
"Kamu mau langsung unboxing aku?"
Iyan malah menyentil kening Beeya hingga wanita di pangkuannya mengaduh. Juga tangan yang mengusap dahinya terasa perih.
"Kalau laki-laki mesoem pasti langsung senang kamu tawarin begitu," omel Iyan.
"Bercanda, Ayang," balasnya. "Sakit ih, bukaannya ditiupin," oceh wanita mungil itu.
Iyan menyingkirkan tangan Beeya yang ada di dahi. Dia memajukan bibirnya dan mencium kening Beeya dengan sangat dalam. Senyum di bibir Beeya pun melengkung dengan indah.
"Masih sakit?" Sebuah pertanyaan ketika dia sudah menjauhkan bibirnya dari kening Beeya. Wanita cantik itu menggelengkan kepala dan mulai membenamkan wajahnya di dada bidang Iyan.
Lama mereka berada di posisi tersebut suara sang ayah dari Beeya terdengar.
"Jangan kelewatan lah kalo pacaran tuh." Tetiba mulut Arya mengomel dengan lantangnya.
"Kelewatan dari mana sih, Pah," sanggah Beeya. Bukan Beeya namanya jika tidak menyanggah apa yang dikatakan oleh ayahnya.
"Itu ngapain duduk di pangkuan Iyan. Anacondanya gerak kaget kamu." Beby memukul pundak sang suami yang perkataannya tidak pernah disaring.
Beeya menatap ke arah Iyan yang terlihat santai saja. Mulut calon mertuanya sudah biasa seperti itu. Dia harus kebal dengan perkataan Arya yang di luar nalar.
"Apa kamu merasakan ada pergerakan?" Beeya menggeleng menjawab pertanyaan Iyan.
"Berarti calon suami kamu gak normal," timpal Arya.
"Sembarangan kalau ngomong," sahut Iyan yang tak terima dengan perkataan Arya. "Sekalinya anaconda menyemburkan bisa langsung jadi kecebong di rahim anak Papa." Arya pun berdecih meremehkan.
"Udah ah Pah, jangan rusak momen lepas rindu kami," omel Beeya lagi.
__ADS_1
"Ayo, Yang kita ke hotel."
"Turunan si Arya emang gak ada mahal-mahalnya." Arina sudah membuka suara. Dia baru saja keluar dari ruang kerja
"Jangan mahal-mahal nanti kayak Bu'de gak laku-laku," balas Beeya. Arina berdecak kesal dan langsung menarik rambut sang keponakan hingga dia terjungkal dari pangkuan Iyan.
"Ih Bu'de mah," keluh Beeya. "Rontok tahu!"
"Bodo amat!"
Iyan hanya tersenyum dan membantu Beeya bangun dari posisi tersungkurnya. Iyan hanya menggelengkan kepalanya pelan.
"Mau ke hotel mana?" tanya Arya.
Mata Beeya melebar ketika sang ayah malah mengijinkannya. Bukan malah melarangnya. Aneh bukan?
"Gak apa-apa 'kan dua hari ini Kak Bee sama Iyan." Ijin Iyan kepada calon mertua.
"Gak apa-apa," sahut Arya. "Asalkan balikin lagi dalam keadaan utuh."
Kini Beeya yang berdecak kesal mendengar jawaban dari ayahnya. Sungguh dia dianggap seperti barang.
"Kalau Iyan unboxing boleh?"
"Anaconda kamu akan berubah jadi cacing kalung." Iyan tertawa, Beeya menatap Iyan yang tertawa lepas seperti ini. Belum pernah Beeya melihatnya.
"Kenapa?" Iyan sadar jika Beeya tengah memandangnya. Beeya hanya menggelengkan kepala .
"Sangat tampan kalau tertawa seperti itu terus." Iyan mengusap lembut ujung kepala Beeya. Menatap teduh ke arah Beeya.
__ADS_1
"Terus berada di samping aku agar aku bisa tertawa seperti ini lagi," ucap Iyan. Beeya langsung memeluknya.
"Dasar pasangan bucin!" ejek Arina.
"Sirik aja janda kembang layu." Arya malah balik mengejek Arina. Malam itu rumah Arina berubah ramai. Banyak gelak tawa yang tercipta di sana.
.
Beeya masih setia merangkul manja tangan tunangannya. Iyan pun tak hentinya menciumi ujung kepala Beeya.
"Dua malam apa cukup?" Beeya mulai membuka suara.
"Tidak ada kata puas bagi manusia," sahut Iyan. Beeya mendongakkan wajahnya menatap ke arah pemuda yang berada di sampingnya itu. "Tapi, aku bersyukur walaupun hanya sebentar aku bisa melepas rindu dan bertemu langsung dengan kamu."
Sungguh pemuda yang satu ini selalu berhasil membuat hati Beeya berbunga. Ucapannya begitu lembut, tapi serius.
Tibanya di hotel yang terbilang hotel mewah, Iyan terus menggenggam tangan Beeya. Dia tidak ingin membiarkan orang lain mendekatinya. Iyan membuka kamar hotel yang ternyata sudah dia pesan. Beeya tersenyum, tapi ada yang aneh di penglihatannya.
"Kita gak akan melakukan foto prewed 'kan?" Beeya menunjukkan jas berwarna hitam yang ada di atas tempat tidur Iyan.
"Enggak."
"Lalu?"
"Kamu akan menemaniku bekerja." Sungguh jawaban yang membuat Beeya lesu. Ekspektasinya terlalu tinggi pemirsah.
...***To Be Continue***...
Komen dong ...
__ADS_1