
Yang belum baca bab atasnya baca dulu, ya. Bab 6-25 (tanpa judul) lagi proses penghapusan. Jadi cukup bacanya dari bab yang sudah ada judulnya. Juga di bawah bab 25 (tanpa judul). Supaya nyambung ke ceritanya. Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.
...----------------...
Deg.
Beeya terdiam sejenak. Ucapan Iyan seperti sindiran keras untuknya. Beeya benar-benar mati langkah.
"Ya udah, aku masih banyak kerjaan." Iyan mencoba untuk tersenyum. "Love you, Chagiya." Iyan mengakhiri sambungan videonya.
Tubuh Beeya masih menegang. Dia sangat yakin bahwa Iyan sudah tahu perihal masa lalunya yang kembali dan satu tempat kerja dengan dirinya. Tangannya kini sudah mencari nomor ponsel Wira. Orang yang akan bisa membantunya.
Namun, Wira mengatakan bahwa Iyan sudah jarang ke kafe. Semenjak kembali ke Jakarta, dia belum pernah menginjakkan kakinya di moeda kafe. Sungguh membuat Beeya serba salah.
"Apa aku harus mengatakannya sekarang?"
.
Jam istirahat tiba seperti biasa Beeya akan memesan makan siang dengan cara menitip ke karyawan yang ada di toko. Baru saja membuka pintu, dia dikejutkan dengan kehadiran Kenzo yang sudah berada di depan pintu. Dia tersenyum ke arah Beeya dan menyerahkan bungkusan makanan kepadanya.
"Makanan kesukaan kamu, hok-ben." Kenzo berucap dengan tulus.
"Maaf, saya sedang tidak ingin makan makanan Jepang." Penolakan Beeya menbuat hati Kenzo kecewa. Semakin ke sini sikap Beeya semakin dingin dan terlampau jahat.
Beeya melanjutkan langkahnya menuju lantai bawah. Hari ini dia sangat ingin makan buah-buahan yang segar dengan sambal rujak yang pedas.
"Makanannya apa, Mbak?" tanya salah seorang karyawan.
"Rujak aja deh. Saya lagi pengen makan itu soalnya." Beeya menjawab sembari mengeluarkan ponsel dari dalam saku celananya.
"Lagi ngisi ya, Mbak?" canda karyawan yang lain. Beeya hanya tersenyum.
"Iya kali, sayangnya bapaknya lagi jauh di sana," jawab Beeya seperti orang yang serius. Tanpa dia sadari Kenzo mendengar apa yang dikatakan oleh Beeya. Hatinya semakin terluka dan semakin sakit..
"Siapa yang beruntung mendapatkan kamu, Bee?" gumamnya di dalam hati.
Semua karyawan yang ada di toko Arina menyimpan rasa curiga tentang hubungan Beeya dan juga Kenzo. Pasalnya sedari tadi mereka menikmati rujak buah segar sedangkan Kenzo malah asyik menyendiri. Juga Beeya yang seolah acuh kepada pria tampan itu. Tidak bersikap ramah kepada karyawan yang lain. Namun, mereka hanya berani berbicara di belakang Beeya saja karena Beeya adalah wanita pemberani dan mulutnya amat berbisa.
Dering ponsel berbunyi dan bibir Beeya melengkung dengan sempurna. Para karyawan hanya saling pandang.
"Dari pacarnya, ya," celetuk karyawan pria. Beeya hanya tersenyum dan tangannya menggeser layar
__ADS_1
ponselnya untuk menjawab telepon Iyan..
"Iya, Ayang."
Para karyawan lelaki sontak memegang dada mereka yang teramat sakit. Sungguh panggilan Beeya kepada seseorang di balik sambungan telepon itu sangatlah menyayat hati.
"Kamu udah makan belum? Jangan diporsir, Ayang. Aku gak mau kalau kamu sakit."
"A... manis sekali sih, Mbak," timpal salah seorang karyawan wanita. "Jadi pengen tahu siapa pacar Mbak Beeya."
Tawa pun menggelegar, Beeya menyampaikan apa yang diinginkan oleh para karyawan di toko tantenya Beeya.
"Bilang ke mereka, kenal akunya pas di pelaminan aja." Beeya pun tertawa kembali. Sungguh dia juga tidak ingin mempublikasikan wajah sang kekasih. Bahaya, apalagi wajah Iyan amatlah tampan.
"Habiskan ya rujaknya. Saya mau kembali ke atas."
"Baik, Mbak."
Langkah kaki Beeya membawanya menuju lantai atas di mana dia seharusnya berada. Beeya ingin mengganti panggilan suara dengan panggilan video.
Di lantai bawah para karyawan pria banyak yang kecewa. Andaikan mereka yang menjadi pacar Beeya, barang tentu mereka akan bahagia. Apalagi panggilan sayang yang Beeya berikan amatlah manis di telinga.
