Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
33. Maafkan Iyan


__ADS_3

"Terus berjuang untuk sembuh ya, walaupun nanti aku gak bisa nemenin kamu. Aku yakin, kamu bisa tanpa aku."


Beeya menggeleng, air matanya sudah meleleh. Mendengar ucapan Iyan hatinya sangat sakit sekali.


"Aku mau kamu terus nemenin aku." Suara Beeya sudah sangat lirih dan berat. "Kamu harus keluar dari tempat ini. Kamu harus melepas baju ini." Beeya mencengkeram baju berwarna oranye yang Iyan kenakan.


Iyan segera memeluk tubuh Beeya. Sakit sekali hatinya mendengar ucapan dari Beeya. Aska yang melihat dua anak manusia di hadapannya hanya dapat melengkungkan senyum.


"Kalian itu saling membutuhkan, tetapi kalian belum sadar," gumamnya dalam hati.


Beeya menyuapi Iyan dengan makanan ala bento yang Beeya bawakan. Aska melipat kedua tangannya di atas dada. Dia salut kepada Iyan yang benar-benar membela Beeya, dan Beeya dia akan menjadi periang yang Aska kenal ketika berada di dekat Iyan.


"Yan, tolong sembuhkan luka Beeya dan jaga dia serta bahagiakan dia."


Sebuah harapan yang tidak bisa Aska ucapkan secara gamblang. Namun, dia sangat yakin Iyan mampu mendengarnya.


Beeya dengan telaten menyuapi Iyan. Pemuda itu akan jadi manusia penurut jika sudah Beeya yang menyuruh ataupun meminta. Aska terus menyunggingkan senyum ke arah mereka berdua. Dia merasakan kebahagiaan yang selamanya akan seperti ini karena dia sangat yakin, Iyan adalah laki-laki yang mampu bertanggung jawab terhadap Beeya.


"Kak, boleh ajak aku ke sini tiap hari?" Kini Beeya menatap Aska penuh harap.


"Gak usah," balas Iyan seraya mengusap lembut ujung kepala Beeya. "Kamu di rumah aja. Aku akan baik-baik saja kok." Lagi-lagi Beeya menggeleng.


"Aku ingin di sini juga menemani kamu." Suara Beeya bergetar lagi membuat Iyan memeluk Beeya untuk kesekian kalinya.


"Maafkan aku, Kak. Harusnya aku sudah bisa menyembuhkan luka Kakak," sesalnya dalam hati.


.


Radit dan Aksa menggelengkan kepala ketika mendengar penuturan Iyan perihal Rudi.


"Udah salah, masih ngaku benar. Beeya lagi yang jadi taruhannya," sungut Aksa.


"Iyan tidak mungkin melepaskan Beeya begitu saja. Kita lihat, skenario apa lagi yang akan dia mainkan." Seringai licik Radit sudah muncul di wajah tampannya itu.


Tiga hari sudah Iyan berada di dalam tahanan. Iyan akan mengikuti skenario yang telah kedua abangnya susun. Dia sangat yakin, kedua abangnya lebih berpengalaman dalam menghadapai manusia licik macam Rudi.


Beeya, Arya dan Beby datang ke tempat di mana Iyan ditahan. Arya tak kuasa menahan laju air mata ketika melihat Iyan mengenakan pakaian tahanan. Arya memeluk tubuh Iyan dengan sangat erat.

__ADS_1


"Maafin gua, bro. Gua gak bisa jagain anak lu. Gua gagal."


Beby pun ikut menyeka ujung matanya. Dia ikut memeluk tubuh Iyan.


"Papih Kano tengah berjuang untuk membebaskan kamu dari sini. Kamu sabar, ya." Iyan hanya tersenyum dan dia pun menatap wajah dari ibunda Beeya.


"Walaupun Iyan harus lama di sini, Iyan gak masalah. Asal Mamah dan Papah bisa jaga Kak Bee. Juga Kak Bee harus bisa sembuh supaya Iyan tenang di sini."


"Aku gak suka kamu ngomong kaya gitu." Beeya berhambur memeluk tubuh Iyan. Kedua orang tua Beeya hanya saling pandang dengan lengkungan senyum di bibir mereka.


"Semua orang tengah berusaha buat kamu bebas. Kamu harus optimis." Tangan Beeya masih melingkar di pinggang Iyan dengan begitu erat.


Iyan mampu untuk tersenyum, tetapi sorot matanya tidak mampu mendustai semua orang. Dia menatap ke arah Arya, dan Arya apa yang tengah Iyan takutkan.


"Mereka menghubungi papah." Raut wajah Iyan mendadak lesu. Kepalanya dia tundukkan.


"Mereka bertanya, kenapa kamu susah dihubungi?" Air matanya tak bisa Iyan bendung lagi. Dia sangat yakin bahwa kedua kakaknya pasti akan kecewa kepadanya.


Tangan lembut Beeya menggenggam erat tangan Iyan yang lebar. Wanita itu seakan tengah memberikan kekuatan kepada pemuda dalam kondisi rapuh tersebut.


