
Banyak karyawan yang nyinyir terhadap Iyan semenjak Iyan masuk ke dalam perusahaan WAG Grup. Dia seakan memilik privilege, mentang-mentang adik ipar dari Aksara sang pemilik perusahaan besar. Begitulah pemikiran picik pada karyawan yang bisanya hanya sirik. Untungnya Iyan adalah tipe manusia santai. Dia tidak pernah ambil pusing akan ucapan para karyawan yang hanya besar mulut tanpa memiliki prestasi. Toh, dia bekerja di WAG Grup karena memiliki kemampuan dan diminta langsung oleh kakak iparnya. Bukan karena Iyan yang merengek. Dia juga harus terbiasa dengan ucapan yang tidak mengenakan itu.
"Enak banget, ya. Datang terlambat terus dan pulang cepat terus. Giliran gaji aja paling gede." Perkataan yang sungguh amat keterlaluan. Mereka berbicara bukan di belakang Iyan melainkan di depan Iyan langsung. Iyan menyikapinya dengan senyum. Dia juga tidak melaporkan kepada sang kakak. Untuk apa? Dia bekerja bukan untuk mencari muka, tapi mencari uang.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Iyan ketika sudah berada di ruangannya. Dia menyandarkan punggungnya di kursi ruangan. Dia menggelengkan kepala jika mengingat ucapan para karyawan yang semakin ke sini semakin keterlaluan. Memijat pelipisnya yang berdenyut tak karuhan. Sudah pusing dengan persiapan pernikahan sekarang malah harus mendengar ucapan yang tidak mengenakan. Hanya menambah beban.
"Privilege tanpa kemampuan pun hanya akan membangkrutkan perusahaan," gumam Iyan.
Aksara mempercayakan semuanya kepada Iyan karena Aksara sangat yakin jikalau Iyan itu mampu menyelesaikan tugas yang dia berikan. Ternyata penilaian Aksa tidak salah. Banyak projek besar yang mampu Iyan taklukkan. Bukan Iyan haus akan pujian, tetapi berkali-kali kakaknya memuji Iyan dengan seoenuh hati.
Iyan kembali fokus ke layar laptop. Pekerjaannya sangat banyak hari ini. Belum lagi sore nanti dia harus ke butik untuk fitting baju. Harusnya sekarang, tetapi pekerjaan tidak bisa ditinggal. Ditambah lagi tadi dia harus ke kafe terlebih dahulu karena ada masalah yang musti ditangani karena Radit tengah ke luar Kota.
Sedang fokus pada pekerjaan, ponselnya berbunyi. Sebuah pesan masuk ke dalam ponsel Iyan. Kakaknya mengirimkan pesan foto. Iyan segera membukanya. Dia tersenyum bahagia ketika semua keponakannya memakai seragam pengiring pengantin.
Iyan memperbesar gambar itu, dahinya mengkerut ketika melihat ada pertautan tangan yang disembunyikan di antara Aleeya juga Kalfa.
"Dia kira lagu si Mamad Dani madu tiga." Iyan menggelengkan kepala. "Sampe macam-macam gua potong jadi tiga."
Iyan geram sendiri melihatnya. Selama ini bukannya dia tidak memperhatikan ketiga keponakannya. Dia terus memantau, tanpa perlu bersuara.
Namun, pandangannya kini tertuju pada Yansen. Teman dekat Aleesa juga anak indigo yang sama dengannya. Di mata Iyan anak itu tak bercahaya. Sudah lama juga dia tidak bertemu dengan si Sensen.
"Apa cuma penglihatan aku aja?" gumamnya.
Tetiba foto sang calon istri muncul. Ternyata Beeya melakukan sambungan video.
"Ayang, udah liat para bridesmaid dan groomsmen belum?" Beeya terlihat sangat antusias. "Cantik-cantik dan ganteng-ganteng, ya."
Iyan hanya tersenyum.mendengarnya. Beeya terus berbicara Iyan hanya menimpali sesekali. Menatap wajah sang tunangan membuat mood-nya sedikit membaik.
__ADS_1
"Ayang, kamu sadar gak sih kalau wajah Aleena itu mirip banget sama Rangga."
"Cuma kebetulan aja kali," sahut Iyan santai.
