Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
58. Kesedihan dan Keceriaan


__ADS_3

Echa yang baru saja pulang dari kantor, segera memeriksa kamar Iyan. Walaupun adiknya sudah dewasa, Echa akan tetap mengontrol Iyan ke kamarnya. Kebiasaan rutin Echa setelah ayahnya tiada. Namun, dia tidak menemukan adiknya. Dia masuk ke kamar ketiga anaknya.


"Om kecil belum pulang?" tanyanya kepada ketiga anaknya.


"Udah," jawab Aleesa.


"Kok gak ada di kamar?"


Aleesa menggedikkan bahunya. Dia menjelaskan jikalau om kecilnya tadi naik ke lantai atas. Helaan napas kasar keluar dari mulut Echa.


Berhenti di depan pintu kamar sang ayah. Jika, masuk ke kamar itu akan membuat hatinya rapuh seketika. Sekuat apapun dia, air matanya tak akan mampu berdusta.


Menarik napas panjang sebelum menekan gagang pintu. Ketika dia yakin, dia membuka pintu kamar itu. Matanya nanar ketika melihat adik bungsunya tengah tertidur memeluk figura sang ayah. Hatinya sakit sekaligus sedih yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hanya air mata yang mengalir deras. Apalagi, figura besar yang berisi foto sang ayah seakan menyambutnya setiap kali dia masuk ke kamar pria yang menjadi cinta pertamanya.


"Kami masih rapuh dan sakit, Ayah."


Echa menyeka ujung matanya. Langkah beratnya membawanya menuju adik tercinta. Dia duduk di pinggiran tempat tidur sembari memperhatikan wajah Iyan.


"Ada masalah apa, Yan?" ucapnya pelan. Tangannya sudah terulur mengusap lembut rambut adiknya.


"Jangan pergi, Bunda. Iyan masih rindu Bunda," rancaunya.


Hati Echa semakin sakit mendengar igauan pemuda di sampingnya. Ditinggalkan oleh sang ibunda tercinta pasti membawa luka juga kesedihan sendiri untuknya. Ditambah ditinggal oleh ayahnya yang menjadi tumpuannya sedari kecil. Kesakitannya pasti berlipat ganda.


Walaupun Echa dan Riana mencoba menjadi sosok seorang ibu, tetap saja tidak akan pernah bisa menggantikan Amanda sebagai sosok ibunya di hati Iyan. Anak itu banyak menanggung kesedihan sendirian selama ini. Namun, mampu membalutnya dengan segala kealimannya.


"Kakak tahu, Kakak tidak akan pernah bisa menggantikan posisi Bunda di hati kamu, tapi Kakak akan berusaha menjadi ibu untuk kamu."

__ADS_1


Echa mengecup kening Iyan sangat dalam. Menarik selimut untuk menutupi tubuh adiknya. Echa mentap foto ayahnya yang ada di dinding.


"Lihatlah, Ayah. Kami masih tidak baik-baik saja. Walaupun waktu terus bergulir, tetapi sosokmu masih terukir indah di dalam hati dan pikiran kami."


Echa memilih untuk mematikan lampu kamar, hanya menghidupkan lampu temaram. Membiarkan adiknya melepas rindu bersama kedua orang tuanya.


.


Kehadiran sosok ceria ke rumah Echa di pagi hari membuat Echa melengkungkan senyum.


"Iyan belum bangun," ujar Echa. Beeya hanya tersenyum. Dia membantu Echa menyiapkan sarapan.


"Ini hari terakhir Bee di Jakarta."


Echa yang tengah menyusun sarapan pun menghentikan kegiatannya. Menatap bingung ke arah Beeya.


"Meninggalkan Iyan?" Beeya pun mengangguk.


"Jadi, ini alasan kenapa Iyan tidur di kamar Ayah?"


"Titip Iyan ya, Kak. Kalau Iyan macam-macam langsung laporin ke Bee."


"Bukannya kebalik," balas Echa. Sontak Beeya tertawa.


"Khatam amat," kelakarnya.


Echa hanya berdecih seraya ikut tertawa. Mereka menata sarapan di meja makan. Semua orang sudah keluar dari kamar masing-masing. Hanya tinggal Iyan yang belum turun.

__ADS_1


"Ini anak udah lepas aja," tunjuk Radit ke arah Beeya.


"Mau deketin calon kakak ipar," sahutnya. Dia juga menatap ke arah ketiga keponakan Iyan. "Juga tiga keponakan Iyan yang sengke." Tatapan tajam si triplets berikan kepada Beeya dan hanya tawa lepas yang keluar dari mulutnya.


"Kok di sini?"


Sergahan seseorang membuat Beeya menoleh. Pemuda yang membuat Beeya nyaman sudah tampan dengan pakaian semi formalnya.


"Numpang sarapan."


Iyan menarik kursi di samping Beeya untuk dia duduki. Radit dan Echa hanya saling pandang ketika melihat Iyan mengusap lembut ujung kepala Beeya.


"Sok manis banget sih Om kecil," ujar Aleesa seraya mencebikkan bibirnya. Iyan tidak menjawab. Dia hanya melirik sekilas ke arah sang keponakan.


"Setelah sarapan Kakak ingin bicara sama kalian." Kini, Beeya dan Iyan masih yang saling pandang. Kedua alis mereka menukik tajam.


Setelah sarapan Iyan dan Beeya dibawa ke ruang keluarga. Mereka seperti sedang disidang oleh Echa. Apalagi tangan Echa sudah dilipat di depan dada.


"Sudah sejauh mana hubungan kalian berdua?" tanya Echa serius.


"Kenapa emangnya, Kak?" tanya balik Beeya. "Mau nyuruh Iyan buat lamar aku, ya."


...****************...


Komen atuh ...


Sedikit amat sih komennya. 😪🤧

__ADS_1


__ADS_2