"Kamu jangan khawatir, semuanya kami tutup rapat," tukas Beby.


Arya dan Beby seperti melihat putrinya yang dulu, anak yang tak terpisahkan dengan Iyan. Anak yang selalu memberikan dukungan kepada Iyan ketika kondisi Iyan sedang tidak baik-baik saja.


.


Seorang pria tengah tersenyum penuh kemenangan ketika dia meninggalakan Bali. Satu tujuannya, menemui kakak dari Iyan dan mengatakan yang sesungguhnya. Dia ingin Iyan juga terpuruk dan dibenci oleh kedua kakaknya karena dia tahu, Iyan sudah menjadi anak yatim piatu dan tinggal bersama kakak lain


Tiba di rumah megah dengan senyum sumringah. Namun, para penghuni tak kasat mata yang berada di sana menatapnya dengan penuh kebencian karena ada aura negatif yang mengelilingi tubuh pria tersebut.


Om Uwo yang biasa duduk manis di pohon mangga pun mengahampiri dua hantu permen bungkus yang sudah menahan kesal dan marah akan kedatangan pria yang asing bagi mereka.


"Siapa dia?" tanya Om Uwo. Kedua hantu itu menggeleng. Mereka yang awalnya ingin menghadang pria paruh baya itu dilarang oleh Om Uwo. Hantu berbulu hitam itu membiarkan pria itu masuk. Dia ingin tahu ada keperluan apa manusia itu datang ke rumah Iyan dan si triplets.


Kebetulan sekali Echa yang membukakan pintu. Tiga makhluk tak kasat mata itupun hanya menjadi penonton.


"Anda siapa?" Echa tak membiarkan pria itu masuk karena tidak ada suaminya di rumah.

__ADS_1


"Saya ke sini ingin membawa kabar baru untuk Anda."


"Kabar?" ulang Echa seraya mengerutkan dahi. Pria itu mengangguk.


Tanpa banyak bicara pria itu segera mengeluarkan ponselnya. Memperlihatkan satu buah gambar kepada Echa hingga Echa benar-benar syok dibuatnya.


Melihat mimik wajah Echa yang berubah drastis, ketiga makhluk tak kasat mata itu mendekat ke arah Echa. Hanya ada kemarahan dari teman-teman Iyan tersebut.


"Iyan bukan orang jahat. Itu bukan adik saya," elak Echa dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


"Tidak jahat bagaimana? Dia sudah hampir membuat Raffa mati." Kini suara Rudi meninggi.


Dua hantu bungkus tidak terima Echa dibentak seperti itu. Om Poci menyeruduk tangan Rudi yang sedang menggenggam ponsel hingga ponsel itu terjatuh dan hancur berkeping-keping. Juga Tante pocita sudah menyenggol tubuh Rudi dengan sangat keras hingga tubuhnya terhuyung ke belakang.


"Kamu akan mati!"


Suara seram yang mampu Rudi dengar. Suara itu terus berulang di kedua telinganya. Apalagi sekarang di mata Rudi, Echa seperti hantu buruk rupa yang tengah menangis mengeluarkan darah. Sungguh Rudi ketakutan dan berlari dari rumah itu.


.


Jojol ah yang selalu membuat Iyan kuat menjalani hari-harinya di dalam sel tahanan. Dia yang selalu menjaga Iyan, menemani Iyan. Dia tidak ingin Iyan merasa sendirian.


"Rian Dwiputra Juanda," panggil salah seorang petugas. Iyan yang tengah membenamkan wajahnya di atas lutut menoleh.


"Ada yang ingin bertemu dengan Anda."


Iyan menghembuskan napas kasar, siapa lagi yang datang menemuinya di hari ini. Langkah Iyan terhenti ketika sudah melihat dua wanita yang sangat Iyan kenali sudah berdiri dan menatapnya tajam. Mata Iyan berkaca-kaca melihat kedua kakaknya yang datang. Dia bingung, dia ingin memeluk tubuh dua wanita pengganti sosok ibunya, tetapi dia tahu kedua wanita itu tengah merasa kecewa dan juga marah kepadanya.


Perlahan kaki Iyan mendekat ke arah mereka berdua. Iyan masih mampu menatap nektra indah yang kedua kakaknya miliki. Hingga langkahnya berhenti di jarak lima meter dari kedua kakaknya.


Kakak perempuan pertama Iyan mendekat dengan raut penuh rasa kecewa juga marah. Iyan hanya bisa pasrah.


"Maafkan Iyan, Kak."


Tangan Echa sudah melayang ke atas dan Iyan tidak akan menghindarinya. Dia sudah memejamkan matanya, sudah siap menerima apapun yang kakaknya lakukan kepadanya.


"Pukul Iyan, Kak. Kalau itu bisa membuat rasa kecewa dan marah Kakak hilang. Pukul Iyan dengan keras, Kak. Supaya Iyan juga merasakan kekecewaan yang Kakak rasakan. Maafkan Iyan, Kak."

__ADS_1


...****************...


Komen dong ...


__ADS_2