"Seriusan Ayang, biasanya kalau begitu mah jodoh."
"Gak usah mendahului Tuhan. Intinya wanita itu bukan hanya membutuhkan ketulusan, tapi yang utama itu adalah keseriusan."
Beeya tersenyum mendengar ucapan Iyan. Tak hentinya dia mengatakan i love you 5000 kepada Iyan. Sebenarnya bukan hanya Beeya yang melihat bahwa Rangga dan Aleena itu mirip. Beby pun malah terkesima kepada dua anak remaja itu.
"Kok kalian mirip banget sih. Jadi, gemas deh."
Aleena hanya tersenyum, beda halnya dengan Rangga yang hanya menunjukkan wajah tak bisa diterka. Sedangaka Kalfa dia sudah menatap ke arah Aleena dan juga Rangga.
"Ngapa sih lu! Matanya gua tonjok pake jarum pentul nih!" Aleesa sudah mengarahkan jarum pentul ke arah wajah Kalfa. Laki-laki seusianya itu hanya bisa berdecak kesal.
"Na, coba lihat deh." Suara Kalfa membuat pandangan Aleena teralihkan. Seketika Rangga mundur ke belakang dan menuju kamar ganti. Agha, anak laki-laki yang menyadari perubahan sikap Rangga geram sendiri.
"Minta ditendang nih si kelapa."
.
Beeya dan Iyan akan pergi ke butik ketika Iyan sudah menyelesaikan pekerjaannya. Beeya pergi ke kantor WAG grup tanpa memberitahu Iyan terlebih dahulu. Dia melenggang dengan senyum lebar memasuki kantor calon kakak iparnya.
Ketika menunggu lift dia mendengar para karyawan laki-laki maupun perempuan tengah menggunjing seseorang.
"Kita masuk perusahaan ini susah payah. Lah dia? Pake jalur pintas." Beeya masih menajamkan telinganya. Dia masih ingin tahu siapa yang mereka maksud.
__ADS_1
"Tadi aja datang setelah jam makan siang. Terus gua dengar dia itu lagi telponan. Gua rasa tuh orang makan gaji buta. Kerjaannya cuma datang telat, jalan-jalan, terus telponan. Anehnya, Pak Bos malah percaya banget sama dia." Seorang wanita semakin mengompori.
Beeya menggelengkan kepala pelan. Mulut karyawan jahat itu selalu ada di setiap perusahaan manapun.
"Sumpah gua tuh ya kalau dia lewat males banget negur atau nyapa. Berhubung dia atasan gua mau gak mau gua bersikap sopan sama dia. Lu tahu gak reaksinya? Senyum sok imut gitu."
"Kenapa sih kalian masih mempermasalahkan jabatan Pak Rian," tegur karyawan yang sedari tadi menyimak.
"Rian?" batin Beeya.
"Pak Rian Dwiputra Juanda itu pasti memiliki skill. Tidak mungkin Pak Aksara tidak selektif."
"Skill KKN."
"Namanya juga orang kaya, Mau kerja apa aja tinggal minta sama saudaranya. Secara dia adik iparnya Pak Aksara."
Pintu lift yang baru tertutup Beeya gebrak dengan cukup keras. Lima orang karyawan pun terkejut.
"Skill kalian lebih oaraha," cibir Beeya. "Punya kemampuan cuma untuk menggunjing orang lain," tekannya..
"Anda siapa?" Jangan ikut campur!"
Beeya pun berdecih. Dia menunjukkan wajah sombongnya. Dia malah mendekat ke arah mereka yang sedari tadi membicadkaan Iyan.
"Kalian tidak perlu tahu saya karena jika kalian tahu saya, sudah pasti kalian akan bersujud di kaki saya."
Para karyawan itupun saling pandang. Mereka menelisik penampilan Beeya. Biasa, tapi barang yang Beeya bawa barang branded. Beeya berlalu begitu saja ketika pintu lift terbuka. Lima karyawan itupun terus menatap ke arah ke mana Beeya berjalan. Maya mereka melebar ketika wanita itu masuk ke dalam ruangan Rian Dwiputra Juanda.
"Mampoes!"
__ADS_1
...***To Be Continue***...
Komen dong ...