Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
49. Tikus Betina


__ADS_3

Belum kering ucapan Echa, sebuah mobil berhenti tepat di depan rumahnya. Keluarlah seorang anak laki-laki tampan berusia sembilan tahun dengan anak perempuan berusia enam tahun. Mereka berjalan menuju sang bubu juga ketiga sepupunya.


Ketika melihat wanita yang terduduk di lantai, wajah anak laki-laki itu nampak menunjukkan raut kesalnya. Seakan dia menyimpan dendam yang tak berkesudahan. Dia menghampiri Echa dan ketiga sepupunya. Mencium tangan Echa dengan sangat sopan.


"Kok gak bilang mau ke sini?"tanya Echa.


"Daddy ngajaknya dadakan, Bu." Ghealah yang menjawab pertanyaan dari Echa. Bocah kelas satu SD itu sangat cantik sekali. Percis ibunya, Riana.


Agha tidak menjawab dan tak mengeluarkan satu buah kata pun. Dia malah menatap tajam ke arah manusia yang tengah berada di lantai. Sorot matanya menandakan sebuah kemarahan yang sulit untuk diungkapkan.


"Akhirnya diusir secara tidak terhormat juga." Anak laki-laki itu sudah melipat kedua tangannya di atas dada. Tatapannya sangat dingin dan seperti menguliti Anggie hidup-hidup.


Anggie hanya menatap nyalang ke arah Agha. Namun, bibirnya tak mampu membalas ucapan dari bocah Sembilan tahun tersebut. Bukannya tidak berani, tetapi Agha memiliki aura yang tidak bisa dilawan.


"Ngapain melotot-melotot?" sergah Ghea, adik dari Agha yang memasang badan di depan sang kakak. Dia sudah berkacak pinggang. Bocah enam tahun itupun nampak berani sekali. Sungguh seperti ayahnya.


Tanpa Anggie tahu, ternyata Ghea membawa pistol air dan wajah Anggie disemprot oleh pistol tersebut yang ternyata bukan air biasa. Melainkan cairan desinfektan atau cairan pembasmi serangga. Anggie benar-benar gelagapan. Apalagi Ghea yang terus menyerangnya secara membabi-buta.


Tidak Ghea beri napas sama sekali wanita itu. Dia sangat marah ketika gadget sang kakak sengaja wanita itu senggol dan akhirnya hancur. Bukan hanya Agha yang marah besar. Ghea pun merasakan hal yang sama.


"Terus, Ghe. Tikus betina kaya gitu kudu dimusnahkan." Aleesa sudah bersuara.


"Sekalian ambil palu, getok kepalanya," lanjut Aleeya.


Sungguh kejam sekali ketiga anak Radit dan Echa, juga kedua anak Riana dan Aksa. Musuh salah satu di antara keluarga mereka akan menjadi musuh mereka bersama. Mereka akan memasang badan tanpa diminta.

__ADS_1


Jangan ditanya bagaimana reaksi Aksa yang baru saja bergabung bersama kedua anaknya. Dia hanya menatap datar nyaris tanpa ekspresi. Begitu juga Riana, si wanita berhati lembut yang sama sekali tak menunjukkan wajah ibanya. Mereka berdua seakan membiarkan kedua anak mereka melakukan itu semua.


"Untungnya bukan berurusan dengan Abang, Kak. Jika, itu terjadi ... dia hanya tinggal nama sekarang." Aksa sudah melipat kedua tangannya di depan dada. Sama seperti yang dilakukan Agha.


Suara itu terdengar sangat menyeramkan di telinga Anggie. Dia jarang mendengar Aksa berbicara, tetapi sekali membuka suara sungguh sangat berbisa perkataannya.


"Ya, Babanya si triplets masih termasuk orang yang sabar. Masih memiliki jiwa kemanusiaan yang tinggi. Tidak seperti kamu," sindir Echa seraya menatap sang adik. Aksa tidak merasa tersindir akan ucapan kakaknya. Dia malah tertawa.


"Dia nyenggol, Abang bacok." Anggie menelan ludahnya mendengar perkataan Aksara yang tertuju padanya. Sedari tadi matanya itu menatap tajam ke arah Anggie.


