
Iyan teringat akan hadiah yang ayahnya berikan. Belum sempat dia buka dan belum siap juga masuk ke dalam kamar mendiang sang ayah. Terlalu banyak kenangan di sana. Terlalu banyak foto ayahnya yang akan mengingatkannya pada sosok panutan dalam hidupnya.
Iyan menghembuskan napas kasar. Ini sudah satu tahun berlalu. Dia harus berdamai dengan kesedihannya. Dia tidak ingin melihat ayahnya sedih melihat dirinya yang masih menangisi kepergian ayahnya.
Jam tiga pagi lewat sedikit, Iyan keluar dari kamar. Dia menuju kamar sang ayah. Ragu, itulah yang dia rasakan ketika sudah berada di depan pintu kamar. Matanya sudah nanar.
"Aku harus kuat," gumamnya.
Tangan Iyan menekan gagang pintu dan kamar itu terang benderang. Foto berukuran besar mendiang sang ayah seakan menyambutnya. Iyan terkejut, sepertinya itu foto baru karena setahun lalu tidak ada di sana.
Kamar yang terawat sampai sekarang. Tidak ada yang berubah, sama seperti ayahnya masih hidup. Lengkungan senyum dengan hati uang pedih terukir di wajahnya, tatkala melihat foto wisuda Iyan.
"Iyan rindu Ayah."
Tes.
Bulir bening menetes begitu saja di pelupuk mata Iyan. Dia sangat merindukan ayahnya. Dia memiliki kemampuan, tetapi dia tidak bisa melihat ayahnya. Walau hanya sekadar untuk melepas rindu.
Iyan duduk di tepian tempat tidur sang ayah. Mengusap lembut sprei yang terpasang. Aroma kamar pun adalah aroma parfum yang biasa ayahnya pakai.
"Kakak sangat merawat kamar ini," lirihnya.
Iyan mengambil figura di atas nakas samping tempat tidur. Foto ayahnya tengah tersenyum. Tangannya mengusap lembut figura itu.
"Ayah, Iyan kembali." Tangannya kemudian meletakkan figura itu di dada. Matanya terpejam seperti merasakan pelukan hangat ayahnya.
"Bukalah kado dari Ayah, Yan.
Iyan seperti mendengar suara ayahnya. Dia segera membuka matanya, mencari sang ayah ke sana ke mari. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana.
"Ayah, apa Ayah ada di sini?" Iyan berbicara sendiri.
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Dia meletakkan kembali figura itu. Ada sebuah kotak ukuran tidak terlalu kecil di atas nakas. Tangan Iyan mulai meraihnya.
Bibirnya melengkung ketika melihat tulisan tangan ayahnya di atas hadiah tersebut.
Untuk putra tercinta Ayah.
"Hari ini usia Iyan udah dua puluh dua tahun, Yah. Iyan juga sudah lulus kuliah." Iyan seperti mengadu kepada ayahnya sambil memegang kado tersebut.
"Ayah tahu, Abang ngasih Iyan hadiah mobil. Iyan gak nyangka banget, Yah. Iyan sangat bersyukur memiliki Abang ipar yang baik-baik. Mampu menjadi bapak untuk Iyan."
Iyan terdiam sejenak. Mengatur napasnya yang sudah mulai sesak.
__ADS_1
"Semoga Ayah di sana bahagia melihat Iyan semakin dewasa. Iyan janji, Iyan akan menjaga kedua Kakak Iyan dan akan membahagiakan mereka."
Hadiah itu belum Iyan buka. Dia masih bergelut dengan perasaannya.
"Ayah, Iyan buka kadonya sekarang, ya."
Iyan masih berbicara sendiri. Kini, pandangannya tertuju pada kotak yang sudah dia genggam. Perlahan dia buka kotak itu dan dahinya mengkerut ketika ada kotak kecil berwarna merah hati di dalamnya. Ada secarik kertas juga di sana.
Iyan, putra Ayah. Selamat ulang tahun yang ke-21. Doa yang terbaik untuk kamu, Nak.
Kamu sudah dewasa sekarang. Umur Ayah pun mungkin tidak akan lama lagi. Ayah berharap banyak kepada kamu, Nak. Jadilah pemimpin dalam keluarga. Pelindung untuk kedua kakak kamu. Juga tetap menjadi anak yang baik.
Sebelum Ayah pergi untuk selamanya, Ayah berharap kamu bisa memenuhi permintaan terakhir Ayah. Menikahlah dengan putri dari sahabat Ayah, Nak. Dia adalah jodoh yang sudah Ayah siapkan untuk kamu sedari kamu kecil. Tolong penuhi permintaan terakhir Ayah ini. Ayah sayang kamu, putra kecil Ayah.
