
Ibu diutus hanya untuk menjaga Iyan ketika dia kecil sampai dia dewasa, tidak untuk selamanya. Iyan memiliki Ayah, tetapi dia kurang kasih sayang dari seorang ibu. Dia juga memiliki Kakak, tapi kedua kakaknya tidak bisa sepenuhnya ada untuk Iyan. Sosok wanita berambut panjang yang selalu menampakkan wajah cantik di hadapan Iyan itu selalu bersedia menjaga Iyan. Menjadi tempat berkeluh kesah. Walaupun Iyan tidak bercerita, tapi ibu tahu apa yang Iyan rasakan.
Sebenarnya, ibu adalah satu sosok kuntilanak paling jahat yang ada di komplek rumah Iyan yang lama. Rumah yang didekat rumah Beeya. Namun, kemampuan Iyan yang bisa melihat makhluk astral dan bagaimana dia memperlakukan Jojo membuat kuntilanak itu merasa terketuk hatinya. Ternyata ada manusia yang baik seperti Iyan. Ketika dia melihat ada sosok tak terlihat, Iyan selalu menghindar dan selalu berkata permisi.
Awalnya Jojo takut ketika kuntilanak itu mendekat. Jojo tahu bahwa hantu perempuan itu adalah ketua Genk kuntilanak seantero komplek rumah Iyan. Namun, tak Jojo sangka ternyata hantu perempuan itu sangat ramah dan mencari tahu perihal Iyan. Jojo tidak membuka suara, tetapi hantu perempuan itu terus memaksa. Pada akhirnya Jojo menceritakan semuanya dan meneteslah darah di pelupuk mata hantu tersebut.
Dari situlah Iyan mulai mengenal sosok perempuan yang ikut bergabung dengan Jojo. Sosok yang selalu membuat Iyan merasa nyaman. Hingga satu hari, Iyan meminta ijin. Bolehkah dia memanggil hantu perempuan itu dengan panggilan ibu? Dengan senang hati sosok perempuan itu memperbolehkannya.
Ternyata, sosok itu hanya ditugaskan berada di samping Iyan sampai Iyan menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Jika, dilihat secara langsung Iyan bahagia dengan keluarga yang sempurna. Namun, masih ada luka yang Iyan rasakan. Apalagi ditinggalkan oleh ayahnya sebelum dia melepas masa lajang amatlah menyakitkan.
Om Uwo mengusap lembut rambut Iyan. Dia sangat merasakan betapa sesaknya dada Iyan. Dia seperti kehilangan orang tua kandungannya.
"Walaupun Ibu sudah pergi, Ibu pasti akan menjenguk kamu sewaktu-waktu," kata Om Uwo.
"Ibu tidak bisa bersama kita selamanya. Begitulah yang ibu katakan sedari awal," tambah Jojo.
"Kenapa Ibu harus pergi ketika aku belum mendapatkan kebahagiaan ku?" tanya Iyan. Pemuda itu kembali rapuh.
"Ibu pergi karena Ibu tahu, sebentar lagi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang luar biasa."
Mereka hanya bisa saling menguatkan. Jojo, Om Uwo, Dev dan si kerdil tidak akan meninggalkan Iyan. Mereka akan terus menemani Iyan sampai kapanpun.
Ibu bagaikan ibu kandung untuknya. Kehilangan ibu kandungnya tidak semenyakitkan ini. Sekarang, dia kehilangan sosok yang selalu ada untuknya. Memberikan wejangan kepadanya dan selalu memeluknya ketika dia rapuh. Kali ini sudah tidak ada ibu lagi. Tidak ada sosok yang akan bisa dia cari dan dia peluk. Iyan hanya mematung dengan tatapan ke arah hamparan sawah yang gelap. Ingin rasanya dia marah kepada Tuhan, kenapa Tuhan tidak adil kepadanya.
Sepasang tangan melingkar di pinggang Iyan membuat Iyan sedikit terkejut. Dia melihat ke arah punggung tangan yang putih itu. Bibirnya sedikit terangkat.
"Ghea udah tidur. Giliran kamu kelonin aku." Ucapan manja Beeya membuat Iyan tertawa. Dia membalikkan tubuhnya tanpa melepaskan tangan Beeya di pinggangnya.
"Kita belum sah, Chagiya."
Beeya malah terdiam. Dia menatap dalam wajah Iyan. "Kamu kenapa?"
Sosok ibu ada pada diri Beeya sekarang. Mampu melihat kesedihan Iyan hanya dari raut wajahnya.
"Aku kenapa?"
"Pacar," panggil Beeya dengan begitu lembut.
__ADS_1
Iyan pun memeluk tubuh Beeya dengan begitu erat. Tidak ada kata yang bisa Iyan ucapkan. Bibirnya terasa kelu. Dadanya teramat sesak.
Seperti inilah Iyan. Tidak mampu berkata. Dia hanya diam dengan memejamkan mata. Beeya mengusap lembut punggung sang kekasih. Dia juga tidak memulai pembicaraan.
