Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
137. Senyum Manis


__ADS_3

Tanda merah sudah tersemat di leher Iyan. Tentu saja Beeya tersenyum amat gembira. Beda halnya dengan pria yang diberi tanda pengenal malah berdecak kesal.


"Aku kira kamu akan melakukannya dengan bibir kamu," kesal Iyan. Beeya menatap wajah sang tunangan sambil menutup tutup lip cream.


"Aku gak tahu caranya," jawab Beeya. "Lagi pula aku bukan drakula."


Decakan kesal keluar lagi dari mulut Iyan lagi. Kini, dialah yang berekspektasi tinggi. Tangan Beeya sedang membenarkan kerah kemeja Iyan juga dasi yang terpasang. Tiba-tiba dagu Beeya diangkat oleh Iyan hingga wajah Beeya mendongak menatap pria jangkung tersebut. Untuk kesekian kalinya Iyan menyesap bibir manis milik Beeya. Beeya hanya tersenyum bahagia bisa membuat pria dingin dan kaku selalu ketagihan dengan bibir miliknya.


Setelah puas dan mereka hampir tidak bisa bernapas, pagutan itu terlepas. Beeya tersenyum puaske arah Iyan yang tengah mengatur napas.


"Lagi gak?" tawar Beeya.


"Nanti aku telat, Chagiya." Beeya malah tertawa. Dia memluk tubuh Iyan yang sudah wangi. Tak peduli dirinya masih bau karena belum mandi.


"Jangan tergoda bibir merah seperti habis makan darah." Sungguh ucapan Beeya membuat Iyan terbahak.


"Kamu tuh ada-ada sih," ucap Iyan. Dia mengecup ujung kepala Beeya dengan sangat dalam. "Gak akan ada yang bisa menandingi manisnya bibir kamu. Untuk sekarang ini canduku adalah bibir kamu." Beeya pun tersenyum dan mengecup singkat bibir Iyan.


"Kalau nanti?" tanya Beeya. Iyan mengangkat bahunya. Pura-pura tidak tahu.


"Mungkin akan yang lebih manis dari bibir kamu dan membuat aku selalu ingin goyang." Beeya tertawa sambil memukul punggung Iyan. Dua insan manusia yang memiliki kepribadian yang langka.


Akhirnya Iyan keluar dari kamar hotel dengan leher merah pucat seperti kissmark. Dia percaya diri menuju tempat di mana diadakannya rapat. Ketika Iyan masuk semua mata tertuju padanya. Iyan adalah orang baru dalam kalangan petinggi WAG grup. Namun, dia sangat berkharisma dan tentunya sangat tampan. Membuat mata para wanita yang ada di ruangan rapat terpana begitu dalam.


"Dengan Pak Rian?" tanya salah seorang pria yang berpostur tidak terlalu tinggi dengan tubuh yang bagus.

__ADS_1


"Iya, Pak. Saya yang mewakili Pak Aksara." Suara Iyan mampu membuat semua wanita menyukainya, sangat indah didengar.


Ada sepasang mata yang tak berkedip melihat Iyan yang masih berbincang dengan rekan bisnis Aksa. Wanita judes dan susah didekati seakan tersihir akan pesona yang Iyan miliki. Sedari tadi matanya tidak berkedip. Apalagi melihat senyum Iyan yang begitu manis.


"Tampan ya, Bu." Refleks wanita itu mengangguk dan yang bertanya malah menyunggingkan senyum.


"Masih normal ternyata."


Meeting pun berjalan dengan semestinya. Iyan mendengarkan juga memperhatikan apa yang dipresentasikan. Dia juga tak segan menolak ide yang menurutnya tidak sesuai. Orang-orang yang awalnya meremehkan kini malah bangga kepada sosoknya.


"Sungguh luar bias,a" puji pria yang tadi. "WAG Grup bisa lebih maju dengan kehadiran Anda."


Sanjungan yang Iyan terima tidak membuah Iyan melambung. Dia cukup tersenyum dan mengatakan terima kasih.


"Apa Anda-" Kalimat tanya yang hendak dilontarkan oleh pria tersebut malah terhenti karena melihat seseuatu di leher Iyan.


"Istri?"


Iyan mulai teringat akan satu hal. Lehernya, pasti ada yang menyadari keberadaan kissmark palsu itu.


"Pasti istri Anda sangat menguasai permainan hingga Anda diberi tanda kepemilikan." Untungnya yang berbincang hanya kalangan pria. Tidak ada jawaban dari Iyan. Lagi-lagi dia hanya tersenyum.


"Saya penasaran dengan wanita yang beruntung mendapatkan Anda." Banyak hal yang mereka perbincangkan hingga waktu terus berjalan.


Iyan pun pamit karena sudah waktunya makan siang. Dia memiliki janji kepada tunangannya. Asyik mengetikkan sesuatu di atas benda pipih miliknya, terdengar seseorang memanggil namanya.

__ADS_1


"Pak, kita makan siang bareng, ya." Wanita manis dan cantik menegurnya. Juga mengajaknya makan siang.


"Maaf, saya ga-"


"Ada yang harus saya bicarakan perihal ini." Map berisi berkas dia tunjukkan kepada Iyan. Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Haruskah dia mengingkari janji kepada Beeya. Namun, mengingat itu proyek yang cukup besar membuat Iyan menyetujui makan siang bersama.


"Anda adiknya Pak Aksara?" Iyan hanya mengangguk sambil memeriksa berkas yang sudah di tangan.


"Saya juga anak dari Pak Hadijaya." Senyum manis lagi-lagi dia perlihatkan kepada Iyan.


"Oh." Menjawab, tapi mata tertuju pada kertas di tangan.


Wanita itu menghela napas kasar melihat sikap Iyan yang sama sekali tidak memandangnya. Suasana pun mendadak hening. Ketika ponselnya berdering, Iyan langsung meraihnya. Sebentar tangan itu menari-nari di atas layar. Suasana pun kembali hening. Namun, wanita yang ada di samping Iyan masih terus memandanginya. Kagum kepada sosok yang sangat tampan itu.


"Apa Anda sudah punya pasangan?" Pertanyaan yang keluar dari jalur membuat Iyan menegakkan kepalanya. Ekspresinya datar dan wanita itu masih menyunggingkan senyum. Berharap Iyan akan terpesona akan senyumannya. Banyak yang bilang senyumannya sangat menggoda. Membuat siapapun yang melihatnya jatuh cinta.


"Kalau belum kenapa kita tidak menja-"


Iyan sudah mengangkat punggung tangan kirinya. Menunjukkan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya tersebut.


Senyum tipis terukir di wajah cantik wanita mungil yang masih seperti ABG. Menatap sinis ke arah wanita yang tengah bersama tunangannya.


"Masih gua pantau, belum gua bikin galau."


...***To Be Comtinue***...

__ADS_1


Komen dong ...


__ADS_2