
Kehilangan orang yang disayangi memang teramat menyakitkan. Puluhan tahun bersama membuat Arya merasa sangat kehilangan sosok yang sangat berarti dalam hidupnya.
"Saya nikahkan dan kawinkan, engkau Rian Dwiputra Juanda bin Rion Ju-" Arya menangis lagi. Dia tengah mencoba mengucapkan kalimat itu, tapi mulutnya tidak mampu. Hatinya sangat sakit.
"Gua gak kuat, Bro. Gak kuat!" Arya masih terduduk di samping pusara sang sahabat.
Menjelang hari pernikahan putrinya harusnya Arya merasa bahagia. Bukan malah sebaliknya. Mencoba untuk tegar pun tidak bisa. Perihal kesedihan tak bisa dia bohongi.
.
Iyan memandangi baju yang akan dia dan keluarganya gunakan di hari spesialnya nanti. Ada kesedihan yang tiba-tiba datang. Dia teringat akan mendiang sang ayah. Matanya tiba-tiba berkaca-kaca. Apalagi melihat baju setelan pria yang akan dikenakan oleh kedua kakak iparnya. Belum lagi baju untuk calon mertua laki-lakinya.
"Harusnya Ayah samaan bajunya dengan Papah," batinnya dengan begitu lirih.
Sentuhan lembut di lengan membuat rasa sedih itu menguar. Apalagi melihat Beeya yang tersenyum dengan begitu manisnya.
"Mau ke mana lagi?" tanya Beeya.
"Sudah semua belum kita cek?" tanya balik Iyan.
"Kayaknya sih udah." Beeya mulai memeluk tubuh Iyan dari samping. Dia merasa lelah seharian ini harus beberapa kali pindah tempat.
Iyan mengecup ujung kelapa Beeya dan mengajaknya pulang. Mereka bukan pulang ke rumah Echa maupun Arya. Melainkan rumah yang Iyan beli dengan uangnya sendiri.
"Ayang, kok aku penasaran ya dengan video yang kamu koleksi itu?" Iyan yang baru saja membuka sepatu tidak terkejut sama sekali. Dia malah tersenyum.
Pemuda itu mendekat ke arah Beeya. Duduk di samping calon istrinya. Ada rasa penasaran yang bersarang di hati Iyan.
"Kamu mau belajar dulu enggak sebelum kita melakukannya." Rasa penasaran di hati Beeya membuatnya menganggukkan kepala. Iyan pun tersenyum penuh kemenangan.
Pemuda itu mulai mencium bibir Beeya dengan begitu lembut. Menyesapnya dengan penuh sayang. Beeya mulai terbuai dan tangannya sudah mulai dia kalungkan di leher Iyan. Tangan Iyan sudah mulai nakal, satu per satu mulai membuka kancing baju Beeya. Tanpa Beeya sadari semua kancing bajunya sudah terbuka dan terlihat bra berwarna hitam yang menempel di dua gunung putih nan mulusnya.
"A-Ayang."
"Kamu takut gak kalau aku mencium ini kamu?" Iyan tidak menyebut apa yang ingin dia cium. Beeya pun menggeleng.
Seperti sebuah kesempatan, Iyan pun mencium gundukan putih itu hingga rasa geli menjalar di tubuh Beeya. Tanpa Beeya sadari dia mendessah dengan begitu manja.
__ADS_1
"Ayang."
Iyan pun memandang wajah Beeya yang nampak berbeda. Perlahan Beeya pun membuka mata dan nektra mata mereka bertemu.
"Kalau aku sentuh ini kamu." Tangan Iyan sudah menyusuri bagian dalam paha Beeya. Aliran listrik kini menjalar di tubuh Beeya untuk kesekian kalinya. Apalagi ketika tangan Iyan hampir menyentuh benda yang sangat berharga bagi Beeya.
"A-yang-"
"Kamu gak takut aku nyentuh mecki kamu?"
"Enggak."
Iyan ragu akan melakukannya, tapi dia harus melakukannya. Bukan hanya Beeya yang merasa nikmat, jantung Iyan pun berdegup hebat.
"Ah!"
Iyan tidak berani lama-lama dan membuat Beeya sedikit kecewa. Mereka berdua saling tatap.
"Kenapa kamu tidak takut aku sentuh dan aku jamah?" tanya Iyan dengan begitu lembut.
"Bukankah dia juga orang yang kamu cintai?" tanya Iyan bingung. Dia sedang membahas masa lalu Beeya bersama pria berengsek itu. Dia juga sedang mengetes trauma Beeya masih ada atau tidak.
