
"Aku harus ke Jakarta."
Seketika sorot mata Beeya berubah sendu. Tangannya yang tengah Iyan genggam, mencoba untuk dia dilepaskan. Namun, Iyan tak membiarkan.
"Ada masalah di Moeda kafe," jelas Iyan. "Aku dan Bang Radit harus selesaikan semuanya." Beeya masih terdiam. Dia sudah tidak ingin menatap ke arah Iyan.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Dia menangkup wajah Beeya dan menatapnya dengan penuh cinta.
"Masalahnya bukan hanya Moeda kafe Jakarta yang sedang ada masalah. Di luar Jakarta pun sedang parah." Iyan mencoba menjelaskan kepada Beeya. Dia tidak ingin Beeya salah paham.
"Aku janji, setiap hari aku akan kasih kabar ke kamu. Video call kamu. Aku janji."
Beeya tidak menjawab, tetapi dia segera memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat.
"Aku takut."
"Gak akan terjadi apa-apa," balas Iyan. "Papah dan Tante Arina masih menyuruh orang untuk menjaga kamu." Iyan menyakinkan Beeya. Dia sudah tahu pasti Beeya akan sedih dan marah. Membawa Beeya pun dia tidak bisa. Dia harus fokus pada masalah kafe abangnya yang benar-benar serius.
"Berapa hari?" tanya Beeya tanpa melonggarkan pelukannya.
"Satu minggu."
Tak ada jawaban dari Beeya. Iyan tahu perempuan yang tengah ada di dalam pelukannya kecewa.
"Chagiya," panggil Iyan. Dia pun melonggarkan pelukannya dan menatap ke arah Beeya.
"Aku hanya akan menyelesaikan masalah kafe. Setelah masalahnya selesai, aku akan kembali ke sini. Menemani kamu lagi." Iyan berucap dengan serius.
"Setelah kamu sembuh, kita kembali ke Jakarta dan mengukir kenangan baru dan indah di sana." Iyan bagai sang pujangga saat ini. Dia juga menatap Beeya dengan penuh cinta.
"Aku akan merindukan kamu." Beeya kembali memeluk tubuh Iyan dan Iyan tersenyum bahagia.
Walaupun ungkapan cintanya tidak pernah dijawab oleh Beeya, tetapi gerakan tubuh yang Beeya lakukan menandakan dia memang memiliki perasaan yang sama kepadanya.
Beeya bukanlah wanita gampangan. Dia tidak akan menyerahkan apapun kepada sembarang orang. Hanya kepada Iyan dia berani dan seperti meminta lebih.
Mereka masih berdiri di tepian pantai dengan tangan yang terus saling menggenggam. Angin laut yang menerpa tubuh mereka membuat Iyan melepas jaket yang dia gunakan. dia berikan kepada Beeya yang hanya menggunakan kaos longgar. Beeya pun tersenyum dan tak segan dia mengecup pipi putih Iyan.
Iyan terkejut sekaligus bahagia sekali. Senyum pun melengkung indah di wajahnya. Apalagi Beeya yang sudah melingkarkan tangannya di perut Iyan.
"Aku ingin ke tempat ini lagi bersama kamu. Menghabiskan waktu di pantai seharian penuh."
"Apapun yang kamu inginkan pasti akan aku kabulkan."
__ADS_1
Semalaman ini Iyan tidak bisa tidur karena laporan yang dia terima semakin kacau. Begitu juga dengan sang Abang sebagai pemilik moeda kafe. Tidak biasanya sampai parah seperti ini.
"Kamu harus pulang ya, Yan. Ini udah kelewat genting," ucap Radit dari balik sambungan telepon.
"Iya. Aku dapat tiketnya jam sembilan, Bang."
"Langsung ke kafe aja. Kita bahas masalah ini di kafe."
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan. Abangnya mengatakan bahwa kemungkinan dia juga harus ikut ke luar Kota bersama abangnya. Itu bisa menambah waktunya di Jakarta.
Iyan memijat pangkal hidungnya yang terasa berdenyut. Dia memilih untuk ke dapur dan membuat kopi untuk sekedar menghilangkan rasa pusing di kepala.
Ketika sampai dapur, dia melihat lampu dapur menyala. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat seorang perempuan yang tengah ada di sana.