Wanita itu sudah tidak ada harga dirinya sekarang ini di depan keluarga Iyan. Orang yang membelanya, kini malah membencinya. Itu semua karena ulahnya sendiri. Sudah diambil dari bak sampah, malah berulah. Untung saja berulah kepada Radit. Jika, kepada Aksara sudah dipastikan Anggie sudah ke alam baka.


Anggie mencoba untuk bangkit dan meraih kopernya. Mengusap wajahnya yang basah karena ulah anak perempuan di depannya yang masih berkacak pinggang bagai orang dewasa. Dia menatap tajam ke arah semua orang seakan menabuhkan genderang perang.


Ghea gemas melihat tingkah tikus betina itu. Dia dengan gemas menarik rambut panjang Anggie dengan cukup kasar hingga kepalanya mendongak ke atas.


"Itulah akibatnya jika kamu berani menatap saya dan keluarga saya dengan mata setanmu. Harga diri kamu saja bisa saya beli dengan mudah. Apalagi mata kamu. Bisa dengan mudah saya congkel. Kemudian, saya berikan kepada anjieng liar," ujar Echa.


Siapa yang tak kenal anak dan cucu Rion Juanda. Mereka terlihat diam dan tak banyak tingkah, tetapi mulutnya mengandung bisa yang mematikan. Bukan hanya anak dan cucu, malah menular kepada para menantu.


Anggie menyeret koper dengan langkah gontai penuh ketakutan. Ke mana lagi dia harus melangkah. Sedangkan dia sudah tak punya rumah untuk pulang.


"Siapkan mental kamu, karena kamu sudah termasuk ke dalam DPO polisi."


Mendengar kata polisi membuat Tubuh Anggie bergetar hebat. Haruskah dia melahirkan di dalam jeruji besi dan membesarkan anaknya di dalam sana? Sungguh itu semua tak pernah terbayang olehnya.

__ADS_1


.


Di Moeda kafe lantai atas, Iyan masih memeluk tubuh Beeya yang tiba-tiba bergetar hebat ketika memasuki ruangannya. Tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya.


Perlahan Iyan mengurai pelukannya. Dia mengangkat tubuh Beeya dan mendudukannya di atas meja kerja. Wajah Beeya yang sudah berubah sendu terlihat jelas. Tangan Iyan menangkup wajah perempuan di hadapannya. Iyan sangat tahu jikalau Beeya sedang tidak baik-baik saja. Dia merasakan tangan Beeya yang sangat dingin.


Iyan menatap intens wajah Beeya yang sangat pilu. Untuk kesekian kalinya dia memeluk tubuh Beeya kembali. Pelukan itu mampu membuat Beeya terisak cukup kuat. Hati Iyan sakit mendengar tangisan itu. Pelukan balasan dari tangan Beeya yang sangat erat membuat Iyan tersadar, bahwa trauma Beeya belum sepenuhnya pulih. Dia masih dihantui rasa takut, tetapi dia mencoba untuk melawan semuanya. Berhasil memang, tetapi setelah itu dia malah seperti ini.


"Jangan nangis."


Iyan mengusap lembut rambut belakang Beeya. Inilah yang dinamakan tak sanggup mengungkapkan dengan kata-kata dan hanya air mata yang dapat berbicara.


Iyan melonggarkan pelukannya. Dia menghapus jejak air mata yang membasahi wajah cantik Beeya.


"Lupakan masa lalu kamu, dan cobalah mengukir masa depan dengan aku."


Beeya tidak menjawab, hanya sorot matanya yang berbicara.


"Seperti kamu bilang, orang baik pasti dipertemukan dengan orang baik dan orang jahat akan disatukan dengan orang jahat. Tuhan, memang berniat menyatukan kita, tetapi harus dengan cara yang menyakitkan terlebih dahulu. Supaya kita tahu, bahwa yang tulus mencintai dan menyayangi kita bukan orang yang kita anggap pacar atau tunangan, melainkan seorang teman yang sedari dulu kita kenal."


Beeya memeluk tubuh Iyan kembali. Matanya terpejam sejenak. Bersama Raffa dia merasakan cinta yang luar biasa, tetapi tidak menemukan kenyamanan. Beda halnya jika bersama Iyan, dia merasa nyaman dan rasa sayangnya seakan terus mengalir bagai air. Tak pernah surut malah sekarang semakin deras.


"I love you, Iyan."


...****************...

__ADS_1


Komennya mana?


__ADS_2