
"Namun, aku sadar ... masa lalu bagai barang usang yang harus diberikan kepada orang atau buang. Apalagi, sekarang aku mendapatkan barang bagus dan mulus. Keperjakaannya pun sudah ku renggut."
Mata Kenzo melebar mendengar apa yang dikatakan oleh Beeya. Apa hubungan mereka sudah sejauh itu? Sejak kapan pula Iyan menjelma menjadi laki-laki agresif. Padahal, dia adalah laki-laki dingin.
Iyan tersenyum mendengar ucapan ambigu dari Beeya. Biarlah pria keras kepala itu berpikir jauh. Beeya menatapnya dan mengecup singkat bibir merah Iyan.
"Gila!" pekik Kenzo. Dia pun memilih pergi dengan isi kepala yang tidak percaya. Namun, dia melihat sendiri bagaimana dua insan itu saling bercumbu.
Beeya pun tertawa puas sedangkan Iyan sudah melipat dua tangannya di atas dada. Menatap sang tunangan dengan begitu datar. Beeya menghela napas kasar. Dia menarik tangan Iyan agar dia juga duduk di atas sofa. Kebisuan yang Iyan tunjukkan membuat rasa bersalah kini hadir di wajah Beeya.
"Maaf," ucap Beeya.
Iyan masih menutup mulutnya. Pria itu sangat handal menutupi semuanya di depan orang lain. Jika, tengah berdua seperti ini sikap aslinya terlihat dengan begitu jelas.
"Kenapa gak jujur dari awal?" Beeya menoleh ke arah sang tunangan dan merangkul lengan Iyan dengan erat.
"Aku gak mau ganggu kefokusan kamu dalam bekerja. Aku ingin cepat bertemu dengan kamu," terangnya.
Iyan tidak percaya dengan ucapan Beeya. Dia masih terdiam bagai patung bernapas membuat Beeya geram sendiri. Dia berdiri dan bersih duduk di pangkuan sang pujaan hati. Merangkulkan lengannya di leher Iyan yang masih terdiam.
"Aku bingung harus bercerita dari mana?" Akhirnya Iyan menatap wajah Beeya yang penuh penyesalan. "Aku juga sempat goyah karena kamu tahu 'kan dia-"
__ADS_1
"Mantan paling baik kamu," potong Iyan dengan begitu ketus.
"Hanya mantan 'kan. Sekarang ini aku sedang menata masa depan," balasnya seraya menatap wajah tampan Iyan. "Bersama Kamu." Senyum manis mengembang di wajah Beeya, juga matanya yang berkedip cepat bak boneka dia tunjukkan membuat rasa marah dan kesal Iyan menguar begitu saja. Pemuda itupun akhirnya tersenyum.
"Aku lelah." Mode manja Iyan keluar. Dia meletakkan kepalanya di bahu kecil Beeya.
"Aku rindu," balas Beeya tidak nyambung. Iyan malah tertawa dan mencium gemas pipi tunangannya itu.
"Aku lebih rindu." Beeya menatap wajah pemuda yang jauh lebih darinya dengan penuh cinta.
"Betapa hari kamu di sini?" tanya Beeya.
"Masih banyak pekerjaan. Ingin ke sini saja aku harus lembur tiga hari tiga malam." Mata Beeya melebar mendengar ucapan dari Iyan. "Kamu gak lihat mata panda aku!?" tunjuk Iyan ke arah bawah matanya. "Aku lakuin ini semua karena aku ingin cepat bertemu dengan kamu. Ingin menghentikan perasaan salah kamu kepada mantan kamu."
"Jangan bicara kaya gitu." Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan. "Aku udah tobat, gak akan jadi playgirl lagi. Lagi pula di sini banyak alarm-nya." Iyan tersenyum mendengarnya. Dia mengecup kening Beeya dengan sangat dalam.
"Boleh gak aku minta sesuatu sama kamu?"
"Apa?" tanya balik Beeya.
"Jangan dekat-dekat lagi sama si Paijo." Beeya bingung dengan nama yang disebut Iyan.
__ADS_1
"Paijo?" Iyan mengangguk. "Siapa? Paijo mah nama kang es Doger yang biasa aku beli."
Iyan menghela napas kasar dan menatap malas ke arah sang tunangan yang terkadang otaknya berjalan lambat.
"Oh, si Ken-"
Cup.
Sebuah kecupan membungkam mulut Beeya. Itu tandanya Iyan tidak ingin mendengar nama yang akan disebutkan oleh Beeya.
"Buatlah rinduku terbayar dua hari ini. Supaya aku bisa tidur dengan nyenyak nanti." Senyum manis menjadi jawaban dari Beeya.
"Mau menghabiskan waktu di mana?"
"Hotel." Bukannya terkejut Beeya malah tertawa dan bertepuk tangan dengan senang mendengar jawaban dari Iyan.
"Kamu mau langsung unboxing aku?"
...***To Be Contnue***...
Komennya dong ...
__ADS_1