"Penasaran tahu," ujar salah seorang karyawan wanita.
Kenzo hanya tersenyum tipis sembari menikmati makanan Jepang yang dia berikan untuk Beeya. Terpaksa dia makan sendiri karena Beeya menolaknya.
"Bukan hanya aku yang masih mengharapkan kamu, tapi para karyawan pria yang lain pun berharap kamu jadi milik mereka," batinnya. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Kenzo. Dia masih ingin mendekati Beeya.
Toko tutup jam delapan malam. Beeya pulang setengah jam setelah toko tutup untuk memastikan semuanya aman. Dia sudah biasa dengan hal seperti itu. Langkah kaki membawanya menuju lantai bawah. Dia pun mengunci toko tersebut. Ketika dia membalikkan tubuhnya dia dikejutkan dengan keberadaan Kenzo.
"Aku antar kamu pulang," ucap Kenzo. Wajah Beeya masih datar sambil memperhatikan Kenzo. "Udah malam, seorang wanita cantik seperti kamu gak baik pulang sendiri."
Bagi sebagian wanita perkataan itu akan melambungkan hati, berbeda dengan Beeya.
"Makasih, saya sudah dijemput."
Klakson mobil pun berbunyi. Sang ayah sudah menjemputnya dan kaca jendela mobil pun sudah dibuka.
"Calon suami kamu tadi menghubungi Papah. Katanya selesai dari toko langsung pulang."
Ayahnya bagai penyelamat untuknya saat ini. Beeya pun tersenyum dan segera membuka pintu mobil tanpa berpamitan kepada Kenzo. Arya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Bee tobat, Pah."
Arya tidak menjawab, tapi dia mendengar hembusan napas berat keluar dari mulut putri tercintanya. Beeya pun meraih ponselnya. Semenjak dari makan siang tadi Iyan belum juga menghubunginya lagi.
.
"Iya, dia tadi chat saya Pak Manager." Wira berkata apa adanya. Dia juga menunjukkan pesan singkat yang dikirimkan oleh Beeya kepadanya.
"Bapak sedang ada masalah?" tanya Wira. Iyan hanya menggelengkan kepalanya saja. Namun, raut wajah Iyan tidak bisa berdusta.
"Pak, kalau ada masalah mah ya selesaikan," ujar Wira. "Jangan kaya gini," tambahnya lagi.
"Sok tahu kamu!"
Iyan pun meninggalkan Wira juga moeda kafe. Dia mengendarai mobil menuju rumahnya. Di pinggiran jalan dia melihat ada pedagang telur gulung gerobakan. Dia teringat akan ketiga keponakannya yang suka jajan. Alhasil mobilnya berhenti di tepian jalan. Memesan telur gulung sebanyak lima puluh ribu. Namun, dia membayarnya seratus ribu.
"Kembaliannya buat Emang aja."
Bukan hanya tampan, Iyan juga memiliki hati yang sangat baik. Banyak mata yang tertuju padanya karena pinggiran jalan tersebut bisa dibilang tempat aneka kulineran.
"Abang tampan, godain Eneng dong," ucap para remaja tanggung.
Iyan tidak menggubrisnya. Namun, dia menunjukkan jari manisnya yang membuat semua remaja serta wanita dewasa berteriak histeris. Iyan menggelengkan kepala melihat tingkah konyol mereka semua.
"Ganteng banget. Rela gua jadi pelakor." Ucapan absurb dari para remaja yang terpesona pada ketampanan Iyan.
Tibanya di rumah kebetulan sekali ketiga keponakannya tengah memainkan ponsel di teras depan. Iyan menutup pintu mobil dan berjalan menuju mereka. Meletakkan telur gulung begitu saja tanpa kata.
Aleeya segera membuka kantong tersebut dan membuat tiga anak itu berteriak gembira. Iyan hanya tersenyum mendengarnya. Itulah si triplets, hal sederhana saja bisa membuat mereka bahagia.
Iyan membuka jas juga dasi yang melingkar di lehernya. Membuka dua kancing bagian atas dengan menghembuskan napas kasar.
"Yan, aku punya teman baru," ucap si kerdil yang tiba-tiba masuk ke kamarnya. "Bedul namanya," lanjut si kerdil lagi.
"Ini bukan kebun binatang, tuyul," omel Iyan. Si kerdil hanya cengengesan. Teman si kerdil itu adalah babie ngepet.
"Dia bisa kita andalkan, Yan," ucap si kerdil lagi sambil menyeka lendir berwarna hijau di hidungnya. Dahi Iyan pun mengkerut.
"Aku tahu pasti kamu sedang pusing memikirkan biaya untuk pernikahan kamu. Kita suruh aja si bedul untuk ngepet uang orang kaya sebanyak-banyaknya untuk modal kamu nikah. Gimana?"
...****************...
__ADS_1
Gimana? Komen dong....