Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
189. Will Miss You


__ADS_3

Aleesa sedari di kolam renang wajahnya muram. Yansen mendekat dan mengusap lembut rambut Aleesa. Dia mencoba untuk tersenyum.


"Kenapa?" Haruskah Aleesa berkata jujur kepada Yansen? Akan tetapi, Yansen memiliki perasaan lebih kepadanya. Pasti dia kan kecewa nantinya.


"Enggak kok." Yansen pun tersenyum. Dia menatap ke arah depan di mana om dari Aleesa tengah bercanda dengan sang istri.


"Bisakah kita seperti Om dan Tante?" Aleesa melihat ke arah pandangan Yansen.


"Hanya satu yang bisa menyatukan kita. Satu keyakinan." Yansen menatap ke arah Aleesa yang masih menatap ke arah depan. Yansen pun hanya tersenyum kecil.


"Kecil kemungkinan." Kini, Aleesa menatap ke arah Yansen. "Aneh, ya. Padahal kita tahu berbeda, tapi masih tetap bersama-sama. Aleesa menggeleng, dia menggenggam tangan Yansen dan mampu membuat Yansen tersenyum.


"Aku gak mau bahas ini," ucap Aleesa. Yansen pun mengangguk. Usapan lembut di ujung kepala Aleesa membuat Aleesa merasa nyaman. Dia meletakkan kepalanya di bahu Yansen. Tangan mereka pun tak mau terlepas.


.


Di lain tempat, seorang pria tengah memperhatikan permen lolipop yang dia genggam. Bayang wajah si pemberi permen itu masih berputar di kepala. Apalagi ketika semalam ketika mereka berada di dalam lift. Anak remaja itu seakan diam saja ketika dia hendak mencium bibir yang terlihat manis.


"Apa dia sering melakukannya sama si Yansen?" Pikirannya tengah kacau. Dia memilih untuk memejamkan mata ssbelum dia berangkat ke Swiss malam nanti.


Ketika Restu membuka mata dia dikejutkan dengan kehadiran Rio di sampingnya. Sahabatnya itu tengah menatap lekat dirinya.


"Kenapa lu?" sergah Restu. Dia segera mendorong tubuh Rio hingga terjungkal ke belakang.

__ADS_1


"Si alan!" umpat Rio. Restu hanya terkekeh dan dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya.


Ketika Rio kembali lagi ke kamar, dia menelisik penampilan sahabatnya itu. Rio menatap Restu dari ujung kaki hingga ujung kepala.



"Lu mau ke Bandara apa mau fashion show? Keren bener." Rio menggelengkan kepalanya heran.


"Berisik!"


"Restu, Rio, ayo kita berangkat." Sang ibu sudah berteriak dari lantai bawah.


"Bukannya masih lama?" Kini, Restu yang dibuat bingung.


Mereka berempat menuju sebuah restoran mewah. Mereka berempat turun dari mobil. Namun, mata Restu memicing ketika melihat plat mobil yang tak asing baginya. Benar saja, di sana sudah ada keluarga Radit. Mereka hanya bertiga, yang Radit dan Echa bawa hanya Aleesa. Tubuh Aleesa menegang ketika melihat Restu yang sangat tampan dengan kacamata hitam juga topi hitam yang dia kenakan.


"Maaf, ganggu keberangkatan kamu," ucap Radit kepada Restu. "Ada sedikit masalah di perusahaan." Restu hanya mengangguk saja seraya tersenyum. Sambil menunggu makanan yang mereka pesan datang, Radit dan Rindra membicarakan perihal pekerjaan. Echa dan Nesha asyik berghibah ria. Juga Rio yang asyik mabar.


Aleesa sedari tadi menunduk dalam. Dia todak mau menatap Restu. Begitu juga dengan Restu yang selalu mengalihkan pandangannya dari Aleesa. Walaupun tidak bisa..


"Bu, Kakak Sa ke toilet dulu, ya." Echa menoleh ke arah sang putri dan mengangguk.


Restu terus menatap punggung Aleesa yang semakin menjauh. Tak lama berselang, Restu pun beranjak dari duduknya. Nesha menatap ke arah Restu.

__ADS_1


"Mau ke mana?".


"Toilet, Tante." Nesha mengangguk. Sedangkan Rio sudah mengulum senyum.


.


Aleesa baru selesai bercermin. Dia segera keluar dari kamar mandi. Dia terkejut, ketika tangannya dicekal dari samping. Ketika dia menoleh, itu adalah Restu. Tangannya Restu tarik tanpa mengeluarkan satu buah kata sedikit pun. Dia membawa Aleesa ke parkiran samping di mana sepi orang. Langkahnya terhenti dan dia mulai membalikkan tubuhnya, menatap Aleesa dengan begitu lekat. Tidak ada pembicaraan dari mereka berdua. Hingga Aleesa maju ke arah Restu dan melingkarkan tangannya di pinggang sahabat dari sepupunya itu.


"Aku gak tahu kenapa aku bisa sesedih ini," ujar Aleesa dengan nada lemah. "Jaga diri Kakak baik-baik di sana."


Hati Restu menghangat dan tangannya perlahan membalas pelukan Aleesa. Tangannya juga mengusap lembut belakang kepala Aleesa.


"Jaga diri kamu baik-baik, ya. Jangan salah pergaulan dan jangan pernah kecewain kedua orang tua kamu." Perkataan Restu kali ini sangat berbeda. Dia menggunakan aku-kamu, bukan gua-lu.


Lama mereka berpelukan, Restu mulai mengendurkan pelukannya. Menatap kembali wajah Aleesa. Tangan Aleesa masih melingkar di pinggang Restu. Restu tersenyum dan tanpa aba dia mengecup kening Aleesa dengan sangat dalam.


"I Will Miss you."


"Me too."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


__ADS_2