
Mendengar kalimat itu membuat Arya, Beby dan Beeya terdiam seribu bahasa. Begitu juga dengan Ghea yang menatap sendu ke arah Beeya.
"Om tidak apa-apa," ucap Beeya seraya mengusap lembut rambut Ghea. "Sekarang, kita kembali ke kamar, ya. Biarkan Om tidur dan melepas kangen dengan-"
"Engkong," tebak Ghea. Beeya mengangguk pelan.
Ghea kini menatap sang paman. Dia mengusap lembut air mata yang keluar dari ujung mata Iyan.
"Om, jangan sedih. Engkong sudah bahagia di sana." Kecupan hangat Ghea berikan di kening Iyan. Hati semua orang mencelos. Inilah bukti bahwa banyak orang yang menyayangi Iyan.
Mereka semua meninggalkan Iyan. Mereka kembali ke kamar mereka masing-masing. Beeya mulai menatap Ghea yang tengah duduk sambil memangku boneka Doraemon koleksi Beeya
"Adek, apa Om sering menangis begitu?" tanya Beeya. Ghea pun menggeleng.
"Adek tidak tahu, Tante. Om selalu baik dan ceria jika di depan Adek."
Beeya menghela napas kasar. Keceriaan Iyan hanyalah kamuflase belaka. Masih ada duka yang mendalam yang Iyan rasakan. Masih ada kesakitan yang belum bisa menemukan penawarnya.
"Kalau Mommy sering nangis karena Engkong," ungkapnya. Beeya mulai menatap penasaran kepada anak kecil di sampingnya.
"Kata Daddy, kalau Mommy nangis Adek, Mas dan Daddy harus memberikan ruang kepada Mommy. Tidak boleh mengganggu Mommy. Menangisnya Mommy bukan tanpa sebab, tapi merindukan Engkong."
Didikan Aksara dan juga Riana sangatlah luar biasa. Sedari kecil kedua anaknya sudah diajarkan perihal realita kehidupan yang ada. Tidak terlalu memanjakan seperti orang tua berada pada umumnya.
"Baba juga bilang seperti itu," tambah anak berusia enam tahun itu.
Beeya sekarang mengerti, Iyan dan kedua kakaknya masih berkabung dan masih berduka dengan kepergian sang ayah tercinta. Namun, ketika di depan khalayak semua mereka terlihat ceria. Tidak menunjukkan bagaimana perasaan mereka sesungguhnya.
"Adek mau janji satu hal kepada Tante?" tanya Beeya setelah mencerna ucapan Ghea.
__ADS_1
"Apa?"
"Ketika Om nanti bangun, jangan tanyakan hal apapun kepada Om." Dahi Ghea mengkerut mendengar ucapan dari Beeya.
"Kenapa gak boleh?" tanyanya lagi.
"Sama seperti Mommy dan Bubu," sahut Beeya.
"Butuh waktu sendiri?" Beeya pun mengangguk.
Ghea mencoba berpikir. Dia menimbang-nimbangnya hingga lengkungan senyum terukir indah di wajah cantik anak berusia enam tahun itu.
"Tapi, ada syaratnya?" Beeya cukup terkejut mendengar ucapan dari Ghea. Dia hanya tahu sikap Gavin saja tanpa tahu sikap Ghea. Ternyata sebelas dua belas.
"Mau apa?" tanya Beeya. Mau tidak mau dia harus mengikuti keinginan anak itu.
"Adek ingin ke mall."
"Om itu adalah orang yang susah diajak ke mall," papar Ghea. "Dia paling benci sama cewek kalau lagi belanja."
Mata Beeya melebar mendengar perkataan Ghea. Iyan pernah mengajaknya ke mall, tapi pemuda itu malah santai saja.
.
Pagi hari di meja makan, semua orang tengah menikmati sarapan dengan begitu santai. Perihal Iyan mereka kunci rapat-rapat mulut mereka semua. Suara langkah kaki terdengar dan membuat semua orang yang tengah duduk di kursi meja makan menoleh.
Mereka melihat betapa sembabnya wajah Iyan. Namun, mereka mencoba untuk tidak bertanya. Begitu juga dengan Ghea.
"Kamu mau sarapan apa?" tanya Beeya.
__ADS_1
Senyum manis Beeya berikan kepada Iyan. Sedangkan Arya sudah menunduk dalam. Dia tahu pemuda itu sedang tidak baik-baik saja.
"Yang ada aja," jawab Iyan. Beeya pun mengambilkan sarapan untuk kekasihnya. Melihat wajah Iyan membuat hati Beeya meringis kesakitan.
"Om, Adek pengen ke mall." Ghea langsung menembak Iyan yang baru saja memasukkan nasi goreng ke dalam mulut. Tatapan tajam yang Iyan berikan.
"ENGGAK!"
"Pokoknya Adek mau ke mall. Adek mau main di mall. Mau beli baju juga sepatu. TITIK!"
"Kata Om enggak ya enggak, Dek," sahut Iyan.
Kedua tangan Ghea sudah dilipat di atas dada. Wajahnya sudah merengut jelek.
"Lah kenapa kamu gak mau?" Arina merasa heran dengan jawaban Iyan. "Bukannya kamu sering bawa Beeya ke mall."
Kini, giliran Ghea yang menatap tajam Iyan. Pemuda itupun sudah salah tingkah.
"Oh begitu," ujar Ghea dengan seringainya. "Giliran Adek yang minta diajak ke mall Om tolak. Sedangkan ke Tante centil Om yang ngajak. Bagus," tekannya.
Bulu kuduk Iyan sudah meremang. Ghea melebihi hantu jika sudah begini
"Harus Adek bilangin Daddy dan juga Baba biar semua ATM Om dibekukan."
...****************...
Komen dong ...
...****************...
__ADS_1
Komen dong ....