^^^Salam hangat.^^^
^^^Ayah.^^^
Iyan menggeleng tak percaya melihat isi surat yang dia baca dari sang ayah. Dia pun tersenyum kecut.
"Ini gak lucu, Ayah."
Tangannya sudah membuka sebuah kotak kecil yang berwarna merah hati. Ada dua cincin manis di sana. Mata Iyan membelalak ketika melihat ada ukiran inisial nama Iyan dan Beeya di atas cincin tersebut.
"Apa Iyan harus jadi perebut calon istri orang?" Iyan pun terkekeh sendiri.
"Maaf, Ayah. Iyan tidak bisa melakukannya."
Iyan beranjak dari kamar sang ayah dan kembali ke kamarnya. Dia tak menduga ayahnya akan menulis surat seperti itu. Dia memutuskan untuk memejamkan mata daripada harus memikirkan surat dari ayahnya yang kemungkinan besar hanya candaan.
.
Tiga hari ini Iyan tidur sangat tidak nyenyak. Dia selalu didatangi oleh mendiang ayahnya. Ayahnya terus memohon kepada Iyan untuk mengabulkan permintaannya hingga sang ayah menangis tersedu.
Iyan segera membersihkan tubuhnya dan segera turun ke lantai bawah. Bibirnya melengkung dengan sempura ketika melihat kakak keduanya ada di sana.
Namun, kedua kakaknya terlihat sendu membuat Iyan bingung. "Kakak kenapa?"
"Riana dan Kak Echa mimpi ayah datang sambil menangis." Ucapan dari Askara membuat Iyan terdiam sejenak.
Apa Ayah mendatangi Kak Ri dan Kak Echa juga?
"Nama kamu yang selalu Ayah sebut, Yan," jelas Riana.
__ADS_1
Hembusan napas kasar keluar dari mulutnya. Mungkin, ini saatnya dia berterus terang kepada kedua kakaknya.
"Iyan juga didatangi oleh Ayah sudah tiga malam ini melalui mimpi."
Echa dan Riana terkejut. Mereka kini menatap tajam ke arah sang adik.
"Ayah meminta kepada Iyan untuk menikah dengan Kak Bee."
Semua orang terkejut mendengar ucapan dari Iyan. Terlihat wajah Iyan juga berubah menjadi sendu.
"Iyan tidak akan pernah menjadi pria yang akan merusak hubungan orang lain. Kak Bee sudah bahagia bersama-"
"Tunangannya batal," timpal Radit. Kini, Iyan yang terkejut.
"Ke-kenapa?"
"Si Raffa main serong sama perempuan lain." Tiba-tiba hati Iyan terasa sakit mendengarnya. Dia sangat tahu pasti Beeya terluka dan butuh teman bicara.
"Kenapa kalian tidak memberitahu Iyan?" sergahnya.
"Beeya melarang kami. Beeya mengira kamu ada hubungan dengan Anggie."
Iyan pun mengumpat kesal. Dia segera beranjak dari tempat duduknya dan bergegas mengambil kunci motor dan meninggalakan semuanya.
.
Selama di perjalanan Iyan merutuki kebodohannya. Dia benar-benar menyesal telah menjaga jarak dengan Beeya. Harusnya dia selalu ada untuk Beeya. Seharusnya juga dia sudah membunuh Raffa dengan tangannya sendiri karena sudah menyakiti hati Beeya.
Tibanya di rumah sang papah. Iyan menekan bel karena rumah terlihat sepi. Pria paruh bayalah yang membukakan pintu untuknya.
"Pah."
Arya tersenyum ke arahnya dan memeluk tubuh Iyan. "Selamat ulang tahun, Yan." Iyan membalas pelukan dari sahabat ayahnya dengan tersenyum.
"Maaf, ya. Pas wisuda Papah gak bisa hadir."
Iyan mengurai pelukannya dan tersenyum. "Gak apa-apa, Pah. Papah pasti sibuk."
Mata Arya mulai berkaca-kaca mendengar ucapan Iyan. Iyan mengernyitkan dahi ketika melihat mimik wajah sahabat ayahnya berubah.
"Oh iya, Pah. Apa Kak Bee ada? Iyan ingin bertemu dengan dengan dia."
Bukannya menjawab, Arya menyeka ujung matanya.
__ADS_1
...****************...
Komen dong ....