Jodoh Dari Ayah

Jodoh Dari Ayah
38. Kesaksian Palsu


__ADS_3

"Saya juga membawa bukti kuat, Yang Mulia."


Semua orang menoleh ke asal suara. Terlebih Radit yang tercengang karena kehadiran istrinya. Pantas saja sedari tadi istrinya tidak ada di ruangan.


Echa menyerahkan ponselnya kepada hakim dan diputarlah sebuah rekaman suara.


"Maafin aku, Kak. Aku terpaksa ngelakuin ini," terdengar suara perempuan itu sangat lirih.


"Aku diancam akan dilenyapkan jika aku tidak membantu pihak mereka."


Pihak Iyan sudah tidak terkejut lagi dengan pengakuan tersebut. Berbeda dengan pihak Raffa yang sudah kelabakan.


"Aku tidak mau anak yang tidak berdosa ini menjadi korban dari kebiadaban ayah biologisnya. Aku gak mau, Kak."


Itu adalah suara Anggie yang ternyata mengakui segala kesalahannya kepada Echa. Dia juga tertekan atas apa yang dilakukan oleh Raffa dan Rudi. Banyak sekali ancaman yang Anggie dapat dari dua manusia tersebut.


"Foto itu adalah foto aku sama Raffa. Setiap kali berhubungan dia selalu meminta difoto atau divideokan. Kali ini, foto itu diedit sedemikian rapi agar para pengadil di ruangan itu percaya dan akan lebih memberatkan hukuman kepada Iyan."


Raffa terdiam seribu bahasa. Begitu juga dengan Rudi. Iyan hanya tersenyum tipis.


"Iyan pria baik, aku juga sebenarnya gak tega Iyan difitnah membabi-buta seperti ini. Iyan tidak salah, Iyan hanya ingin melindungi wanita yang dia sayangi. Aku sangat melihat jelas bagaimana raut Iyan ketika menghantam wajah Raffa. Dia seperti tengah membalaskan dendam wanita yang dia sayang."


Beeya terdiam mendengar rekaman video tersebut. Kini, dia menatap punggung pria yang tengah menjadi terdakwa di depan. Kenapa semua orang mengatakan hal yang sama seperti itu?


"Jika, Yang Mulia tidak percaya. Saya sudah membawa orangnya ke sini. Dia hanya memberikan kesaksian palsu atas permintaan korban." Echa menjelaskan dengan tenang.


Apa yang dikatakan oleh Echa benar, di belakang Anggie sudah bersama dua orang berbaju hitam. Dia menatap nanar ke arah Raffa. Sedangkan Raffa menatap nyalang ke arahnya.

__ADS_1


"Wanita tak tahu diuntung!" berangnya dalam hati.


Anggie pun dipanggil kembali dan akhirnya membeberkan semuanya kepada pihak yang ada di pengadilan. Dia merasa terlindungi oleh Echa. Echa memberikan keamanan untuknya jikalau dia mau berbicara sesuai fakta yang ada.


Penjelasan Anggie kali ini malah memberatkan Raffa juga Rudi. Pasal yang akan diterima pun sudah pasti pasal yang berlapis.


Pihak Iyan kini berada di atas angin. Mereka yakin akan menang dan Iyan akan bebas. Beda halnya dengan Beeya, melihat wajah Anggie membuat hati Beeya semakin sakit. Sedari tadi dia hanya diam dan merasakan hatinya bagai diremas-remas dengan sangat kencang.


Namun, dia tidak boleh beranjak dari sana karena dia pun menunggu sebuah keputusan penting, yakni kebebasan Iyan.


Bukannya Beeya tidak tahu siapa Anggie sebelumnya. Jauh sebelum Beeya mengejar maaf kepada Iyan, dia sudah tahu selingkuhan dari Raffa itu. Namun, dia hanya diam karena dia cukup tahu. Dia tidak banyak bicara karena posisi dirinya dan Anggie sama-sama wanita. Bisa saja Beeya melabrak Anggie, tetapi itu tidak akan menemukan titik temu selagi Raffanya memang masih mau.


Sangat sakit itu ketika Beeya melihat Iyan dekat dengan Anggie. Dia tidak bisa melarang Iyan, apalagi melihat Iyan yang sangat dekat Anggie. Hanya orang-orang yang sangat dekat dengan Iyan yang mampu menembus dapur Moeda cafe. Salah satunya Anggie.


