Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
9. Mengambil Keputusan


__ADS_3

Mata Iyan sama sekali tak terpejam. Dia masih menatap foto mendiang sang ayah dengan mata yang sembab dan sudah menyipit.


"Kenapa aku belum bangun dari mimpi buruk ini?" ucapnya sangat pelan.


Sudah tidak ada air mata, tetapi masih ada duka yang tidak tahu sampai kapan akan hilang. Hati Iyan sudah kosong. Hari-harinya dia lewati tanpa senyum.


Sama halnya dengan Echa. Sudah tiga hari kepergian ayahnya, perutnya tak menginginkan apapun. Dia hanya memeluk figura sang ayah dengan sangat erat. Rianalah yang harus menjadi penguat sekarang ini. Dia tidak boleh ikut rapuh. Walaupun hatinya belum sembuh.


"Kak, makan dulu, ya." Riana sudah membawa nampan berisi bubur ayam.


"Kakak gak lapar."


Sakit sebenarnya hati Riana, tetapi dia harus menjadi kuat di depan kakak dan adiknya.


"Sedikit aja, Kak. Kakak belum makan sama sekali." Riana memaksa Echa untuk makan. Dia sudah menyodorkan sendok ke arah mulut Echa.


"Gak ada rasa. Apa Kakak yang sudah mati rasa?"


Riana memeluk tubuh kakaknya yang terlihat sangat rapuh. Bagiamana tidak, ayahnya adalah orang yang sangat menyayangi kakaknya dengan sangat besar.


"Kak, Kakak gak boleh rapuh. Kita harus kuat. Ayah udah gak akan ngeluh sakit lagi."


Air mata Echa pun masih belum surut. Terus terjatuh walaupun sudah tiga puluh enam jam berlalu.


"Kamu bisa melihat Ayah, tapi Kakak-"


"Ri, hanya mendampingi ayah. Ri juga gak berada di samping Ayah ketika Ayah menutup mata. Mungkin, Ayah tidak ingin membuat anak-anaknya sedih dengan melihat sakaratul mautnya." Riana pun sudah tak bisa menahan air mata yang sedari tadi memaksa untuk terjatuh.


Radit dan Aksa hanya menghela napas kasar melihat istri-istri mereka masih sangat berduka.


"Riana juga rapuh, setiap malam dia pasti nangis. Sedih ditinggal ayah juga melihat adik dan kakaknya masih berkabung." Aksa menjelaskan keadaan istrinya pada Radit.


"Mereka akan sulit untuk menerima semua ini. Terlebih mereka terbiasa hidup dengan ayah."


Aska mengangguk mengerti. Pikirannya tertuju pada sosok adiknya.


"Bagaimana dengan Iyan?"


Helaan napas berat keluar dari mulut Radit. "Dia bagai patung bernapas."


.


Seminggu sudah kepergian Rion Juanda. Iyan pun sudah mulai masuk kuliah kembali dengan kaki yang terasa tak menapak pada bumi.


Dia hanya bisa tersenyum getir ketika dia berharap Beeya ada di sampingnya seolah kini menjauhinya. Tidak ada penghibur untuknya. Dia benar-benar merasa sendiri sekarang. Hingga satu keputusan besar coba untuk Iyan ambil.


"Kak, Bang," panggil Iyan ketika mereka ada di meja makan.

__ADS_1


"Iyan ingin keluar dari rumah ini."


Sontak mata Radit dan Echa melebar. "Kamu mau ke mana, Yan? Jangan buat Kakak semakin sedih."


Iyan tersenyum perih ke arah sang kakak. "Iyan ingin menjauh sejenak dari kenangan bersama Ayah. Hati Iyan masih sakit."


Ketiga keponakannya berhambur memeluk tubuh Iyan. Mereka tidak akan pernah tega jika melihat om kecil mereka menangis.


"Jangan tinggalkan kami, Om kecil." Aleesa memeluk erat tubuh Iyan.


"Kamu mau nyakitin Kakak sama Kak Ri?" Suara Echa sudah bergetar. Iyan menghampiri kakaknya dan memeluk erat tubuh Echa.


"Berikan Iyan waktu untuk menenangkan diri, Kak. Kenyataan ini sangat menyakiti hati Iyan."


Ditinggalkan oleh orang tua satu-satunya membuat Iyan sangat terluka. Apalagi dengan kondisi Iyan yang masih sendiri belum memiliki seorang istri. Berbeda dengan kedua kakaknya. Meskipun kedua kakaknya adalah dua wanita yang sangat baik, tetap saja tidak bisa menggantikan ayahnya.


"Kamu mau tinggal di mana? Kamu ingat pesan Ayah 'kan. Harus lulus kuliah." Radit berkata dengan sangat tegas.


