruang keluarga beserta anak-anak kecil yang bermain di sana.


"Udah bangu, Key." Sapaan Echa membuat para lelaki di sana menoleh. Termasuk Fareeq.


"Perawan bangun siang. Pamali!" omel Aska.


"Weekend, Kak." Keysha menyahuti ucapan Aska dengan raut salah tingkah karena tatapan sang tunangan.


"Ah, kenapa wajahnya ganteng banget. Tatapannya bikin hati melting."


"Kak, siap-siap gih." Keysha membalikkan tubuhnya dan menoleh kepada sang ibu yang memanggilnya


"Mau ke mana?"


"Itu anak-anak ingin ke Univeral studio Singapore." Sheza menjelaskan.


"Iya, Aunty Key. Cepat siap-siap. Kita gak sabar," ucap si bawel, Aleeya.


"Key gak ikut, ya."


"Iya, Mih. Bosan." Kaza menimpali. Sontak sang mamih melebarkan mata dan membuat dua anak manusia itu menurut tanpa banyak bicara. Keysha lun mulai naik ke lantai atas.


Kano dan lainnya hanya tertawa. Sedangkan Fareeq masih menatap kagum pada Keysha yang masih terlihat cantik walaupun tanpa make up.


"Liatinnya biasa aja, Bro!" goda Aska. Fareeq jadi salah tingkah dan membuat para lelaki di sana tertawa.


"Cantik mana sama Elyna?" Radit berbisik.


"Calon istri saya tentunya." Radit pun tertawa. Bukannya Fareeq menghina Elyna, tapi untuk kali ini dan seterusnya di matanya yang paling cantik itu Keysha.


Dua puluh menit berselang Keysha sudah turun. Dia bukan tipe wanita yang lama jika berdandan. Dia juga tidak suka berlama-lama di kamar mandi jika pagi hari.


Keysha sudah turun dan di keluarga hanya tinggal Fareeq. "Yang lain ke mana, Kak?" tanya Keysha.


"Udah pada jalan. Aku disuruh nunggu kamu." Keysha pun berdecak.


"Pada tega banget sih," ujar Keysha. Fareeq hanya tertawa.


"Mau berangkat sekarang apa mau sarapan dulu?"


"Kakak belum sarapan?" tanya Keysha. Dia hendak ke dapur, tapi tangannya dicekal oleh Fareeq.

__ADS_1


"Aku udah sarapan." Kalimat yang begitu lembut yang mampu Keysha dengar. "Kamu 'kan yang belum sarapan." Keysha pun tercengang. Mereka malah saling tatap.


"Apa mau sarapan di luar?" Keysha menggelengkan kepala.


"Aku ambil sarapan aku dulu." Tangan Fareeq pun mulai melepaskan.lengan Keysha dan membiarkan Keysha pergi ke dapur.


Di mobil mereka hanya berdua. Ada kecanggungan di antara mereka berdua. Hingga Keysha membuka paper bag kecil yang dia bawa dan mengeluarkan susu kotak. Lalu, menusuk sedotan yang di sana.


"Ini." Keysha memberikan kepada Fareeq. Pria itupun sedikit terkejut.


Fareeq yang nampak kesusahan membuat Keysha memegangi kotak susu tersebut tanpa harus Fareeq memegangnya. Perlakuan sederhana, tapi sangat manis.


"Makasih, ya." Keysha tersenyum. Dia masih memegangi susu kotak milik Fareeq.


"Mau ke restoran cepat saji gak? Kamu cuma minum susu doang." Keysha menggeleng.


"Aku gak biasa sarapan berat." Fareeq mengangguk.


Tibanya di tempat anak-anak inginkan, Keysha dan Fareeq berjalan berdampingan. Di sana sudah ada Kaza yang sudah melipat wajahnya.


"Lama banget sih!" Dia bersungut-sungut seraya menyerahkan tiket yang memang sudah dibeli oleh sang papih. Keysha malah tertawa dan merangkul manja tangan sang adik.


"Nah, menggenggam tangan tunanangan lebih romantis dari pada tangan adiknya sendiri." Kaza pun berlari meninggalkan kakaknya juga Fareeq sambil melambaikan tangan. Fareeq hanya tertawa.


Kemudian, dia melihat ke arah tangan yang tengah menggenggam Keysha.


