Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
144. It's You


__ADS_3

Pada akhirnya perpisahan pun kembali terjadi. Iyan sudah terbang ke Jakarta dan Beeya masih harus stay di Bali. Hari-hari menjalani LDR untuk kesekian kali membuat rasa rindu terus menggebu.


Iyan sekarang sangat sibuk. Berangkat pagi pulang malam. Tak ayal dalam sehari dia tidak menghubungi tunangannya dikarenakan sibuk. Namun, Beeya tidak marah. Dia sudah mulai terbiasa. Mereka berdua harus saling percaya satu sama lain.


Rasa lelah mendera. Iyan mengendurkan dasi di lehernya. Sekelebat wajah sang ayah memutari kepalanya. Dadanya mulai sesak, dan dia pun mencoba duduk di tepian tempat tidur.


"Menjadi dewasa itu tidak enak, Ayah." Iyan pun sedikit mengeluh. Tubuhnya bagai robot yang tidak boleh lelah. Belum lagi cemoohan dari para karyawan perusahaan sang Abang.


"KKN doang bisanya. Minim kemampuan."


Iyan memiliki skill. Dia juga hebat, tetapi rasa sirik akan menutup apapun yang orang lain miliki. Hanya keburukan yang mereka lihat.


"Ternyata capek ya bergabung dengan manusia jaman sekarang." Iyan mulai membuka dasinya. Meletakannya di samping. "Lebih baik berteman dengan para hantu. Manusia sekarang sifatnya melebihi setan."


Sedari kecil ruang lingkup pertemanan Iyan itu sempit. Dia lebih senang menghabiskan waktu di rumah dan bermain dengan para hantu ketimbang berteman dengan anak-anak usianya. Namun, sekarang dia harus bergabung dengan para manusia. Ternyata mereka lebih menyeramkan dari semua teman-teman Iyan.


Hembusan napas panjang pun keluar dari mulutnya. Terlihat pemuda ini sangatlah kelelahan.


Suara ketukan pintu terdengar. Iyan melihat ke arah jam dinding. Dahinya mengkerut karena sekarang sudah larut. Sepertinya semua penghuni rumah inipun sudah terlelap dengan begitu damainya.


Ketika pintu dibuka ternyata kedua kakaknya sudah ada di sana. Iyan terheran-heran.


"Kami mau bicara sama kamu." Ucapan dua wanita itu teramat serius. Tanpa Iyan mempersilahkan mereka sudah masuk ke dalam kamar.


"Ada apa?" tanya Iyan. Raut lelah masih kentara.


"Kakak mau membicarakan perihal pernikahan kamu."


Hanya hembusan napas kasar yang Iyan keluarkan. Dia menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.


"Kak, Iyan ingin berusaha sendiri. Sebesar apapun mahar yang dipinta Papah Arya akan Iyan terima." Pemuda itu masih bersikukuh. Sedari awal dia menolak bantuan dari Echa juga Riana untuk biaya lamaran, pernikahan juga resepsi.


"Biarkan Iyan berjuang sendiri, Kak. Iyan laki-laki. Iyan harus kerja keras. Iyan gak mau ngerepotin Kakak dan Kak Ri."


Kalimat itu sebenarnya kalimat yang tidak ingin Echa dan Riana dengar. Sedari dulu Iyan tidak pernah merepotkan mereka. Iyan adalah anak baik.


"Iyan, Beeya butuh kepastian." Riana membuka suara.


"Iyan tahu, Kak Ri," jawab Iyan. "Hari ini uang untuk semuanya sudah ada, tapi Iyan juga harus memegang uang untuk menjalani biduk rumah tangga nantinya. Iyan gak mau buat istri Iyan susah pas udah nikah."


Pemikiran yang sangat dewasa. Echa maupun Riana tidak menyangka adiknya akan memiliki pemikiran seperti itu.


Selama dua minggu ini Iyan benar-benar bagai kuda. Dia juga bekerja bagai orang tuli. Tidak mendengarkan apa yang dikatakan para karyawan lain. Apalagi Aksara sudah memuji kemampuannya. Membungkam mulut para karyawan yang tak berperikemanusiaan. Dia juga selalu rutin menghubungi kekasihnya.


"Ayang, kayaknya aku di Bali lebih lama deh."


Iyan yang tengah mengunyah makan siang pun terkejut. Seketika wajahnya berubah.


"Aku belum sembuh total."


Terlihat Beeya menunduk dan Iyan hanya bisa menghembuskan napas dengan begitu dalam.


"Maafkan aku, Ayang."


Ketika keinginan tidak sesuai kenyataan. Itulah yang tengah Iyan rasakan. Padahal dia sudah mengosongkan waktunya untuk bersama Beeya. Meminta waktu itupun teramat sulit kepada kakak iparnya.


.


Jum'at pagi.


Ketiga anak remaja tengah saling tatap karena personel rumah ini kurang satu. Siapa lagi jika bukan sang paman.

__ADS_1


"Bubu, Om kecil tidak sarapan?" Aleesa yang membuka suara.


"Om lagi ambil cuti."


"Cuti melahirkan?" timpal Aleeya. Aleena pun memukul lengan sang adik.