Dirasa Iyan sudah mulai cukup tenang, barulah Beeya membuka suara. Dia menatap Iyan dengan begitu hangat.
"Aku tidak suka kamu memendam semuanya sendirian. Ada aku yang akan mendengar segala keluh kesah mu."
Iyan menghela napas kasar. Dia menggenggam tangan Beeya dengan begitu erat. Bingung harus bercerita dari mana.
"Pacar," panggil Beeya lagi.
"Ibu."
Nada suara Iyan teramat lemah. Sama halnya ketika dia kehilangan sosok ayahnya.
"Ibu?" ulang Beeya. Iyan pun mengangguk.
Iyan menceritakan semuanya. Biarlah dia dikira gila oleh Beeya. Itulah kenyataannya. Namun, tak sedikit pun Beeya mencela ucapan Iyan. Dia masih mendengarkan. Dia juga mulai menyambungkan ketika dia berada di mobil menuju arah pulang tadi. Sosoknya hampir sama dengan sosok yang menemuinya.
Benar apa yang dikatakan ayah Rion. Iyan memang anak yang rapuh, tetapi dia tidak menunjukkan kerapuhannya kepada sembarang orang. Termasuk kepada kedua kakak dan Abang iparnya. Iyan mampu membalut luka yang dia derita dalam keceriaan semu belaka.
"Apa yang tadi datang kepadaku juga adalah sosok ibu?" tanya Beeya penasaran. Kedua alis Iyan menukik dengan begitu tajam.
"Ibu datang kepada kamu?" Beeya pun mengangguk.
"Bukan hanya Ibu, ada sosok tinggi tegap yang menyebut dirinya Om, ada juga pemuda sepantaran kamu," jelas Beeya.
"Apa itu Ibu, Om Uwo dan Jojo?" Beeya mengangkat bahunya tak tahu.
"Pacar, apa selama ini kamu selalu nahan kesakitan demi aku?" tanya Beeya lagi.
"Kesakitan?" Sebuah anggukan Beeya berikan.
"Setiap aku memegang tangan kamu, pasti kamu akan merasakan kesakitan karena kamu ingin melindungi aku. Apa benar?"
Iyan mengerti maksud dari ucapan Beeya. Iyan sangat yakin Jojo yang memberitahukannya.
__ADS_1
"Kamu tahu 'kan aku bisa melihat mereka yang tak terlihat." Beeya pun mengangguk. "Jika, kamu memegang tangan aku, kamu akan bisa melihat apa yang ada di depan kamu juga sekeliling kamu. Aku gak mau itu terjadi. Sudah pasti kamu akan ketakutan."
Hati Beeya terenyuh mendengar penjelasan dari Iyan. Sedangkan sejak kecil Beeya tidak pernah melihat hal-hal aneh jika memegang tangan Iyan.
"Selama ini kamu menahan rasa sakit itu?" Iyan pun mengangguk. Beeya merasa tidak enak hati kepada Iyan. Dia juga sangat salut kepada Iyan yang mau berkorban untuknya.
Melihat mata Beeya yang sudah berkaca-kaca Iyan mengusap lembut punggung sang kekasih.
"Itu tidak terlalu sakit kok. Hanya luka memar saja setelahnya," sambung Iyan. Tetap saja wajah Beeya masih sedih dan tidak enak hati.
"Apa ibu mengatakan sesuatu?" tanya Iyan serius.
"Ibu hanya bilang, kalau aku disuruh jagain kamu. Kamu sudah menemukan kebahagiaan kamu. Luka kamu juga sudah sembuh."
Kini, Iyan yang terenyuh hatinya. Dia baru merasakan ketulusan seorang ibu yang sesungguhnya dari sosok yang berbeda dunia dengannya.
"Ternyata benar." Dahi Beeya pun mengerut. Dia tidak mengerti apa yang Iyan maksud benar.
"Aku mencintai wanita yang tepat." Iyan menatap wajah Beeya dengan intens. "Wanita yang selalu membuat hidupku bahagia. Wanita yang akan menggantikan posisi ibu yang selalu ada untukku, yaitu kamu.
Beeya tersenyum dan memeluk tubuh Iyan. Bibir Iyan pun melengkung dengan sempurna.
"Itulah alasan ibu pergi karena aku sudah mendapatkan kebahagiaan aku. Ibu juga sangat yakin, jika kita akan bersatu."
Beeya melonggarkan pelukannya. Dia mendongak ke arah sang kekasih yang lebih tinggi darinya.
"Percaya diri sekali," ucap Beeya.
"Tentu, aku sangat yakin itu."
Wajah Iyan pun sudah mulai mendekat ke arah wajah Beeya. Beeya pun sudah memejamkan matanya. Hembusan napas Iyan sudah menerpa wajah Beeya.
"Tante! Om!"
...****************...
Komennya lagi atuh ....
__ADS_1