"Apa boleh kayak gini?" Keysha menatap ke arah Fareeq. Pria di sampingnya ini sungguh teramat sopan. Perihal seperti ini saja harus bertanya.


"Kalau Kakak gak risih, aku gak apa-apa. Lagi pula cincin sudah tersemat di jari kita 'kan." Fareeq tersenyum dan membawa Keysha dengan menggenggam tangannya.


"Kenapa kamu begitu manis, Kak? Jujur, aku bahagia bisa mengenal kamu." Sedikit demi sedikit bayang wajah mantan kekasihnya menghilang. Perlakuan dan sikap Fareeq membuat Keysha merasa nyaman.


Keysha dan Fareeq hanya berjalan-jalan. Sejujurnya dia sudah bosan ke tempat ini.


"Kak, makan yuk." Keysha sudah merasa bosan. Fareeq mengikuti saja apa yang diinginkan oleh Keysha.


Menunggu pesanan mereka tiba, Fareeq menatap Keysha dengan begitu dalam. Namun, yang ditatap tengan memainkan ponsel.


"Ternyata benar," ujar Fareeq. Keysha menegakkan kepalanya ketika mendengar perkataan Fareeq.


"Benar apanya?" tanya Keysha. Dia sudah meletakkan ponselnya di atas meja.

__ADS_1


"Kita pernah bertemu sebelumnya." Dahi Keysha mengkerut.


"Benarkah? Di mana?"


"Beberapa bulan yang lalu kamu pernah ke rumah sakit internasional Silaom 'kan." Keysha mengingat-ingat. Kemudian, dia mengangguk.


"Kita pernah bertemu di sebuah lorong rumah sakit, dan kita pernah saling tatap karena pada waktu itu lorongnya sepi.


Keysha mencoba mengingat-ingat. Beberapa detik kemudian, dia teringat.


"Oh, yang pakai masker biru itu, ya." Fareeq pun mengangguk. "Pantas ... aku seperti pernah melihat sorot mata Kakak."


"Kok Kakak masih ingat?"


"Wajah kamu berbeda dari wanita yang lain." Keysha malah tertawa. Mereka banyak berbincang dan juga tertawa bersama. Seperti sudah tercipta chemestry di antara mereka berdua.


Setelah selesai makan, Fareeq mengatakan sesuatu kepada Keysha. "Besok aku kembali ke Jakarta." Keysha hanya tersenyum berat. "Aku cuma ijin dua hari."


"Gak apa-apa." Fareeq meraih tangan Keysha. Dia sudah tidak sungkan lagi.


"Apa kamu siap LDR-an?" Keysha terdiam sejenak. Sebenarnya dia trauma dengan yang namanya hubungan jarak jauh. Namun, kali ini dia harus melakukannya lagi.


"Aku janji, setiap aku off aku akan menemui kamu." Fareeq berkata dengan sangat serius.


"Apa perkenalan kita hanya sampai sini?" Fareeq menggeleng.


"Kita masih bisa berkomunikasi sesuka hati kamu. Kalau aku gak sibuk, pasti aku jawab."


"Apa hanya aku yang menghubungi Kakak? Kakak tidak menghubungi aku?" Fareeq malah tertawa.


"Enggak dong. Aku pasti meluangkan waktu untuk menghubungi kamu." Bibir Keysha twrangkat sedikit.


Fareeq mengusap lembut punggung tangan Keysha. Dia menatap Keysha dengan sangat dalam.


"Apa kamu percaya sama aku?" Keysah terkejut dengan ucapan Fareeq. Biasanya jika akan melakukan LDR hanya janji manis yang terucap. Sedangkan Fareeq malah bertanya dengan serius.


"LDR itu bermodal percaya. Lagi pula, jika salah satu di antara kita ada yang berbohong, tak perlu menjelaskan. Bairlah waktu yang mengungkapkan semuanya." Fareeq tersenyum mendengar penuturan Keysha. Benar kata abinya, Keysha memang wanita baik.


Menjalankan suatu hubungan karena permintaan orang tua dengan ikhlas dan tulus, pasti akan membuahkan hasil yang membahagiakan. Itulah yang tengah Fareeq dan Keysha lakukan. Mereka sudah lelah dengan yang namanya berjuang. Namun, pada akhirnya mereka harus menelan kekalahan yang mendalam.


"Insha Allah, aku percaya sama kamu, Kak."

__ADS_1


__ADS_2