"Tidak, rasa cintaku semakin hari semakin hilang untuknya. Justru kamu, yang semakin hari selalu aku pikirkan. Aku bersama dengan dia, tapi pikiran dan hatiku tertuju pada kamu," terangnya.
"Apalagi semenjak Ayah pergi. Aku merasa aku semakin sayang sama kamu. Bisikan Ayah di telingaku teramat jelas. Aku disuruh menjaga kamu dan bersama kamu hingga maut memisahkan."
Iyan terdiam sejenak. Ternyata ayahnya bukan hanya menitip pesan kepadanya saja. Kepada Beeya juga rupanya.
Tangan Iyan mulai menutup kancing baju Beeya yang sudah terbuka. Beeya pun terkejut, dia kira Iyan akan melanjutkan kegiatannya.
"Aku hanya ingin melihat apa trauma kamu masih ada." Iyan mengusap lembut pipi mulus Beeya.
"Aku tidak akan pernah merusak kamu. Biarkan kata sah yang menjadi kunci pembuka untuk kehalalan hubungan kita."
Beeya memeluk tubuh Iyan dengan begitu erat. Iyan pun membalasnya tak kalah erat juga. Dua insan manusia yang memang sudah disuruh untuk bersama oleh seorang Rion Juanda.
Iyan dan Beeya tidur dengan begitu pulas di kamar utama. Kamar yang akan menjadi kamar untuk mereka nantinya. Mereka saling peluk dan seakan tidak ingin berpisah walaupun hanya sebentar.
__ADS_1
Mereka berdua seakan tengah berada di hamparan rumput berwarna hijau. Ada danau buatan di sana juga ada kursi besi yang berada di pinggiran danau tersebut. Terlihat ada seseorang yang tengah duduk di kursi itu.
Beeya dan Iyan saling tatap. Mereka berdua ragu. Apakah mereka harus ke sana? Orang itu pun menoleh dan sontak Iyan dan Beeya terkejut.
"A-ayah." Mereka berdua kompak berucap.
Pria itu berdiri dan merentangkan tangan kepada mereka berdua. Iyan dan Beeya berlari menghampiri Rion yang memakai baju serba putih.
"Iyan rindu Ayah."
Suara Iyan bergetar dan dia berhambur memeluk tubuh ayahnya. Begitu juga dengan Beeya. Dia memeluk tubuh Rion dengan begitu erat.
"Maafkan Ayah, ya."
Mereka berdua kompak menggelengkan kepala. Tidak perlu ayahnya meminta maaf kepada mereka.
"Ayah tidak bisa hadir nanti di acara kalian berdua." Semakin sedih dua anak manusia itu mendengarnya. Mereka menangis di dada bidang Rion.
"Berbahagialah kalian berdua. Ayah akan tenang dan bahagia melihat kalian bersatu di dalam ikatan suci pernikahan. Inilah yang Ayah impikan."
"Jangan pergi, Ayah."
Rion tersenyum, dia mengusap lembut rambut Iyan. Anak yang sekarang lebih tinggi darinya. Anak yang mendapat perlakuan tidak adil kini pun masih sama seperti dia masih kecil. Ketidakadilan yang dia dapatkan.
"Anak kecil Ayah sudah dewasa, ya. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang suami juga ayah. Gak kerasa waktu cepat sekali berputar. Maafkan Ayah, yang tidak adil kepada kamu, Yan. Dua kakakmu masih bisa Ayah saksikan, tetapi kamu ... ternyata waktu Ayah sudah habis di dunia ini sebelum menyaksikan kamu menikah dengan wanita pilihan Ayah."
Rion melonggarkan pelukannya kepada kedua anaknya. Dia tersenyum ke arah Iyan dan juga Beeya yang sudah banjir dengan air mata.
"Jangan menangis." Rion mengusap lembut air mata Iyan yang membasahi wajah. Itu juga dia lakukan kepada Beeya.
"Ayah datang hanya untuk mengucapkan selamat. Ayah datang hanya untuk melihat kalian bahagia." Rion mengecup kening Iyan dengan sangat lama. Berpindah pada kening Beeya.
"Ayah hanya ingin bilang, Ayah sayang kalian. Walaupun Ayah sudah tidak bisa berada di samping kalian, percayalah bahwa Ayah akan selalu ada di hati kalian."
...***To Be Continue****...
Komen dong ....
__ADS_1