"Gimana mau jadi dokter kalau otaknya cuma terisi seperempat," omel Aleesa.


Echa dan Radit hanya menggelengkan kepala. Mereka berdua sudah sangat mengerti watak dari ketiga anak remaja itu.


"Om kecapek-an. Tahu sendiri 'kan bagaimana kalau bekerja dengan Uncle," ujar sang ibu.


"Boss kejam itu mah," sahut Aleeya. "Karyawannya disuruh kerja rodi mulu tiap hari."


"Tapi, yang kerja di sana gajinya gede loh." Aleena menimpali.


"Semakin besar gaji di sebuah perusahaan, maka semakin berat juga tuntunan untuk para karyawannya." Radit mencoba untuk menerangkan.


"Kakak Sa mah gak mau jadi karyawan. Kakak Sa mau buka kafe kayak Om Aska." Cita-cita Aleesa itu sangat sederhana.


"Dedek mah tetap mau jadi dokter." Aleeya berotak kecil bersikukuh ingin menjadi dokter.


"Kakak Na jadi kuliah di Singapur?" tanya Radit. Aleena mengangguk cepat.


"Kakak Na mau ambil jurusan psikolog." Aleena berkata tanpa ragu. Itulah yang membuat Radit selalu bangga kepada putri pertamanya.


"Bubu akan tanya Uncle universitas apa yang bagus di sana." Echa seratus persen mendukung keinginan Aleena.


"Dedek mah di sini aja ya kuliahnya. Gak mau jauh dari Bubu dan Baba." Anak manja, begitulah sebutan dari kedua orang tuanya untuk Aleeya.


.


Iyan membuka mata tepat jam sepuluh pagi. Dia tidak langsung bangun. Melainkan mengecek ponselnya. Hanya pekerjaan dan pekerjaan yang dikirimkan. Sedangkan sang tunangan belum memberikan kabar.


Iyan mencoba menghubungi Beeya. Namun, nomor ponsel sang tunangan mendadak tidak aktif.


"Ke mana kamu, Chagiya?"


Iyan mencoba bangun dari posisi tidurnya. Dia masuk ke kamar mandi untuk berendam sejenak. Terdengar samar suara ponsel berdering. Setelah terasa segar, Iyan segera keluar dari kamar mandi. Dia meraih ponselnya ternyata bukan orang yang dia harapkan.


Baru saja meletakkan ponselnya, benda pipih itu berdering kembali.


"Apa?"


"Ke kafe lah, Pak. Kita ngopi."


"Saya lagi males keluar."


"Live musik loh, Pak. Udah lama kita gak ketemu. Mentang-mentang udah berdasi dan berjas lupa sama kita-kita."


Iyan paling benci dengan kata-kata tersebut. Dia memang malas keluar rumah bukan karena sombong. Lagu pula keluar rumah tanpa tujuan seperti orang ling lung.


"Pokoknya saya tunggu nanti malam."


.


Moeda kafe semakin ramai sekarang. Ada kebahagiaan di hati Iyan ketika melihatnya. Kedatangannya pun disambut hangat oleh para karyawan di sana.


"Pak bos sekarang mah," kelakar Wira. Iyan hanya tersenyum mendengarnya.


Malam ini Iyan memakai kaos hitam. Banyak mata perempuan yang menatap kagum ke arahnya.

__ADS_1


"Makin ganteng aja, Pak manager," puji karyawan yang lain.


Iyan hanya tersenyum. Dia dibawa oleh Wira ke meja pengunjung. Memperlakukan Iyan bagai tamu spesial.


"Live musik sekarang masih diisi yang lama?" Wira menggeleng. "Malam ini ada yang baru." Iyan hanya mengangguk.


Suara musik sudah terdengar. Alunan lagu It's you sudah dinyanyikan. Namun, Iyan membelakangi mini panggung. Jadi, tidak bisa melihat siapa yang bernyanyi. Juga dia tidak tertarik untuk melihat ke belakang.


🎶


...


You're all that I've needed


(Hanya kau yang aku butuhkan)


Completing my world


(Tuk melengkapi duniaku)


You ...


Iyan yang tengah meminum es kopi pun terdiam sejenak mendengar suara tersebut. Tidak asing di telinga.. Dia pun masih menajamkan telinga. Suara merdu itu sering dia dengar.


You're my love, my life, my beginning


(Kau adalah cintaku, hidupku, permulaan ku)


And I'm just so stumped I got you


(Dan aku masih bingung kenapa bisa mendapatkanmu


Boy, you are the piece of me missing


(Sayang, kaulah bagian diriku yang hilang)


Remember it now


(Sekarang aku teringat)


All the times I've been alone, shown me the way


(Setiap kali aku merasa sendiri, tunjukkan aku jalannya)


Let me hear, let me hold mine


(Biarkanku mendengar dan menggenggammu)


Through that door straight to you


(Menuju pintu yang ada di depanmu)


You're my love, my life, my beginning


(Kau adalah cintaku, hidupku, permulaanku)


"It's you ... Rian Dwiputra Juanda."


...***To Be Continue***...


Komen dong ...

__ADS_1


Lagi butuh semangat


__ADS_2