"Paling aku mau ngekos, Bang. Sekitaran kafe. Aku juga akan lulusin kuliah aku."


Radit menoleh ke arah istrinya yang masih bersedih.


"Iyan janji, Iyan akan sering main ke sini. Kakak dan si triplets pun boleh main ke tempat tinggal Iyan yang baru."


Echa melihat wajah adiknya benar-benar sangat terluka. Dia tidak tega dan akhirnya dia menyetujui keputusan Iyan.


.


Hari ini akhir pekan, Beeya sengaja menonaktifkan ponselnya karena dia ingin sendiri.


"Bee," panggil sang ayah.


Beeya yang masih bergumul di bawah selimut hanya menyembulkan kepalanya sedikit.


"Papah mau ke rumah Iyan. Kamu-"


"Ikut!"


Beeya segera membuka selimutnya dan turun dari tempat tidur. Bergegas menuju kamar mandi. Mendengar nama Iyan dia teramat semangat.


Arya menggelengkan kepala seraya tersenyum.


"Papah merindukan diri kamu yang sesungguhnya, Bee."


Arya menatap ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup.


Memandang wajahnya yang sudah cantik dan kini hanya tinggal menggunakan lip tint di bibir mungilnya. Senyumnya terus merekah seperti akan bertemu dengan teman spesial.

__ADS_1


Tak lupa, dia meraih ponselnya yang masih tersambung dengan chargeran. Mencabutnya dan segera memasukkan ke dalam tas kecil yang akan dia bawa.


"Pah, Ayo!"


Suara Beeya sudah menggema dan langkahnya sudah menuruni anak tangga. Senyum Beby dan juga Arya melengkung indah. Dia merasa putri mereka sudah kembali.


"Senang banget kayaknya," ejek Beby. Beeya hanya menunjukkan wajah cerianya.


Mereka bertiga menuju rumah Iyan. Tak lupa mereka membawa buah tangan untuk tiga anak Echa juga Iyan. Beeya memilih makanan kesukaan Iyan.


"Aku rindu makan sepiring berdua sama kamu, Yan." Beeya berbicara dalam hati sambil memeluk makanan kesukaan mereka berdua.


Hati Beeya sungguh bahagia tak terkira. Dia ingin segera sampai rumah Iyan. Memeluk tubuh pemuda yang sangat tinggi itu.


Mobil Arya sudah memasuki komplek rumah elite di mana Echa dan Iyan tinggal. Wajah bahagia Beeya sangat terlihat. Sudah terlihat rumah megah bercat putih yang sangat dia rindukan.


Beeya segera turun dari mobil yang sudah berhenti di halaman rumah Iyan. Wajahnya sudah sangat berseri. Bel dia tekan dengan sangat tak sabar. Arya dan Beeya hanya tersenyum melihatnya.


"Eh Neng Beeya."


Beeya segera masuk ke dalam dan memanggil nama Iyan. Namun, yang dipanggil tidak menjawabnya.


"Den Iyan udah pergi, Neng." Langkah kaki Beeya yang hendak menaiki anak tangga terhenti.


"Ke mana, Mbak?" tanya Beby.


"Saya juga gak tahu, Bu," jawab asisten rumah tangga itu. "Tadi sih Mbak Echa, Mas Radit dan ketiga anaknya pergi bersama dan ada satu koper yang mereka bawa."


Tubuh Beeya menegang seketika mendengar ucapan Mbak asisten rumah tangga.


"Samar terdengar, Den Iyan mau keluar dari rumah ini."


Tubuh Beeya seakan tak bertulang mendengarnya. Makanan yang dia bawa pun terjatuh dari tangannya. Dia segera mengambil ponselnya. Menghidupkan ponselnya yang dia nonaktifkan. Sambil menunggu ponselnya hidup, Beeya terus merapalkan doa.


Ketika sudah hidup banyak sekali penggilan dari pacarnya. Namun. tak Beeya hiraukan. Dia malah mencari kontak Iyan. Matanya memicing ketika dia tidak bisa menghubungi Iyan. Otaknya segera bekerja dan dan ternyata benar dugaannya.


"Siapa yang memblokirnya?" Beeya bingung. Dia segera membuka blokiran nomor Iyan. Segera dia menghubungi Iyan.


.


Sedari tadi ponsel Iyan berdering. Namun, Iyan membiarkannya. Nada dering itu cukup mengganggu telinga Echa.


"Dari siapa, Yan? Kenapa gak diangkat?"


Iyan meraih ponselnya. Bukannya menjawab, dia malah menolak panggilan itu.


...****************...

__ADS_1


Komen atuh ...


Sepi beut kek kuburan China.


__ADS_2