Iyan mendekat dan dengan langkah pelan juga hati-hati tangannya memeluk tubuh Beeya dari belakang. Hampir saja Beeya terkejut jika dia tidak melihat jam yang melingkar di tangan tersebut.
"Belum tidur?" tanya Beeya sambil mengiris sayuran.
"Mau buat kopi."
Beeya menyudahi iris mengirisnya. Dia membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah Iyan.
"Jangan begadang, besok 'kan kamu harus terbang ke Jakarta."
"Hanya ingin menghilangkan rasa pusing di kepala."
Iyan sudah menuju tempat kopi dan gula. Beeya hanya melihatnya saja. Tidak biasanya Iyan membuat kopi hitam. Atau memang selera Iyan sekarang sudah berubah.
"Mau ke mana?" tanya Beeya ketika Iyan sudah membawa secangkir kopi yang baru saja dia buat.
"Ke halaman depan dulu. Mau ngadem."
Beeya memasukkan bahan-bahan pelengkap untuk masak mie. Tak lupa dengan cabai yang cukup banyak karena dia suka dengan rasa pedas. Setelah selesai, dia membawa mangkuk mie tersebut menyusul Iyan. Iyan yang tengah memandang hamparan sawah yang gelap pun menoleh karena suara gerakan piring dan mangkuk yang terdengar semakin dekat.
"Kenapa ke sini?" tanya Iyan yang sudah membantu Beeya membawakan nampan.
"Mau temenin kamu." Iyan pun tersenyum. Seketika pikiran pusingnya melebur tatkala Beeya berada di sampingnya.
"Mau?" Iyan menggeleng.
"Itu bukan makanan aku."
Beeya pun tertawa. Dirinya dan Iyan adalah dua manusia yang berbanding terbalik. Beeya suka pedas dan Iyan tidak kuat pedas.
__ADS_1
Iyan tersenyum bahagia ketika melihat Beeya makan dengan lahapnya. Dia terus memandang wajah Beeya yang sudah berkeringat karena panasnya mie juga kuahnya yang pedas.
"Makan yang banyak." Iyan mengusap lembut kepala Beeya dan dia pum tidak mempedulikan ucapan Iyan.
"Aku pasti akan merindukan kamu."
Perkataan Iyan membuat Beeya menghentikan kunyahannya sejenak. Dia menatap ke arah Iyan yang sudah berwajah sendu.
"Hanya satu Minggu 'kan." Beeya sudah menatap ke arah Iyan. Tak berselang lama, Iyan menggelengkan kepalanya pelan.
"Kemungkinan lebih dari seminggu. Aku harus ikut Abang ke luar kota juga."
Sendok dan garpu yang tengah Beeya pun terlepas. Dia juga sangat terkejut.
"Maafkan aku," lirih Iyan.
Beeya mencoba untuk tersenyum dan kini dia meraih tangan Iyan. "Aku gak akan melarang kamu perihal pekerjaan kamu."
Iyan menatap intens mata Beeya. Terlihat jelas Beeya hanya pura-pura baik-baik saja sekarang ini. Sesungguhnya dia juga tidak rela.
"Kamu harus ingat, ada aku yang masih membutuhkan kehadiran kamu di sini. Ada aku yang masih harus kamu sembuhkan."
Iyan pun tersenyum dan dia menarik tangan Beeya. Mencium punggung tangan itu dengan sangat lembut.
"Aku pasti akan kembali ke sini. Aku akan menyembuhkan kamu dan membawa kamu pergi dari sini."
.
Iyan sudah rapi dengan tas ransel yang akan dia bawa. Beeya masuk ke kamar dengan wajah yang terlihat sendu.
"'Kan janji gak akan nangis," ujar Iyan.
Beeya tidak menjawab. Dia duduk di samping Iyan dan memeluk tubuh Iyan dari samping. Perempuan itu selanjutnya melarang Iyan untuk pergi.
"Aku hanya seminggu, Chagiya."
Mendengar panggilan itu Beeya menegakkan kepalanya dan tersenyum ke arahnya.
"Kapan jadiannya? Udah berani panggil Chagiya."
Iyan tertawa dan mengacak-acak rambut Beeya. "Tidak perlu status jadian. Aku akan membawa kamu langsung menuju pelaminan."
...****************...
__ADS_1
Komen dong ...