Atas kejadian ini, dia seperti membuka luka lama yang sudah coba untuk dia tutup rapat. Apalagi melihat Anggie yang menatap Iyan dengan sorot mata yang berbeda dan kini membela Iyan di pengadilan.


Sidang berjalan sangat alot. Walaupun bukti dari pihak Iyan sangat kuat. Namun, pihak Raffa pun tidak mau kalah. Banyak statement yang mereka keluarkan dan berujung menyudutkan Iyan kembali.


Tiga jam bergulir, akhirnya diputuskan bahwa Iyan tidak bersalah dan bebas dengan syarat wajib lapor. Semua orang tersenyum bahagia. Iyan segera berbalik arah menatap ke arah Beeya yang sudah berwajah pucat.


"Kak Bee!"


Tubuh Beeya ambruk seketika dan membuat Iyan berlari menghampiri wanita yang sedari tadi mencoba pura-pura untuk kuat. Namun, Iyan tidak diperbolehkan untuk keluar terlebih dahulu karena harus mengurus banyak berkas.


Raffa lah yang kini menjadi tersangka. Apalagi bukti dan saksi yang kuat sudah didapatkan. Arya akan terus mengawal Raffa hingga masuk ke dalam jeruji besi. Dia akan membalaskan dendam sang putri


.

__ADS_1


"Kondisinya kelelahan dan banyak tekanan." Seorang dokter menjelaskan keadaan Beeya sesungguhnya.


Arina menatap ke arah Beby. Mengusap lembut pundak sang adik ipar. "Dia anak yang kuat. Demi Iyan dia bertahan." Beby hanya mengangguk dengan bulir bening yang sudah menganak di pelupuk matanya.


Hanya Arina dan Beby yang ada di rumah sakit, yang lainnya masih ada di pengadilan. Ada kelegaan di hati Beby dan Arina ketika mendengar keputusan dari hakim. Mereka berdua sangat yakin bahwa nantinya Iyan akan bisa menyembuhkan luka Beeya secara perlahan.


Kembali ke pengadilan. Aksa tersenyum tipis ke arah Rudi. "Jangan merasa seperti dewa, jika pada akhirnya anak Anda yang masuk penjara."


Rudi sudah mengerang kesal dan wajahnya sudah merah padam. Ingin rasanya dia menghantam wajah Aksa dengan kepalan tangannya.


"Rudi, sudah waktunya kamu masuk ke dalam jeruji besi," ujar ahli telematika. "Banyak orang yang kamu curangi dan sekarang sudah waktunya kamu berdiam diri di hotel prodeo sambil menunggu Tuhan menjemputmu."


Rudi Alamsyah adalah pengusaha licik yang akan membuat musuhnya kalah tak berkutik. Dia pandai membalikkan fakta yang ada dan banyak ahli telematika yang disewa olehnya hingga dia selalu menang dalam menghadapi setiap kasus hukum. Namun, kini adalah hari terakhirnya menjadi manusia licik dan picik.


Iyan memeluk tubuh kakaknya dengan sangat erat. Ada air mata kebahagiaan yang Iyan teteskan. Dia juga sangat berterimakasih kepada kedua kakak iparnya yang selalu ada untuknya.


Anggie, Iyan hanya tersenyum kepadanya tanpa mau menjabat tangannya. "Makasih." Kata itulah yang keluar dari mulut Iyan.


Kemudian, dia mengajak kakaknya untuk segera menuju rumah sakit. Alhasil, Anggie tidak diantar pulang oleh Echa melainkan oleh dua pengawal yang sudah Echa perintah untuk menjaga Anggie. Ada rasa kecewa di hatinya. Namun, dia juga harus sadar bahwa Iyan sangat kecewa kepadanya.


Tibanya di rumah sakit, Iyan sedikit berlari menuju kamar di mana Beeya dirawat. Dia takut terjadi apa-apa dengan Beeya. Tangannya sudah menekan gagang pintu dan hembusan napas lega keluar dari mulutnya. Senyum merekah tatkala mata Beeya dan Iyan bertemu.


"Chagiya." (Sayang)


...****************...


Komen dong ....

__ADS_1


__ADS_2